Komunitas Gamers Paksa Developer Tarik Massal Konten Buatan AI

27.01.2026
Komunitas Gamers Paksa Developer Tarik Massal Konten Buatan AI
Komunitas Gamers Paksa Developer Tarik Massal Konten Buatan AI

Di tengah euforia industri teknologi yang memuja Kecerdasan Buatan (AI). Sejumlah gamers bersatu untuk mengusir konten hasil AI dari judul-judul favorit mereka. Aksi ini membuat sejumlah proyek gim terancam dibatalkan, penghargaan bergengsi dicabut, hingga studio pengembang terancam gulung tikar.

Kasus paling mencolok menimpa studio Goonswarm. Pengembang ini baru saja mengumumkan gim terbaru dari waralaba penembak populer, Postal. Namun, euforia itu berubah menjadi mimpi buruk saat trailer gim tersebut dituding menggunakan grafis buatan AI.

“Seluruh karier profesional kami ‘dibatalkan’ hanya dalam satu jam,” ujar Artem Korovkin, salah satu pendiri Goonswarm, melansir dari Washington Post, Senin (26/02/2026). Akibat tekanan masif dan ancaman dari komunitas, proyek yang dikerjakan selama enam tahun itu resmi dibatalkan, dan studio tersebut terpaksa ditutup.

Nasib serupa menimpa gim RPG ambisius, Clair Obscur: Expedition 33. Meski sempat memenangkan kategori Game of the Year di ajang bergengsi Indie Game Awards, gelar tersebut dicabut secara memalukan.

Hal ini terjadi setelah pengembangnya, Sandfall Interactive, mengaku sempat bereksperimen dengan gambar AI, meski mereka mengklaim tidak menggunakannya dalam versi final.

Bagi komunitas pemain gim, polemik penggunaan kecerdasan buatan tidak semata menyangkut efisiensi produksi, melainkan menyentuh integritas seni itu sendiri.

Penolakan ini dipicu oleh sejumlah kekhawatiran mendasar, mulai dari potensi invasi konten digital berkualitas rendah atau AI slop yang dinilai kehilangan sentuhan kreativitas manusia, hingga persoalan keaslian narasi dan latar cerita.

Contohnya terlihat dalam gim Where Winds Meet, ketika pemain memprotes karakter latar berbasis AI yang berbicara tentang “saus tomat” di tengah setting Dinasti Song, China abad ke-10, yang dianggap merusak imersi dan akurasi sejarah.

Di sisi lain, muncul pula kecemasan lebih besar terkait masa depan para kreator, di mana AI dikhawatirkan akan menggantikan peran pengisi suara, ilustrator, dan penulis skenario yang selama ini menjadi jiwa dan identitas sebuah gim.

“Jika saya diminta membayar mahal untuk sebuah gim, saya ingin gim itu dibuat oleh manusia,” tegas Adrienne Massanari, profesor di American University yang mengamati perilaku komunitas gaming.

Berbeda dengan konsumen produk lain, gamers memiliki ekosistem unik di Discord, Reddit, dan Twitch. Platform ini memungkinkan mereka menggalang kekuatan secara instan untuk melakukan boikot atau kampanye kritik tajam.

Bahkan raksasa sekelas Larian Studios (pencipta Baldur’s Gate 3) harus segera melakukan klarifikasi setelah bos mereka, Swen Vincke, menyebut AI dalam sebuah wawancara.

Hanya butuh waktu singkat bagi netizen untuk melabeli proyek masa depan mereka sebagai “sampah AI”, hingga memaksa pihak studio bersumpah tidak akan menggunakan AI dalam proses kreatif gambar mereka.

Meski kemenangan demi kemenangan diraih komunitas, para ahli menilai pertempuran ini belum usai. Matt Workman, produser efek digital, berpendapat bahwa hampir semua studio besar sebenarnya menggunakan AI secara diam-diam.

“Setiap studio besar di dunia menggunakannya. Mereka hanya melakukan strategi PR (hubungan masyarakat) yang berbeda-beda agar tidak ketahuan,” ungkapnya.

Untuk saat ini, pesan dari para gamers sudah jelas: Kreativitas manusia tidak bisa ditawar. Studio yang mencoba memangkas biaya dengan “robot” harus siap menghadapi serangan balik dari komunitas yang paling vokal di internet.

Scr/Mashable




Don't Miss