Langkah berani diambil oleh raksasa teknologi Meta dalam menyikapi dinamika kecerdasan buatan yang kian kompleks. Baru-baru ini, perusahaan yang digawangi Mark Zuckerberg tersebut resmi mengumumkan kebijakan untuk tidak lagi mengizinkan pengguna usia remaja berinteraksi dengan karakter chatbot AI dalam formatnya yang sekarang.
Dikutip dari Engadget, Selasa (27/1/2026), pengumuman yang dirilis pada akhir pekan ini menegaskan adanya “jeda operasional” atau penghentian akses secara global bagi pengguna muda terhadap deretan karakter AI yang ada di platform mereka.
Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah respons terhadap kekhawatiran publik mengenai batasan etika antara interaksi mesin dan manusia di bawah umur. Jeda akses ini sebenarnya merupakan puncak dari keresahan yang berkembang selama beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, Meta sempat berjanji untuk memperketat kontrol orang tua setelah munculnya laporan mengkhawatirkan mengenai perilaku beberapa chatbot yang terlibat dalam percakapan tidak pantas, bahkan menjurus ke arah seksual dengan pengguna remaja.
Isu ini semakin memanas ketika dokumen internal yang bocor sempat menyebutkan adanya pelonggaran kebijakan terhadap konten “sensual”, meskipun Meta segera membantah keras hal tersebut dan mengklaim ada kekeliruan informasi.
Sebagai bentuk tanggung jawab, sejak Agustus lalu Meta sebenarnya telah berupaya melakukan pelatihan ulang (retraining) pada model AI mereka agar lebih sensitif dan mampu mencegah pembahasan topik berbahaya seperti gangguan makan hingga tindakan melukai diri sendiri.
Saat ini, Meta memilih untuk mengambil langkah preventif yang lebih ekstrem dengan menutup akses total hingga “pengalaman baru” yang lebih aman siap diluncurkan.
Versi terbaru yang sedang digarap tersebut dijanjikan akan dilengkapi dengan fitur kontrol orang tua yang jauh lebih komprehensif agar pengawasan digital tetap berada di tangan keluarga.
Menariknya, pembatasan yang akan mulai berlaku dalam beberapa minggu ke depan ini tidak hanya menyasar mereka yang terdaftar dengan akun remaja, tetapi juga pengguna yang mengaku dewasa namun terdeteksi sebagai remaja oleh teknologi prediksi usia milik Meta yang semakin canggih.
Meski begitu, para remaja tetap diperbolehkan menggunakan layanan Meta AI versi standar yang diklaim sudah memiliki sistem proteksi sesuai usia sejak awal.
Langkah defensif Meta ini muncul di tengah badai pengawasan dari otoritas global yang semakin ketat terhadap fenomena chatbot “pendamping” yang berisiko bagi kesehatan mental kaum muda.
Lembaga seperti FTC hingga Jaksa Agung di berbagai negara bagian Amerika Serikat telah meluncurkan investigasi mendalam terhadap Meta dan perusahaan AI sejenis. Tekanan hukum ini bahkan telah merambah ke meja hijau, di mana Meta harus menghadapi gugatan serius terkait keselamatan pengguna di New Mexico.
Di tengah persiapan sidang yang dijadwalkan bulan depan, Meta tampak sedang berjuang keras di jalur hukum untuk menyaring kesaksian terkait kegagalan chatbot mereka, sekaligus berusaha membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan ruang digital yang aman bagi generasi mendatang.
Scr/Mashable





















