Kabar Duka, Legenda Bulu Tangkis Sekaligus Ayah Marcus Fernaldi Gideon Meninggal Dunia

29.01.2026
Kabar Duka, Legenda Bulu Tangkis Sekaligus Ayah Marcus Fernaldi Gideon Meninggal Dunia
Kabar Duka, Legenda Bulu Tangkis Sekaligus Ayah Marcus Fernaldi Gideon Meninggal Dunia

Kabar duka datang menyentak komunitas olahraga tepok bulu pada Kamis 29 Januari 2026, dengan berpulangnya salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah pembinaan pemain, Kurniahu Gideon. Kepergian sosok yang juga dikenal sebagai ayah kandung dari mantan pemain ganda putra nomor satu dunia, Marcus Fernaldi Gideon, ini menjadi kehilangan besar bagi Indonesia.

Berita duka tersebut pertama kali tersiar melalui unggahan resmi Instagram Gideon Badminton Academy (GBA). Dalam pesan emosionalnya, akademi yang didirikan oleh almarhum menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya sang pendiri.

“Selamat jalan pak Kur… Keluarga besar Gideon Badminton Academy menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak Kurniahu Tjio Kay Kie, pendiri dan pembina Gideon Badminton Academy. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan,” tulis akun resmi @gideonbadmintonacademy.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Melalui kanal media sosialnya, otoritas tertinggi bulutangkis nasional tersebut mengakui besarnya jasa Kurniahu, yang hingga akhir hayatnya masih aktif menjabat sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) II Pengprov PBSI DKI Jakarta.

PBSI menyampaikan terima kasih atas segala sumbangsih dan pengorbanan yang telah diberikan almarhum untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, baik sebagai atlet maupun pengurus.

Profil dan Kiprah Sang Legenda

Kurniahu Gideon bukan sekadar “ayah dari seorang juara,” melainkan seorang legenda pada masanya. Lahir dengan nama Tjio Kay Kie, ia merupakan salah satu pilar kekuatan tunggal putra Indonesia pada era 1980-an. Bakatnya yang luar biasa sempat membawanya menembus jajaran elit dunia dengan menempati peringkat 7 dunia pada tahun 1981.

Selama berkarier sebagai pemain, Kurniahu dikenal sebagai petarung yang gigih. Ia pernah mencicipi ketatnya persaingan di turnamen paling bergengsi, All England, sebanyak tiga kali. Di kancah domestik maupun internasional, namanya disegani karena teknik permainannya yang solid dan ketenangan di atas lapangan.

Setelah memutuskan gantung raket, dedikasi Kurniahu terhadap bulutangkis tidak pernah luntur. Ia bertransformasi menjadi pelatih bertangan dingin yang fokus pada pembinaan usia dini. Salah satu “produk” terbaik dari didikannya tentu saja adalah sang putra, Marcus Fernaldi Gideon.

Kurniahu-lah yang membentuk fondasi mental dan teknik Marcus sejak kecil, bahkan saat Marcus sempat keluar dari pelatnas, sang ayah tetap setia mendampingi dan memotivasinya hingga Marcus kembali bersinar dan merajai dunia bersama Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Tak hanya mengurus keluarga, ia mendirikan Gideon Badminton Academy di Cibubur sebagai wadah untuk melahirkan bibit-bibit unggul baru bagi Indonesia. Kepergian Kurniahu Gideon meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi olahraga Indonesia. Semangat, disiplin, dan cinta tulusnya terhadap bulutangkis akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi muda yang bermimpi mengibarkan Merah Putih di podium tertinggi dunia. Selamat jalan, Pak Kurniahu. Terima kasih atas segalanya.

Scr/Mashable





Don't Miss