Lee de Forest

13 Januari 1910: Hari Ketika Suara Enrico Caruso Melayang di Udara New York (dan Mengubah Dunia)

Sebelum ada Spotify, ada Lee de Forest dan kabel mic yang digantung di panggung opera.
13.01.2026

Bayangin aja dulu, New York tahun 1910. Belum ada internet, belum ada TV, dan nirkabel cuma dipake buat kirim kode morse titik-garis yang ngebosenin. Tapi, pada malam 13 Januari 1910, kesunyian itu pecah.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, pertunjukan musik live dipancarkan lewat gelombang radio ke publik. Otak di balik kegilaan ini adalah Lee de Forest, penemu yang sering dijuluki (kadang dengan perdebatan) sebagai “Bapak Radio”.

PANGGUNG MEGAH DAN EKSPERIMEN NEKAT

Lokasinya enggak main-main: Metropolitan Opera House. De Forest punya ambisi liar buat ngebawa kemewahan opera ke telinga orang biasa yang enggak mampu beli tiket mahal.

Dia memasang pemancar 500 watt dan menggantung mikrofon (yang saat itu masih teknologi jadul banget) di atas panggung dan di sayap panggung.

Bintang utamanya? Tenor legendaris Enrico Caruso. Malam itu, Caruso memerankan Canio dalam opera Pagliacci, dan soprano Emmy Destinn tampil dalam Cavalleria Rusticana.

SIAPA YANG DENGERIN?

Karena radio belum jadi barang rumahan, pendengarnya terbatas tapi tersebar di lokasi-lokasi strategis. De Forest nyediain receiver (penerima sinyal) buat wartawan dan tamu di De Forest Radio Laboratory, di beberapa hotel sekitar Times Square, sampai ke kapal-kapal yang lagi sandar di Pelabuhan New York, kayak kapal SS Avon.

Bahkan, ada laporan kalau sinyalnya ketangkep samar-samar sampai ke Bridgeport, Connecticut, yang jaraknya lumayan jauh.

REALITA: SUARA KRESEK-KRESEK YANG MAHAL

kualitas suaranya busuk kalau dibandingin standar sekarang. Mikrofonnya nangkep suara panggung, tapi juga nangkep noise statis, gangguan sinyal, dan suara aneh dari frekuensi lain.

Banyak pendengar di kapal bilang kalau suara Caruso kedengeran timbul-tenggelam di antara ombak statis. De Forest sendiri kemudian ngaku kalau teknologi saat itu emang belum 100% siap buat musik high-fidelity. Tapi poinnya bukan di jernihnya suara, melainkan di pembuktian konsep: Suara manusia dan musik BISA dikirim lewat udara.

Malam itu mengubah segalanya. Dari sekadar alat kirim sandi morse, radio berevolusi jadi media hiburan massal. Tanpa kenekatan De Forest malam itu, mungkin kita enggak bakal punya radio FM, podcast, atau streaming musik hari ini.