SEA Games 2025 berakhir dengan perolehan medali yang gemilang, tetapi kritik terang-terangan yang dilayangkan terhadap sepak bola dan bulu tangkis mengungkap masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar menang atau kalah.
Dengan 52 medali emas, Singapura mencatatkan kesuksesan terbesar ketiga dalam sejarah SEA Games di luar negeri. Angka tersebut cukup untuk menciptakan rasa aman, cukup untuk mengatakan bahwa SEA Games telah “mencapai targetnya.” Namun, tepat pada upacara penutupan di Bangkok, para pemimpin olahraga Singapura menghancurkan suasana optimis tersebut. Sepak bola dan bulu tangkis disorot, tanpa bertele-tele atau menghindari masalah. Ini bukanlah teguran emosional, melainkan diagnosis yang dingin dan tepat mengenai sistem tersebut.
Ungkapan “lebih rendah dalam kekuatan fisik, kecepatan, dan daya tahan,” yang digunakan oleh Sekretaris Jenderal Dewan Olimpiade Nasional Singapura, Mark Chay, untuk menggambarkan tim sepak bola U22, terdengar seperti sindiran langsung terhadap kenyataan. Lebih penting lagi, ia menekankan bahwa itu bukan masalah bakat atau keterampilan. Ketika seorang pemimpin olahraga mengatakan itu di depan umum, pesannya jelas: akar masalahnya terletak pada cara sepak bola dimainkan, bukan pada kaki para pemain.
Sepak bola: Kegagalan Bukan Lagi Sebuah Kebetulan
Timnas U22 Singapura kalah dalam kedua pertandingan babak penyisihan grup, finis terakhir di grup mereka dan tersingkir dari SEA Games sejak awal. Ini terjadi untuk keenam kalinya secara berturut-turut. Jika kita menyebutnya kecelakaan, maka kecelakaan ini telah berlangsung selama hampir dua dekade. Kalah dari Timor-Leste atau Thailand bukan hanya kalah dalam satu pertandingan, tetapi kalah dalam seluruh proses persiapan, kalah dalam hal fondasi fisik, kecepatan, dan mentalitas kompetitif.
Rasa pahit itu terletak pada kenyataan bahwa tim tersebut hanya lolos ke SEA Games setelah melakukan protes. Mereka memasuki turnamen dengan perasaan “diberi kesempatan,” tetapi meninggalkannya dalam keadaan yang kurang memuaskan. Detail yang tampaknya sepele, seperti para pemain meninggalkan lapangan tanpa menyapa penggemar, justru dianggap serius oleh para pemimpin olahraga. Karena ketika kegagalan berkepanjangan, sikap akan mudah mencerminkan kelelahan dan keputusasaan.
Mark Chay menyatakan dengan lugas: jika Anda tidak mengakui masalahnya, maka penyangkalan itu sendiri adalah bagian dari masalah. Semua orang mengerti siapa yang menjadi sasaran pernyataan ini. Sepak bola Singapura telah berjuang selama bertahun-tahun antara slogan-slogan reformasi dan kenyataan suram di lapangan. Proyek “Unleash the Roar!” (UTR) sering dikutip sebagai penjelasan yang sudah umum: bersabarlah, karena reformasi membutuhkan waktu.
Namun kesabaran ada batasnya. Ketika bahkan para administrator mengakui bahwa generasi pemain yang akan sepenuhnya mendapat manfaat dari “UTR” (Gelar Universal) tidak akan muncul hingga SEA Games 2031 atau 2033, itu berarti Singapura menerima lebih banyak SEA Games di mana sepak bola hanya memainkan peran pendukung. Di wilayah di mana sepak bola semakin menjadi simbol, itu adalah harga yang signifikan untuk dibayar.
Bulu Tangkis: Sebuah Masa Tenang yang Mengkhawatirkan dalam Olahraga yang Dulunya Populer
Meskipun tidak setenar sepak bola, bulu tangkis Singapura juga berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Hanya dua medali perunggu dalam ajang beregu merupakan hasil yang sangat mengecewakan untuk olahraga yang pernah memegang posisi kuat di Asia Tenggara. Presiden asosiasi bulu tangkis mengakui bahwa tim tersebut tidak memenuhi harapan, dan pengakuan ini diperlukan.
Tersingkirnya Loh Kean Yew di perempat final, tersingkirnya Jason Teh di babak awal, dan absennya Yeo Jia Min karena cedera menyoroti kerapuhan skuad. Ketika pemain kunci mengalami masalah atau cedera, Singapura hampir tidak memiliki pengganti yang mumpuni. Ini adalah tanda dari sistem pelatihan yang dangkal, bukan kesalahan yang terjadi secara acak.
Jika membandingkan sepak bola dan bulu tangkis, kesamaan yang paling jelas adalah posisi mereka yang tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain. Ini bukan karena Singapura kekurangan uang atau sumber daya, tetapi karena proses membangun timnya belum menciptakan siklus suksesi yang cukup kuat.
Sementara itu, paradoksnya terletak pada kesuksesan cabang olahraga lainnya. Renang membawa pulang 19 medali emas, anggar mencetak rekor dengan 8 medali emas, dan layar serta tenis meja juga memberikan kontribusi yang signifikan. Hampir 60% atlet adalah peserta SEA Games untuk pertama kalinya, menunjukkan bahwa sistem olahraga Singapura tidak kekurangan talenta.
Masalahnya adalah cabang olahraga paling ikonik, yang menarik perhatian publik terbesar, sedang mengalami penurunan. Meskipun 52 medali emas mungkin memberikan kepuasan keseluruhan bagi Singapura, hal itu tidak dapat menutupi fakta bahwa sepak bola dan bulu tangkis tertinggal dalam persaingan regional.
Ketika para pemimpin olahraga secara terbuka berbicara tentang “masalah sistemik,” itu bukan lagi kritik yang terisolasi, melainkan peringatan serius: lakukan reformasi menyeluruh, atau terima kenyataan akan tersisih dari kompetisi besar Asia Tenggara, meskipun tabel medali masih berkilauan dengan medali.
Scr/Mashable
















