Prestasi membanggakan kembali ditorehkan anak bangsa di panggung internasional.
Tim Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses mencuri perhatian dunia setelah meraih dua penghargaan prestisius dalam ajang Shell Eco-marathon Qatar 2026.
Ajang ini merupakan kompetisi teknik kendaraan paling bergengsi yang mempertemukan talenta terbaik dari berbagai negara.
Dalam kompetisi yang diikuti 79 tim dari 15 negara, Antasena ITS berhasil menyabet 1st Place Technical Innovation Award serta 2nd Place Prototype Hydrogen Fuel Cell.
Raihan ini tidak hanya menegaskan kualitas inovasi mahasiswa Indonesia, tetapi juga memastikan tiket Antasena ITS menuju Shell Eco-marathon Global Championship 2027.
Falcon 3.0, Mobil Hidrogen Canggih Buatan Mahasiswa Indonesia
Kunci keberhasilan Antasena ITS terletak pada mobil andalan terbaru mereka, Falcon 3.0, kendaraan berbasis hydrogen fuel cell yang dirancang dengan pendekatan riset mendalam dan teknologi mutakhir.
Mobil ini membawa inovasi unggulan berupa sistem humidifier, atau pelembap udara, yang berfungsi menjaga tingkat kelembapan optimal di dalam sistem mesin.
Inovasi tersebut terbukti krusial. Dengan kondisi kelembapan yang stabil, aliran listrik dalam sistem fuel cell dapat bekerja lebih cepat dan efisien, sekaligus meningkatkan stabilitas performa kendaraan.
Hasilnya, Falcon 3.0 mampu menempuh jarak hingga 498 kilometer hanya dengan 1 meter kubik gas hidrogen, setara perjalanan Jakarta–Semarang tanpa pengisian ulang bahan bakar.
Capaian ini menjadi bukti bahwa kendaraan hidrogen bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan solusi nyata untuk mobilitas berkelanjutan.
Inovasi Terbaik, Prestasi Perdana Antasena ITS
Penghargaan Technical Innovation Award menjadi momen bersejarah bagi tim.
Pengakuan ini menegaskan bahwa inovasi yang dikembangkan Antasena ITS bukan hanya unggul di atas kertas, tetapi juga diakui secara global oleh para juri internasional.

Di balik prestasi gemilang, perjalanan Antasena ITS menuju Qatar penuh tantangan. Tim yang diperkuat 44 anggota, dengan 13 orang diberangkatkan langsung ke Doha, harus menghadapi kendala logistik sejak awal.
Pengiriman mobil dari Surabaya ke Qatar dilakukan melalui jalur laut di tengah periode padat distribusi global, memicu kekhawatiran keterlambatan.
Tantangan berlanjut di lintasan balap Sirkuit Lusail. Angin kencang khas Doha memengaruhi stabilitas kendaraan sekaligus strategi berkendara, kondisi yang sangat berbeda dibandingkan lintasan uji coba di Indonesia.
Non-Technical Manager tim Antasena ITS, Damaila Fayza, mengatakan, capaian timnya ini menjadi bukti kesiapan tim untuk bersaing di tingkat global.
“Angin di Doha cukup kencang dan itu sangat berpengaruh saat mobil dijalankan, baik dari sisi stabilitas maupun strategi berkendara. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan lintasan test drive kami di Indonesia,” ungkap Damaila yang dikutip dari Mashable Indonesia dari detikjatim.
Momen Emosional dan Tiket Dunia 2027
Pengumuman pemenang menjadi puncak emosi bagi tim Antasena ITS. Rasa tegang, harap, dan bangga bercampur saat nama mereka dipanggil ke podium. Kerja keras berbulan-bulan seakan terbayar lunas dalam satu momen.
Lebih dari sekadar piala, hasil ini membuka jalan bagi Antasena ITS untuk tampil di Shell Eco-marathon Global Championship 2027, ajang puncak yang mempertemukan tim terbaik dunia.
“Kami percaya target tinggi akan mendorong usaha yang lebih maksimal. Dengan konsistensi dan kerja keras, hasil tidak akan mengkhianati proses,” tutup Damaila penuh optimisme.
Sumber foto: Instagram antasena_its
Scr/Mashable





















