Sejarah Lazio: Kisah Tragis Elang Romawi

12.01.2026
Sejarah Lazio: Kisah Tragis Elang Romawi
Sejarah Lazio: Kisah Tragis Elang Romawi

Società Sportiva Lazio, yang biasa dikenal sebagai SS Lazio, bukan hanya sebuah klub sepak bola tetapi juga ikon olahraga tertua di Roma, Italia.

Setelah melewati lebih dari satu abad pasang surut, dengan puncak kejayaan dan periode krisis yang hampir menyebabkan kehancuran, Lazio telah membangun identitas yang khas dan membanggakan, seperti elang yang tergambar pada logo tim.

Fase Pembentukan dan Langkah-langkah Awal (1900 – 1920)

Sejarah Lazio dimulai pada tanggal 9 Januari 1900, di Piazza della Liberta, di distrik Prati, Roma. Sekelompok sembilan teman muda, dipimpin oleh letnan tentara Luigi Bigiarelli, memutuskan untuk membentuk sebuah asosiasi olahraga bernama Società Podistica Lazio .

Tujuan awal kelompok ini bukan hanya sepak bola, tetapi klub multi-olahraga yang dapat diikuti oleh semua warga Roma. Nama “Lazio” dipilih berdasarkan wilayah Lazio (Latium) yang mengelilingi Roma, untuk menekankan kedudukannya di luar batas kota.

Warna utama klub ini adalah biru dan putih, terinspirasi oleh bendera Yunani, tempat kelahiran gerakan Olimpiade kuno, yang mewakili semangat sportivitas yang mulia.

Divisi sepak bola Lazio secara resmi didirikan pada tahun 1901. Pada tahun-tahun awalnya, Lazio meraih kesuksesan yang cukup besar di tingkat regional.

Mereka adalah tim pertama dari Roma yang berpartisipasi dalam turnamen nasional dan dengan cepat memantapkan diri sebagai tim terkuat di Italia bagian selatan-tengah. Lazio mencapai tiga final kejuaraan nasional (pada tahun 1913, 1914, dan 1923), meskipun mereka kalah dari tim-tim kuat dari Utara setiap kali, hal ini meletakkan fondasi yang kokoh untuk masa depan.

Era Silvio Piola dan Kebangkitannya (1930–1945)

Ketika Serie A secara resmi didirikan sebagai liga sistem round-robin pada tahun 1929, Lazio adalah salah satu anggota pendirinya. Namun, titik balik terbesar di era sebelum Perang Dunia II adalah kedatangan Silvio Piola.

Bergabung dengan Lazio pada tahun 1934 dari Pro Vercelli, Piola menjadi salah satu pencetak gol terhebat dalam sejarah Serie A dan ikon Lazio. Di bawah kepemimpinannya, Lazio meraih posisi kedua pada tahun 1937, pencapaian terbaik mereka sebelum Perang Dunia II.

Piola mencetak total 143 gol untuk Lazio dalam 227 pertandingan. Pengaruhnya begitu besar sehingga ia masih memegang rekor pencetak gol terbanyak Serie A hingga saat ini (274 gol).

Selama periode ini, Lazio juga mulai berpartisipasi dalam turnamen internasional awal seperti Piala Mitropa, di mana mereka mencapai final pada tahun 1937. Meskipun gelar-gelar besar belum diraih, Lazio telah membangun citra sebagai tim dengan gaya permainan menyerang yang flamboyan.

Dekade yang Penuh Gejolak dan Gelar Pertama (1950-1960)

Setelah perang, Lazio mengalami banyak gejolak. Tim ini seringkali finis di tengah klasemen Serie A. Namun, tahun 1958 menandai tonggak sejarah ketika Lazio memenangkan gelar utama pertama mereka: Coppa Italia .

Di bawah bimbingan pelatih Fulvio Bernardini, Lazio mengalahkan Fiorentina di final untuk merebut gelar juara. Ini merupakan penghiburan besar bagi para penggemar setelah bertahun-tahun menunggu.

Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung singkat. Pada tahun 1961, Lazio terdegradasi ke Serie B untuk pertama kalinya. Meskipun cepat promosi, klub tersebut tetap terperangkap dalam ketidakstabilan keuangan dan performa sepanjang tahun 1960-an.

Scudetto Pertama (1974)

Awal tahun 1970-an menyaksikan kebangkitan paling ajaib dalam sejarah Lazio. Setelah promosi pada tahun 1972, pelatih Tommaso Maestrelli membentuk tim yang terdiri dari individu-individu kuat dan agak “gila” menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Skuad tahun itu termasuk nama-nama seperti Giorgio Chinaglia, Giuseppe Wilson, Luciano Re Cecconi, dan Felice Pulici. Mereka dikenal sebagai “Lazio delle Pistole” (Lazio si pemilik senjata) karena para pemain sering membawa senjata dan memiliki gaya hidup yang sangat bebas, bahkan menyebabkan perpecahan internal yang dalam di ruang ganti, tetapi sangat kompak di lapangan.

Pada tahun 1973, mereka hampir memenangkan Scudetto, kalah di pertandingan terakhir. Tetapi di musim 1973-1974, tidak ada yang bisa menghentikan “Elang”. Dengan 24 gol dari striker bintang mereka, Giorgio Chinaglia, Lazio secara resmi mengamankan gelar Serie A pertama mereka dalam sejarah setelah kemenangan melawan Foggia di stadion Olimpico.

Namun, kejayaan datang bersama tragedi. Hanya dua tahun kemudian, pelatih Maestrelli meninggal karena kanker paru-paru. Pada tahun 1977, gelandang kunci Luciano Re Cecconi ditembak mati dalam sebuah kesalahpahaman di toko perhiasan. Kehilangan-kehilangan ini menjerumuskan Lazio ke dalam krisis yang mendalam.

Zaman Kegelapan dan Perjuangan untuk Bertahan Hidup (1980-1990)

Dekade 1980-an merupakan periode tergelap bagi Tifosi Lazio. Pada tahun 1980, Lazio terdegradasi ke Serie B karena keterlibatan mereka dalam skandal pengaturan pertandingan Totonero. Butuh tiga musim bagi tim tersebut untuk kembali ke Serie A , tetapi mereka terdegradasi lagi pada tahun 1985.

Puncak kesulitan mereka terjadi selama musim Serie B 1986-1987. Lazio dikurangi 9 poin (jumlah yang sangat besar pada saat itu) karena skandal taruhan lainnya.

Mereka harus menjalani play-off degradasi yang dramatis. Gol bersejarah Giuliano Fiorini melawan Vicenza di menit-menit terakhir menyelamatkan Lazio dari bencana degradasi ke Serie C, yang bisa saja menyebabkan pembubaran klub. Momen itu masih dikenang oleh para penggemar Lazio sebagai sebuah penyelamatan yang luar biasa.

Era Sergio Cragnotti: Zaman Keemasan yang Gemilang (1992 – 2002)

Nasib Lazio mulai berubah pada tahun 1992 ketika pengusaha Sergio Cragnotti membeli klub tersebut. Dengan sumber daya keuangan yang kuat dari grup makanan Cirio, Cragnotti mengubah Lazio menjadi kekuatan global.

Dia secara konsisten memecahkan rekor transfer untuk mendatangkan superstar dunia seperti Paul Gascoigne, Juan Sebastian Veron, Christian Vieri (dengan biaya transfer yang saat itu memecahkan rekor dunia), Hernan Crespo, Marcelo Salas, Pavel Nedved, dan kapten legendaris Alessandro Nesta.

Di bawah bimbingan pelatih Sven-Goran Eriksson, Lazio mengalami periode paling suksesnya:

1998: Memenangkan Coppa Italia dan Piala Super Italia.

Pada tahun 1999: Mereka memenangkan gelar Piala Winners UEFA (Piala C2) terakhir dalam sejarah mereka setelah mengalahkan Mallorca. Kemudian mereka mengalahkan Manchester United yang perkasa untuk memenangkan Piala Super UEFA.

2000: Tahun paling gemilang. Lazio memenangkan gelar ganda domestik (Scudetto dan Coppa Italia) tepat pada ulang tahun ke-100 klub. Kejuaraan Serie A tahun itu sangat dramatis, dengan Lazio mengalahkan Juventus di pertandingan terakhir di tengah hujan deras di Perugia.

Saat itu, Lazio dianggap sebagai salah satu dari “Tujuh Bersaudari” yang mendominasi sepak bola Italia dan salah satu tim terkuat di planet ini.

Krisis Keuangan dan Munculnya Claudio Lotito (2004 – Sekarang)

Pengeluaran berlebihan ditambah dengan runtuhnya grup Cirio menjerumuskan Lazio ke dalam krisis keuangan yang parah pada tahun 2002. Klub tersebut menghadapi risiko kebangkrutan, dan bintang-bintang besar seperti Nesta dan Crespo terpaksa pergi untuk melunasi utang.

Pada tahun 2004, pengusaha Claudio Lotito mengakuisisi klub tersebut ketika klub itu terlilit hutang besar (hingga €140 juta dalam bentuk pajak). Lotito menerapkan langkah-langkah penghematan, memprioritaskan stabilitas keuangan daripada menghabiskan uang secara berlebihan untuk pemain bintang. Meskipun gaya manajemennya sering kontroversial di kalangan penggemar, tidak dapat disangkal bahwa Lotito telah menyelamatkan Lazio.

Di bawah kepemimpinan Lotito, Lazio mempertahankan posisinya sebagai tim papan atas di Italia, memenangkan Coppa Italia pada tahun 2009, 2013, dan 2019.

Secara khusus, kemenangan 1-0 melawan rival abadi AS Roma di final Coppa Italia 2013 dianggap sebagai salah satu momen paling membanggakan bagi para penggemar Lazio. Lazio juga secara rutin berpartisipasi di Liga Champions UEFA dan Liga Europa .

Antara tahun 2016 dan 2021, di bawah pelatih Simone Inzaghi, Lazio menampilkan gaya menyerang yang berapi-api, memenangkan satu lagi Coppa Italia dan dua Piala Super Italia, serta memiliki striker Ciro Immobile, yang memecahkan rekor gol Silvio Piola untuk menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub.

Identitas, Budaya, dan Simbol

Lambang Lazio adalah elang (Aquila), yang dipilih oleh pendirinya, Luigi Bigiarelli. Lambang ini melambangkan kekuatan, kebebasan, dan mengingatkan pada legiun Romawi kuno. Sejak tahun 2010, sebelum setiap pertandingan kandang, seekor elang asli bernama Olimpia terbang mengelilingi stadion Olimpico sebelum mendarat di logo tim, menciptakan pemandangan yang megah.

Derby della Capitale

Derby Roma antara Lazio dan AS Roma adalah salah satu pertandingan paling intens dan sengit di dunia. Ini bukan hanya tentang sepak bola; ini juga merupakan benturan budaya, sejarah, dan kebanggaan. Para penggemar Lazio biasanya berkumpul di tribun utara (Curva Nord) stadion Olimpico, yang terkenal dengan sorakan tifo mereka yang semarak dan penuh semangat.

Legenda Klub

Silvio Piola: Pencetak gol terhebat dalam sejarah sepak bola Italia, yang menentukan status Lazio di tahun-tahun awal Serie A.

Giorgio Chinaglia: “Long John” – jiwa dari kejuaraan tahun 1974, kepribadian pemberontak dan idola terbesar generasi lama.

Giuseppe Wilson: Seorang kapten teladan selama periode memenangkan Scudetto pertama.

Alessandro Nesta: Salah satu bek tengah terbaik dalam sejarah sepak bola dunia, produk akademi muda Lazio dan kapten selama era keemasan mereka di tahun 2000-an.

Pavel Nedved: Nedved bersinar terang di Lazio sebelum pindah ke Juventus.

Ciro Immobile: Pemain yang memecahkan setiap rekor pencetak gol klub, memenangkan 4 gelar pencetak gol terbanyak Serie A (Capocannoniere) dan Sepatu Emas Eropa 2020 saat bermain untuk Lazio.

Visi dan Masa Depan

Saat ini, di bawah bimbingan pelatih modern seperti Maurizio Sarri, Lazio berupaya mempertahankan daya saingnya di grup kualifikasi Liga Champions. Meskipun mereka tidak memiliki anggaran besar seperti Milan atau Juventus, dengan sistem pencarian bakat yang cerdas dan stabilitas di bawah Lotito, Lazio tetap menjadi lawan yang tangguh dan kekuatan yang patut diperhitungkan.

Klub ini juga sedang mengembangkan proyek untuk membangun stadion sendiri agar tidak lagi berbagi stadion Olimpico dengan AS Roma, guna meningkatkan pendapatan dan memperkuat identitasnya sendiri.

Seri A (2): 1973–74, 1999–00.

Coppa Italia (7): 1958, 1997–98, 1999–00, 2003–04, 2008–09, 2012–13, 2018–19.

Supercoppa Italiana (5): 1998, 2000, 2009, 2017, 2019.

Piala Winners UEFA (1): 1998–99.

Piala Super UEFA (1): 1999.

Seri B (1): 1968–69.

Sejarah SS Lazio adalah kisah epik yang dipenuhi dengan beragam emosi. Dari masa-masa awal mereka di Piazza della Libertà hingga malam-malam ajaib di Eropa, Lazio telah membuktikan bahwa mereka tidak pernah menyerah.

Meskipun menghadapi kesulitan keuangan atau skandal yang mengejutkan, “Elang” selalu tahu bagaimana bangkit kembali dan melambung tinggi di langit sepak bola Italia. Dengan fondasi sejarah yang kokoh dan basis penggemar yang loyal, Lazio pasti akan menulis lebih banyak babak gemilang di masa depannya.

Sejarah SS Lazio adalah perjalanan yang membanggakan dan penuh semangat bagi klub tertua di Roma. Selama lebih dari 120 tahun, dari masa-masa awalnya di Piazza della Libertà hingga puncak kejayaannya dengan dua gelar Scudetto (1974, 2000) dan kejuaraan Eropa, “Elang” telah memantapkan diri sebagai kekuatan yang tak terpisahkan dalam sepak bola Italia.

Pada musim 2024/25, Lazio finis di posisi ke-7 setelah 38 pekan. Meskipun skuad Lazio tidak memiliki banyak superstar papan atas, mereka tetap tangguh dengan pemain seperti Alessio Romagnoli dan Matteo Guendouzi.

Scr/Mashable




Don't Miss