Apple Akuisisi Startup AI “Silent Speech” Rp30 Triliun, Sinyal Serius Kejar Ketertinggalan AI

02.02.2026
Apple Akuisisi Startup AI “Silent Speech” Rp30 Triliun, Sinyal Serius Kejar Ketertinggalan AI
Apple Akuisisi Startup AI “Silent Speech” Rp30 Triliun, Sinyal Serius Kejar Ketertinggalan AI

Apple akhirnya menunjukkan langkah besar dan agresif di dunia kecerdasan buatan. Perusahaan teknologi asal Cupertino ini resmi melakukan akuisisi terbesar kedua sepanjang sejarahnya dengan membeli Q.ai, sebuah startup AI yang mengembangkan teknologi komunikasi tanpa suara atau yang disebut sebagai silent speech.

Dilansir dari The Verge (30/01/26), nilai akuisisi ini dilaporkan mencapai USD 2 miliar atau sekitar Rp30 triliunan, menurut laporan Financial Times.

Sekadar informasi, Apple dikenal cukup hati-hati dalam belanja perusahaan teknologi, dengan akuisisi ini disinyalir menjadi langkah kuat bahwa Apple tak ingin semakin tertinggal dalam persaingan AI global.

Akuisisi terbesar Apple masih dipegang oleh pembelian Beats senilai USD 3 miliar pada 2014, namun Q.ai kini resmi menempati posisi kedua.

Q.ai sendiri merupakan startup berusia empat tahun yang berfokus pada teknologi audio dan visual berbasis AI. Keunikan utama perusahaan ini terletak pada kemampuannya membaca gerakan mikro pada kulit wajah untuk memahami ucapan manusia tanpa suara.

Artinya, AI bisa “mengerti” apa yang ingin disampaikan pengguna meski tanpa kata, hanya lewat ekspresi wajah dan pergerakan otot halus.

Teknologi ini didukung oleh paten sensor optik yang dikembangkan Q.ai, dan berpotensi diintegrasikan ke berbagai perangkat Apple di masa depan.

Mulai dari AirPods, kacamata pintar, hingga lini produk seperti Vision Pro, iPhone, dan Mac. Bayangkan berinteraksi dengan Siri tanpa berbicara, bahkan tanpa membisikkan kata—cukup lewat ekspresi.

Menariknya, jajaran pendiri Q.ai akan langsung bergabung dengan Apple. Salah satu nama penting adalah Aviad Maizels, CEO Q.ai, yang juga dikenal sebagai pendiri PrimeSense.

PrimeSense bukan nama asing bagi Apple, karena perusahaan tersebut diakuisisi Apple pada 2013 dan teknologinya kemudian menjadi fondasi Face ID di iPhone. Pola ini memperlihatkan bahwa Apple kembali bertaruh pada talenta dan teknologi yang sudah terbukti sukses di masa lalu.

Akuisisi Q.ai juga diyakini akan memperkuat Siri yang tengah bersiap menerima peningkatan berbasis generative AI. Selama ini, Siri kerap dikritik tertinggal dibandingkan asisten AI pesaing.

Dengan teknologi silent speech, Apple berpotensi menciptakan pengalaman interaksi AI yang jauh lebih natural dan personal, bahkan nyaris “tak terlihat” dalam keseharian pengguna.

Johnny Srouji, eksekutif senior Apple di divisi hardware, menyebut Q.ai sebagai perusahaan luar biasa yang membuka cara baru dalam memadukan teknologi pencitraan dan machine learning.

Sementara itu, Google Ventures yang sebelumnya menjadi investor Q.ai juga melihat teknologi ini sebagai langkah menuju masa depan di mana komputer benar-benar menyatu dalam kehidupan manusia tanpa terasa mengganggu.

Langkah Apple mengakuisisi Q.ai juga mempertegas perubahan strategi perusahaan. Setelah sempat dinilai kalah cepat dalam perlombaan AI, Apple kini terlihat lebih fokus pada pendekatan jangka panjang: mengintegrasikan AI secara mendalam ke perangkat keras dan ekosistemnya, bukan sekadar mengejar tren chatbot.

Scr/Mashable




Don't Miss