OpenAI, perusahaan di balik sejumlah terobosan besar dalam kecerdasan buatan, dilaporkan tengah melangkah lebih jauh ke dunia robotika namun dengan pendekatan yang sangat tertutup.
Dilansir dari gizmochina (22/01/26), OpenAI diketahui telah membangun laboratorium robotika rahasia di San Francisco yang fokus pada pelatihan lengan robot untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga sederhana.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa era robot humanoid yang selama ini dinanti bisa jadi semakin dekat, meski tidak akan hadir dalam waktu singkat.
Meski robotika belum menjadi bagian utama dari misi resmi OpenAI, perusahaan ini tampaknya serius membangun fondasi jangka panjang.
Sejak Februari 2025, OpenAI telah mengoperasikan sebuah laboratorium robotika yang kini berkembang pesat. Fasilitas tersebut dilaporkan telah berkembang hingga lebih dari empat kali lipat ukuran awalnya dan beroperasi selama 24 jam penuh setiap hari, menandakan intensitas riset yang tinggi.
Fokus pada Lengan Robot, Bukan Humanoid
Alih-alih langsung mengembangkan robot humanoid penuh seperti yang banyak dibayangkan publik, OpenAI justru memulai dari pendekatan yang lebih praktis dan terukur. Fokus utama mereka saat ini adalah lengan robot berbiaya rendah, yang dinilai lebih realistis untuk tahap awal pengembangan dan pengumpulan data.
Lengan robot ini dilatih untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sederhana namun krusial, seperti memasukkan roti ke dalam pemanggang, melipat pakaian, hingga aktivitas manipulasi objek lainnya. Meski terdengar sepele, tugas-tugas ini sebenarnya sangat kompleks bagi mesin karena membutuhkan koordinasi, presisi, dan pemahaman konteks fisik yang tinggi.
Untuk melatih robot-robot tersebut, OpenAI mengandalkan sekitar 100 pengumpul data manusia dan belasan insinyur robotika. Mereka mengoperasikan lengan robot dari jarak jauh menggunakan pengontrol khusus bernama GELLO, sebuah perangkat cetak 3D yang mampu memetakan gerakan tangan manusia secara langsung ke pergerakan robot.
Data Manusia Jadi Kunci Utama
Pendekatan OpenAI dalam robotika mencerminkan strategi yang sama saat mereka mengembangkan model bahasa besar (LLM). Jika pada AI berbasis teks OpenAI mengandalkan data dalam jumlah masif untuk melatih modelnya, maka dalam robotika, data berbasis gerakan manusia menjadi aset paling berharga.
Banyak pakar menyebut bahwa tantangan terbesar dalam robotika bukan lagi pada algoritma atau kecerdasan buatan itu sendiri, melainkan pada ketersediaan data berkualitas tinggi. Robot perlu “belajar” dari cara manusia berinteraksi dengan dunia nyata seperti bagaimana menggenggam benda, menyesuaikan tekanan, dan bereaksi terhadap situasi yang tidak terduga.
Dengan mengumpulkan data dari manusia yang secara langsung mengoperasikan robot, OpenAI berharap dapat menciptakan model pembelajaran yang lebih adaptif dan fleksibel. Strategi ini memungkinkan AI memahami dunia fisik dengan cara yang lebih natural, bukan sekadar melalui simulasi virtual.
Operasi Senyap, Ambisi Jangka Panjang
Menariknya, seluruh pengembangan ini dilakukan dengan sangat minim publisitas. Tidak ada pengumuman resmi besar, tidak ada demo publik, dan hampir tidak ada pernyataan terbuka dari OpenAI terkait proyek ini. Namun, fakta bahwa OpenAI berencana membangun laboratorium robotika kedua di California menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar eksperimen jangka pendek.
Pendekatan senyap ini kemungkinan dilakukan untuk menghindari ekspektasi berlebihan dari publik, sekaligus memberi ruang bagi OpenAI untuk bereksperimen tanpa tekanan komersial.
Di sisi lain, langkah ini juga menegaskan bahwa OpenAI melihat robotika sebagai area strategis yang berpotensi menjadi pilar besar berikutnya setelah AI berbasis bahasa dan visi.
Sumber foto: ilustrasi ChatGPT
Scr/Mashable


















