Meta Beri Pilihan Sulit: Nikmati Iklan di WhatsApp atau Bayar Langganan Bulanan?

28.01.2026
Meta Beri Pilihan Sulit: Nikmati Iklan di WhatsApp atau Bayar Langganan Bulanan?
Meta Beri Pilihan Sulit: Nikmati Iklan di WhatsApp atau Bayar Langganan Bulanan?

Di tengah dinamika dunia yang penuh perpecahan, sepertinya ada satu hal yang bisa disepakati oleh hampir semua orang di planet ini: kehadiran iklan digital sering kali terasa sangat mengganggu.

Dikutip dari Android Authority, Selasa (27/1/2026), pengguna mungkin masih bisa mentoleransi iklan di jeda video, namun dorongan industri untuk menyisipkan konten promosi ke setiap sudut privasi kita kian hari kian mengkhawatirkan.

Bayangkan saja, siapa yang pernah menyangka bahwa suatu saat kita akan melihat iklan terpampang di layar kulkas pintar di dapur sendiri?

Ketidaknyamanan ini akhirnya melahirkan sebuah standar baru dalam ekonomi digital, di mana ketenangan dan privasi sering kali menjadi “barang mewah” yang hanya bisa dinikmati dengan membayar harga tertentu melalui skema langganan.

Tren “bayar untuk ketenangan” ini tampaknya akan segera merambah ke aplikasi pesan instan paling populer di dunia, WhatsApp. Sejak tahun lalu, Meta selaku perusahaan induk telah memicu kontroversi dengan mulai menguji coba penempatan iklan pada fitur Status dan Saluran (Channels).

Meski gelombang penolakan dari pengguna setia langsung pecah seketika, Meta terlihat tetap bergeming dan berkomitmen untuk terus mengeksplorasi potensi monetisasi ini.

Namun, sebuah temuan menarik muncul dari balik layar teknis aplikasi ini, memberikan secercah harapan bagi mereka yang mendambakan pengalaman berkirim pesan yang bersih dari gangguan komersial.

Berdasarkan investigasi mendalam terhadap barisan kode pada rilis WhatsApp versi terbaru 2.26.3.9, ditemukan bukti-bukti kuat yang mengarah pada rencana besar Meta untuk memperkenalkan model berlangganan premium.

Melalui skema ini, pengguna kemungkinan besar akan diberikan opsi untuk membayar biaya bulanan demi menghapus seluruh jejak iklan dari antarmuka WhatsApp mereka.

Langkah ini seolah menjadi jawaban atas kritik pedas masyarakat, sekaligus strategi jitu Meta untuk tetap meraup keuntungan tanpa harus mengasingkan basis pengguna yang sangat membenci iklan.

Kode-kode tersembunyi tersebut memberi sinyal bahwa pengalaman “WhatsApp Bebas Iklan” bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan rencana matang yang sedang dipersiapkan di ruang kendali mereka.

Kendati demikian, satu pertanyaan besar yang masih menggantung di benak banyak orang adalah mengenai ketersediaan wilayah atau siapa saja yang bisa menikmati layanan ini nantinya.

Jika berkaca pada kebijakan sebelumnya, Meta sempat membatasi akses versi bebas iklan untuk Facebook dan Instagram hanya di wilayah-wilayah tertentu dengan regulasi privasi yang ketat, seperti Uni Eropa.

Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Indonesia dan negara lainnya akan langsung mendapatkan akses serupa atau justru harus menunggu lebih lama.

Selagi menunggu gambaran utuh dari Meta, satu hal yang pasti adalah lanskap komunikasi yang sedang menuju babak baru, di mana privasi dan kenyamanan visual mungkin akan memiliki label harga di masa depan.

Scr/Mashable




Don't Miss