Arsenal telah menambahkan Thomas Gronnemark, mantan pelatih lemparan ke dalam di Liverpool, ke staf kepelatihan mereka untuk sisa musim ini.
Gronnemark pernah mencetak rekor dunia dengan lemparan ke dalam sejauh 51,33 meter dan membantu Andy Robertson meningkatkan jarak lemparannya dari 19 meter menjadi 27 meter di Liverpool. Kesuksesan yang diraih Jurgen Klopp di Liverpool antara tahun 2018 dan 2023 tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuan asistennya, Gronnemark.
Arsenal, yang sudah kuat dalam situasi bola mati, memutuskan untuk mendatangkan spesialis top lainnya di area ini, yang menunjukkan ambisi manajer Mikel Arteta. Sejak awal musim, Arsenal telah mencetak 14 gol dari bola mati, terbanyak di Inggris.
Gronnemark sebelumnya adalah anggota tim nasional seluncur es Denmark, tetapi ia juga pernah memegang rekor dunia untuk lemparan ke dalam terjauh (51,33 m). Itulah mengapa Klopp mengundangnya untuk menjadi asistennya. Sejak Gronnemark bergabung dengan Liverpool sebagai asisten, “The Kop” telah secara signifikan meningkatkan kemampuan lemparan ke dalam mereka.
Saat bekerja di Jerman, Gronnemark juga mengungkapkan bahwa ia membantu bek Borussia Mönchengladbach, Andreas Poulsen, mengembangkan kemampuan untuk melakukan lemparan ke dalam dari jarak sejauh 14 meter. Menurut pelatih asal Denmark itu, sebagian besar pemain profesional tidak memiliki lemparan ke dalam yang cerdas. Namun dalam sepak bola modern, lemparan ke dalam menjadi semakin penting.
Apakah Arsenal Asuhan Mikel Arteta Lebih Baik Daripada Skuad The Invicibles di Musim 2003/04?
Arsenal kembali membangkitkan harapan untuk memenangkan Liga Inggris musim ini dan mengingatkan para penggemar akan tim legendaris yang tak terkalahkan pada musim 2003/04.
Arsenal mengalahkan Bournemouth 3-2 dalam pertandingan pekan ke-20 Liga Inggris 2025/2026, Minggu 4 Januari 2026 dini hari WIB. Tim asuhan Mikel Arteta memperkuat posisi mereka di puncak klasemen dan memperluas keunggulan mereka menjadi 6 poin atas Aston Villa yang berada di posisi kedua.
Goal dengan cepat membandingkan performa tim saat ini dengan skuad Arsenal yang tak terkalahkan saat memenangkan Premier League musim 2003/04. Yang menarik, statistik menunjukkan keunggulan Arsenal di bawah manajer Arteta.
Pada titik yang sama di musim tersebut, Arsenal memiliki 2 poin lebih banyak daripada tim mereka yang tak terkalahkan pada musim 2003/04, mencetak 4 gol lebih banyak dan hanya kebobolan 1 gol lebih banyak.
Namun, jalan menuju pencapaian musim bersejarah 2003/04 masih sangat panjang. Arsenal perlu mempertahankan performa tinggi mereka, meraih 42 poin lagi dalam 18 pertandingan tersisa, dan menjaga pertahanan yang solid jika ingin mendekati prestasi tim Arsene Wenger kala itu.
Setelah kemenangan melawan Bournemouth, gelandang Declan Rice menekankan pentingnya tiga poin di tengah jadwal pertandingan yang padat. Memenangkan pertandingan menjelang Natal dipandang sebagai faktor kunci untuk memberikan Arsenal keuntungan signifikan dalam persaingan perebutan gelar jangka panjang.
Pada tanggal 9 Januari 2026, Arsenal menghadapi tantangan besar saat menjamu juara bertahan Liverpool di Stadion Emirates dalam pertandingan putaran ke-21 Liga Inggris.
Laga ini menjadi momentum krusial bagi kedua tim: Arsenal ingin memperkokoh posisi di puncak, sementara Liverpool berusaha menjaga sisa-sisa harapan dalam persaingan gelar.
Memasuki tahun baru dengan semangat tinggi, skuad asuhan Mikel Arteta tampil perkasa di pekan ke-20. Meski sempat tertinggal dari Bournemouth akibat blunder Gabriel Magalhaes, Arsenal berhasil melakukan comeback dramatis 3-2 berkat dua gol Declan Rice. Kemenangan ini, ditambah hasil imbang Manchester City, membuat The Gunners kini unggul enam poin di puncak klasemen.
Kekuatan Arsenal di kandang musim ini sangat mengerikan. Mereka memenangkan 14 dari 15 laga di Emirates di semua kompetisi, termasuk 12 kemenangan beruntun. Jika berhasil mengalahkan Liverpool, Arsenal akan mencatatkan sejarah baru dengan mengalahkan juara bertahan di kandang dalam tiga musim berturut-turut—sebuah pencapaian yang terakhir kali mereka raih pada awal 1960-an.
Kondisi kontras dialami Liverpool. Skuad asuhan Arne Slot datang dengan modal kurang meyakinkan setelah ditahan imbang berturut-turut oleh Leeds United dan Fulham. Hasil 2-2 melawan Fulham pekan lalu terasa sangat menyakitkan karena gol penyeimbang lawan tercipta di menit-menit akhir pertandingan.
Meski Liverpool menang 1-0 atas Arsenal pada pertemuan pertama di Anfield Agustus lalu, rekor tandang mereka ke Emirates belakangan ini kurang memuaskan. Jika kalah dalam laga ini, Liverpool akan tertinggal 17 poin dari Arsenal, sebuah selisih yang hampir mustahil dikejar untuk mempertahankan gelar juara.
Scr/Mashable
















