Tubaba Art Festival TAF 10 Tubaba: Panggung Pamungkas yang Dikibulin Birokrasi, Diselamatin Solidaritas Sipil

Panggung Pamungkas TAF 10: Diakui Nasional, Dianaktirikan di Rumah Sendiri

Status elit Karisma Event Nusantara ternyata enggak cukup buat ngetuk pintu hati birokrasi. Sekarang, napas terakhir Tubaba Art Festival murni ada di tangan publik.
Words by:
17.10.2026

Kalau ada satu festival lokal yang konsisten ngebawa nama daerahnya ke level nasional, Tubaba Art Festival (TAF) jelas ada di urutan teratas. Bayangin aja, event ini sukses masuk Karisma Event Nusantara (KEN) selama empat tahun berturut-turut! Logikanya, festival selevel ini pasti dapet perlakuan spesial dan sokongan penuh dari pemerintah daerahnya. Tapi realitanya? Zonk.

Buat TAF ke-10 yang bakal digelar pada 7 November 2026 mendatang, kawan-kawan penyelenggara dari Sekolah Seni Tubaba harus nelan pil pahit karena tidak mendapat dukungan sama sekali dari Pemkab Tubaba.

Lucu enggak sih? Di tahun-tahun sebelumnya, festival ini sering banget dilabeli sebagai kebanggaan daerah. Dijadikan showcase buat narik wisatawan dan ngegerakin ekonomi lokal. Tapi giliran sekarang lagi butuh napas panjang buat mengeksekusi edisi ke-10, support pemerintahnya malah menguap. Klaim kebanggaan sana-sini gampang, tapi giliran ngomongin modal nyata buat ngehidupin ekosistem seni yang udah bertahun-tahun mendidik anak-anak Tubaba, tiba-tiba pada lupa ingatan.

Dampaknya lumayan berasa. Jadwal TAF 10 udah bergeser dua kali gara-gara urusan pendanaan. Dari yang niatnya Agustus, mundur ke Oktober, sampai akhirnya harus disepakati di bulan November. Format acara yang tadinya chill dua hari juga terpaksa dipangkas dan dipadatkan jadi One Day Festival.

Dan yang paling bikin nyesek: TAF 10 bakal jadi edisi terakhir. Setelah panggung ini selesai direalisasikan, sepuluh tahun perjalanan pendidikan seni buat anak dan remaja di Tubaba juga bakal ikutan tutup buku. Tema yang diusung tahun ini adalah Tatapan Baru / Tindakan Baru, tapi tragisnya ini sekaligus jadi momentum buat bertemu untuk terakhir kalinya.

Tapi tenang, pergerakan sipil selalu punya cara.

Pas pemdanya absen, publik yang akhirnya ngambil alih panggung. Sekolah Seni Tubaba memutuskan buat jalan terus dengan ngebuka jalur penggalangan dana lewat gerakan Sahabat Tubaba. Mereka bawa tagline “Semua Penonton adalah Sponsor“.

Ini bukan cuma donasi, tapi sebuah statement kalo ruang kebudayaan yang inklusif itu tetep bisa hidup tanpa harus terus-terusan ngemis ke birokrat. Lo semua bisa langsung milih tipe sponsor dengan nominal yang super reasonable. Cukup sisihin Rp50.000, Rp75.000, Rp100.000, atau mentok di Rp215.000.

Kabar baiknya, periode donasi yang awalnya dijadwalkan beres di pertengahan Oktober kini resmi diperpanjang sampai 1 November 2026! Dan ini enggak cuma searah, karena donatur yang beruntung punya kesempatan buat dapetin karya seni senilai 5 juta rupiah plus kamar hotel gratis pada malam puncak festival!

Daripada kita cuma misuh-misuh ngeliat minimnya apresiasi dan support dari pemda, mending kita turun tangan langsung ngebantu patungan. Bikin edisi terakhir TAF ini jadi perayaan yang pecah abis dan ngebuktiin kalau skena seni lokal tetep bisa ngasih perlawanan estetik meski lagi dicuekin pemerintah.

Yuk, sikat donasinya, amankan tanggalnya, dan mari rayakan ekosistem kebudayaan ini!

Buat kawan-kawan semua, ini panggilan terbuka. Mari support TAF 10! Selain donasi yang diperpanjang sampai 1 November, mereka juga lagi buka pendaftaran Relawan (Volunteer) dari tanggal 18-25 Oktober 2026. Ada banyak posisi yang dibutuhin, mulai dari Stage Manager, Kru Pentas, LO, sampai Logistik dan Keamanan. Syaratnya gampang: WNI usia 18-26 tahun, sehat, bisa motoran, dan bersedia tinggal di Tubaba kalau dari luar kota. Gasin daftar di Volunteer TAF10!

Informasi lebih lanjut, bisa DM langsung melalui instagram @sekolahsenitubaba atau @tubabaartfestival