Serapan Anggaran Nyaris Maksimal, Kemkomdigi Fokus Bangun Wilayah 3T

28.01.2026
Serapan Anggaran Nyaris Maksimal, Kemkomdigi Fokus Bangun Wilayah 3T
Serapan Anggaran Nyaris Maksimal, Kemkomdigi Fokus Bangun Wilayah 3T

Upaya pemerataan akses digital di Indonesia kembali menunjukkan progres positif. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat serapan anggaran tahun 2025 mencapai 94,9 persen, sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan kinerja fiskal, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Pemerintah memastikan bahwa setiap rupiah anggaran yang dibelanjakan benar-benar diarahkan untuk memperkuat konektivitas digital nasional.

Sepanjang tahun 2025, Kemkomdigi merealisasikan anggaran sebesar Rp10,58 triliun dari total pagu setelah blokir Rp11,4 triliun. Angka ini menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur digital tetap menjadi prioritas, bahkan di tengah dinamika transisi organisasi kementerian.

Fokus utama penggunaan anggaran tersebut adalah menjaga keberlangsungan layanan digital strategis sekaligus memperluas jangkauan konektivitas ke wilayah yang selama ini sulit dijangkau.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa capaian serapan anggaran bukan sekadar laporan administratif. Menurutnya, keberhasilan anggaran harus diukur dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Salah satu indikator paling signifikan adalah perluasan layanan jaringan seluler generasi keempat (4G) yang kini telah menjangkau 98,95 persen populasi penduduk Indonesia.

“Serapan anggaran ini bukan sekadar angka, tetapi upaya memastikan pembangunan infrastruktur digital benar-benar dirasakan masyarakat. Hingga akhir 2025, layanan 4G telah menjangkau 98,95 persen populasi penduduk. Ini langkah penting agar tidak ada wilayah yang tertinggal dalam transformasi digital,” ujar Meutya dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI di Jakarta Pusat, Senin (26/01/26).

Penguatan akses digital di wilayah 3T ditopang oleh pengoperasian ribuan Base Transceiver Station (BTS). Hingga akhir 2025, tercatat sebanyak 6.747 BTS telah beroperasi di wilayah 3T, dengan porsi terbesar berada di Papua yang mencapai 3.262 BTS.

Kehadiran infrastruktur ini membuka akses komunikasi yang lebih stabil bagi masyarakat, sekaligus menjadi penggerak aktivitas ekonomi lokal, pendidikan daring, serta layanan kesehatan berbasis digital.

Tidak hanya jaringan seluler, Kemkomdigi juga mempercepat pembangunan tulang punggung konektivitas nasional melalui jaringan fiber optik. Saat ini, jaringan fiber optik telah menjangkau 5.253 kecamatan di seluruh Indonesia.

Infrastruktur ini memperkuat koneksi internet dasar yang dibutuhkan untuk layanan publik digital, pemerintahan elektronik, hingga mendukung pelaku usaha mikro dan kecil di daerah.

Menariknya, penguatan sektor komunikasi dan digital juga berdampak positif terhadap penerimaan negara. Sepanjang 2025, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kemkomdigi mencapai Rp29,3 triliun atau 116,04 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp25,2 triliun.

Optimalisasi penerimaan ini dilakukan tanpa menambah beban kepada masyarakat, melainkan melalui pengelolaan sektor digital yang lebih efektif dan efisien.

Menurut Meutya Hafid, capaian PNBP tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program prioritas di masa depan. Dana yang terkumpul akan kembali digunakan untuk memperluas akses digital, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat keamanan ruang digital nasional.

Dengan demikian, pembangunan infrastruktur digital tidak berhenti pada ketersediaan jaringan, tetapi juga menjamin kenyamanan dan keamanan pengguna.

Memasuki tahun 2026, Kemkomdigi berkomitmen melanjutkan agenda transformasi digital dengan prinsip akuntabilitas dan keberpihakan pada masyarakat. Setiap belanja negara diarahkan untuk menghasilkan dampak yang terukur, terutama bagi daerah yang selama ini tertinggal dari arus digitalisasi.

Dengan semangat “Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga”, pemerintah optimistis pembangunan digital dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Tantangan ke depan adalah memastikan teknologi digital tetap berpihak pada manusia. Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat, kami optimis digitalisasi dapat mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Meutya.

Scr/Mashable




Don't Miss