Pencak Silat di SEA Games 2025 Berubah Menjadi Arena Kerusuhan karena Keputusan Kontroversial Wasit

17.12.2025
Pencak Silat di SEA Games 2025 Berubah Menjadi Arena Kerusuhan karena Keputusan Kontroversial Wasit
Pencak Silat di SEA Games 2025 Berubah Menjadi Arena Kerusuhan karena Keputusan Kontroversial Wasit

Kekalahan kontroversial tim Pencak Silat Malaysia dari tuan rumah Thailand di SEA Games 2025 mengubah arena menjadi sarang kekerasan.

Pertandingan pencak silat kelas B putri (50–55 kg) antara Nor Farah Mazlan dan Jongtima Ruenthong pada, Selasa 16 Desember 2025, berakhir imbang 60-60 di Impact Arena, Muang Thong Thani. Sesuai aturan, wasit menerapkan kriteria tie-breaker berdasarkan jumlah pelanggaran teknis, sehingga memberikan kemenangan kepada petarung Thailand.

Keputusan ini langsung menuai reaksi keras dari tim Malaysia, yang berpendapat bahwa Nor Farah adalah pemain yang lebih proaktif dan efektif sepanjang pertandingan.

Kontroversi soal pemberian skor bukanlah hal yang jarang terjadi dalam seni bela diri. Pencak Silat sangat sensitif karena tingkat subjektivitasnya yang tinggi, karena skor tidak hanya mencerminkan ketepatan pukulan tetapi juga situasi keseluruhan, teknik, kontrol, dan bahkan pelanggaran. Karakteristik unik ini membuat setiap keputusan mudah dipicu oleh rasa tidak senang, terutama dalam konteks konfrontasi antara tim tuan rumah dan tim tamu.

Namun, masalah dalam pertandingan ini bukanlah perdebatan teknis, melainkan reaksi yang terjadi setelahnya. Ketika keluhan verbal dari pelatih kepala Siti Rahmah Mohamed Nasir dan staf pelatih tidak diterima, beberapa anggota tim Malaysia menyerang wasit dan panitia penyelenggara.

Pasukan keamanan dan polisi harus turun tangan untuk menstabilkan situasi, menyebabkan penghentian sementara pertandingan sebelum dilanjutkan. Skor akhir tetap tidak berubah.

Sejak saat itu, cerita tersebut bukan lagi tentang menang atau kalah. Kekerasan di dalam ring benar-benar menutupi makna kompetisi, menjerumuskan Pencak Silat, seni bela diri yang terkait dengan semangat kesatria Asia Tenggara, ke dalam momen yang menyedihkan.

Frustrasi yang dirasakan oleh atlet dan pelatih ketika mereka gagal dengan cara yang tidak dapat diterima seperti itu memang tidak dapat disangkal. Tetapi olahraga elit selalu menuntut pengendalian emosi. Memprotes wasit adalah hak, tetapi menyerang wasit dan penyelenggara adalah perilaku yang melampaui semua batasan dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

Pelajaran Bagi Para Penyelenggara

Insiden ini juga menimbulkan pertanyaan serius tentang pengelolaan seni bela diri di SEA Games. Transparansi dalam penilaian, interpretasi keputusan, dan mekanisme untuk menerima pengaduan jelas tidak cukup meyakinkan. Ketika keluhan menumpuk tanpa saluran penyelesaian yang efektif, satu keputusan kontroversial dapat dengan mudah membuat keadaan menjadi di luar kendali.

Namun, perlu ditegaskan: semua kekurangan wasit tidak dapat menutupi tanggung jawab tim Malaysia dalam insiden ini. Pelatih dan atlet, sebagai perwakilan nasional, harus memahami bahwa setiap tindakan yang mereka ambil bersifat simbolis. Perkelahian di atas matras tidak hanya merusak citra individu tetapi juga secara langsung memengaruhi reputasi seluruh delegasi olahraga.

Dari perspektif panitia penyelenggara SEA Games 33 , ini adalah peringatan serius. Disiplin bela diri membutuhkan persiapan keamanan yang lebih menyeluruh, terutama dalam pertandingan sensitif antara negara tuan rumah dan rival langsung. Lebih penting lagi, proses untuk menjelaskan dan menangani pengaduan harus jelas dan cukup cepat untuk mencegah peningkatan ketegangan di arena kompetisi.

SEA Games adalah ajang olahraga regional di mana solidaritas dan saling menghormati harus menjadi prioritas utama. Adegan kacau di Impact Arena bertentangan dengan nilai-nilai ini, menyeret turnamen kembali ke kontroversi yang sudah biasa terjadi: kecurigaan terhadap kesalahan wasit, perasaan diperlakukan tidak adil, dan reaksi emosional.

Pencak Silat dibangun di atas fondasi seni bela diri, di mana kekuatan selalu berjalan beriringan dengan pengendalian diri. Ketika semangat itu hancur, kegagalan bukan hanya milik tim yang kalah. Itu adalah kegagalan kolektif dari organisasi, dari semangat kompetitif, dan dari citra SEA Games itu sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah tim mana yang memenangkan pertandingan, tetapi pelajaran apa yang akan dipetik SEA Games untuk mencegah insiden serupa terjadi lagi. Tanpa perubahan signifikan, garis antara debat profesional dan kekerasan di lapangan akan terus kabur, meninggalkan noda abadi pada olahraga Asia Tenggara.

Scr/Mashable




Don't Miss