Kalau lo ngomongin event kesenian lokal yang punya daya ledak sampai ke level nasional, nama Tubaba Art Festival (TAF) wajib banget masuk daftar elit. Rekam jejak mereka jelas bukan main-main. Bayangin aja, TAF sukses bertengger di daftar Top 110 Karisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf selama empat tahun berturut-turut. Logika warasnya, ekosistem sekeren ini pasti dianakemaskan oleh bupati dan dinas pariwisata setempat. Tapi realitanya, birokrasi kita emang sering kali punya selera humor yang gelep.
Masuk ke edisi ke-10 yang dijadwalkan mentas pada 7 November 2026, kawan-kawan dari Sekolah Seni Tubaba harus nelan kenyataan yang super pahit. TAF tahun ini sama sekali enggak mendapat dukungan pendanaan dari Pemkab Tulang Bawang Barat (Tubaba). Ini jelas sebuah ironi struktural yang memalukan.
Efek dari matinya peran negara di tingkat lokal ini lumayan bikin berdarah-darah. Jadwal festival sempat molor dua kali, dan format acaranya terpaksa dipangkas habis dari dua hari menjadi One Day Festival. Panitia intinya pun menyusut drastis. Berdasarkan info terbaru yang gue dapet, kini panitia TAF cuma tersisa 3 orang gara-gara dampak buruk 8 bulan belum gajian. Ironisnya, keputusan pemda justru memberikan dana hibah miliaran untuk olahraga dan pramuka.
Dan yang paling bikin dada sesak, TAF 10 dipastikan bakal jadi panggung penutup sekaligus penanda bubarnya operasional Sekolah Seni Tubaba yang udah sepuluh tahun mendidik anak-anak desa sana secara gratis. Tapi, skena independen selalu punya cara elegan buat ngerespons arogansi penguasa. Penyelenggara nolak buat buang waktu ngemis dana hibah. Mereka ngambil manuver radikal dengan ngebuka jalur independen lewat kampanye penggalangan dana publik terbuka bernama “Sahabat Tubaba”. Bawa gagasan “Semua Penonton adalah Sponsor“, sebenernya inisiatif ini adalah tamparan keras buat elit pemerintahan.






Seolah mau ngasih plot twist paling epik, ruang kebudayaan yang dicuekin bupatinya ini justru sukses ngerakit kolaborasi line-up maut. Panggung Ulluan Nughik nanti bakal dihajar habis-habisan sama trio metal progresif kebanggaan Indonesia, Voice of Baceprot (VoB). Kehadiran Firda Marsya dan kawan-kawan yang selalu bawa narasi perlawanan bakal jadi simbol paling badass buat merayakan kemerdekaan berekspresi di Tubaba. Nggak berhenti di distorsi metal, panggung TAF 10 juga bakal dipanasin sama yang punya owner Namoy Budaya, seorang figur kreatif, dan DJ, pegiat musik reggae di Indonesia yang dikenal dengan konsep Canda Tawa Only yang berasal dari Lampung yang siap ngeracik kultur Jamaican sound dengan beat elektronik.
Buat kawan-kawan semua, ini panggilan terbuka. Mari support TAF 10! Selain donasi yang diperpanjang sampai 1 November (cek link di bio), mereka juga lagi buka pendaftaran Relawan (Volunteer) dari tanggal 18-25 Oktober 2026. Ada banyak posisi yang dibutuhin, mulai dari Stage Manager, Kru Pentas, LO, sampai Logistik dan Keamanan. Syaratnya gampang: WNI usia 18-26 tahun, sehat, bisa motoran, dan bersedia tinggal di Tubaba kalau dari luar kota. Gasin daftar di Volunteer TAF10 dan buktikan solidaritas kita!
Informasi lebih lanjut, bisa DM langsung melalui instagram @sekolahsenitubaba atau @tubabaartfestival














