Industri logistik global sedang memasuki fase transformasi besar, dan FedEx tidak ingin tertinggal dalam perlombaan teknologi ini.
Di bawah kepemimpinan CEO Raj Subramaniam, perusahaan pengiriman raksasa asal Amerika Serikat tersebut mulai serius melirik penggunaan robot humanoid generasi baru untuk menangani pekerjaan kompleks di gudang.
Bukan robot biasa, melainkan “super humanoid” dengan kemampuan gerak ekstra, bahkan dirancang memiliki lebih dari satu siku demi fleksibilitas maksimal.
Dilansir dari webpronews (20/01/26), menurut Subramaniam, tantangan terbesar dalam operasional FedEx bukan sekadar memindahkan barang, tetapi menghadapi keragaman paket yang luar biasa.
Setiap hari, jutaan paket dengan ukuran, berat, dan tingkat kerapuhan yang berbeda harus dimuat dan dibongkar dari truk dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat robot humanoid standar dinilai belum cukup andal untuk menggantikan atau membantu manusia secara efektif.
Dalam berbagai wawancara, Subramaniam menekankan bahwa gudang logistik bukan lingkungan yang “ramah robot”. Paket tidak selalu tersusun rapi, ruang gerak terbatas, dan setiap keputusan membutuhkan adaptasi cepat.
Karena itu, FedEx mulai mengeksplorasi robot dengan derajat kebebasan lebih tinggi, seperti tambahan sendi atau siku, agar mampu meniru kelincahan manusia saat menangani barang yang tidak beraturan.
Langkah ini sejalan dengan tren global di sektor logistik, di mana otomatisasi dan kecerdasan buatan menjadi senjata utama untuk meningkatkan efisiensi. Kompetitor besar seperti Amazon telah mengoperasikan ratusan ribu robot di pusat distribusinya.
Namun, FedEx memilih pendekatan berbeda: bukan sekadar memperbanyak robot, melainkan mengembangkan mesin yang benar-benar mampu menyelesaikan tugas paling rumit di gudang.
Eksperimen FedEx dengan robot sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Pada 2019, perusahaan sempat memperkenalkan robot pengantar beroda untuk pengiriman jarak dekat.
Meski inovatif, teknologi tersebut masih terbatas dan belum mampu menjawab kebutuhan inti di dalam gudang. Kini, fokus FedEx bergeser ke robot humanoid yang bisa bekerja di ruang yang dirancang untuk manusia tanpa perlu renovasi besar.
Selain aspek perangkat keras, FedEx juga mengandalkan kekuatan data. Dengan lebih dari 17 juta pengiriman setiap hari, perusahaan memiliki basis data masif yang digunakan untuk melatih sistem AI.
Data ini membantu memprediksi waktu pengiriman, mengoptimalkan rute, hingga meningkatkan akurasi proses bongkar muat. Kombinasi AI dan robotika diharapkan mampu menekan kesalahan manusia sekaligus mempercepat alur kerja.
Meski begitu, FedEx masih bersikap realistis. Subramaniam mengakui bahwa robot humanoid super ini masih berada dalam tahap uji coba dan belum siap diterapkan secara luas. Risiko gangguan operasional terlalu besar jika teknologi dipaksakan sebelum benar-benar matang.
Isu ketenagakerjaan juga menjadi sorotan. Banyak pihak khawatir otomatisasi akan menggantikan peran manusia. Namun, FedEx menegaskan bahwa robot dirancang untuk mendukung, bukan menghilangkan tenaga kerja.
Pekerjaan fisik berat dan repetitif akan ditangani mesin, sementara manusia tetap memegang peran strategis, pengawasan, dan pengambilan keputusan.
Ke depan, robot humanoid canggih ini diprediksi menjadi solusi atas tantangan global seperti kekurangan tenaga kerja dan tekanan efisiensi akibat persaingan e-commerce.
Jika uji coba berjalan sukses, FedEx berpotensi menjadi pionir dalam penggunaan robot humanoid fleksibel di industri logistik skala besar.
Scr/Mashable



















