Pemerintah Indonesia tengah tancap gas dalam mempercepat pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) yang terintegrasi penuh dari hulu hingga ke hilir.
Langkah ambisius ini bukan sekadar tren semata, melainkan strategi jitu untuk mendorong hilirisasi mineral sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pertumbuhan ekonomi hijau dunia.
Melalui sinergi antara Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD), proyek raksasa ini diproyeksikan menjadi mesin utama yang akan mendongkrak daya saing industri nasional di kancah internasional.
Semangat transformasi ini ditegaskan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang menekankan pentingnya membangun rantai industri yang tak terputus.
Mulai dari penambangan nikel yang masif, pengolahan di smelter, teknologi high pressure acid leaching (HPAL), hingga produksi prekursor dan katoda, semuanya bermuara pada manufaktur sel baterai yang canggih.
Fokus pemerintah sangat jelas: kita tidak ingin hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman, melainkan ingin memastikan bahwa setiap butir kekayaan alam memberikan nilai tambah yang maksimal bagi kemakmuran bangsa.
Investasi yang dikucurkan pun tidak main-main, yakni mencapai angka fantastis di kisaran US$ 7 miliar hingga US$ 8 miliar. Setelah sukses mengoperasikan fasilitas baterai tahap awal berkapasitas 10 gigawatt (GW) sejak tahun 2023, pemerintah kini menatap masa depan dengan rencana penambahan kapasitas produksi sebesar 20 GW lagi.
Perluasan ini merupakan langkah strategis untuk mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik, sekaligus membuktikan bahwa hilirisasi adalah pengungkit nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan ketahanan energi nasional yang lebih mandiri.
Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian utama adalah kedaulatan negara atas sumber daya alamnya. Dalam implementasi nyata dari amanat Pasal 33 UUD 1945, pemerintah menargetkan kepemilikan mayoritas tetap berada di tangan negara, dengan porsi saham yang dijaga ketat di kisaran 60% hingga 70%.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) akan berperan sebagai pemasok bahan baku nikel utama bagi konsorsium ini, memastikan bahwa setiap proses produksi tetap berada dalam kendali strategis nasional demi kesejahteraan rakyat yang seluas-luasnya.
Senada dengan visi pemerintah, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, melihat kerja sama ini sebagai tonggak sejarah untuk membangun kemandirian teknologi.
Melalui proyek yang dikenal dengan nama “Dragon” dan “Titan”, IBC berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada pembangunan pabrik secara fisik, tetapi juga pada penguasaan teknologi tingkat tinggi.
Kolaborasi dengan Huayou merupakan kelanjutan dari kesuksesan sebelumnya bersama LG, yang bertujuan untuk menciptakan kurva pembelajaran bagi sumber daya manusia Indonesia.
Dengan begitu, di masa depan, Indonesia tidak lagi hanya dikenal sebagai eksportir sumber daya mentah, melainkan sebagai produsen baterai canggih yang lahir dari teknologi dan kompetensi anak bangsa sendiri.
Scr/Mashable



















