Balapan F1 Mendapat Keuntungan Mewah dari Meningkatnya Penggemar Wanita

09.02.2026
Balapan F1 Mendapat Keuntungan Mewah dari Meningkatnya Penggemar Wanita
Balapan F1 Mendapat Keuntungan Mewah dari Meningkatnya Penggemar Wanita

Balap Formula 1, yang secara tradisional merupakan olahraga pria, kini menarik banyak wanita yang tidak hanya mendukung tim tetapi juga memengaruhi tren, liputan media, dan pendapatan kompetisi.

Dunia kecepatan dan mode semakin mendekat, dan Formula 1 tidak terkecuali. Menurut Jing Daily, perpaduan ini didorong kuat oleh semakin dominannya penonton wanita.

Aliansi antara LVMH dan F1, yang diumumkan pada tahun 2025, menandai titik balik dalam hubungan antara merek mewah dan olahraga otomotif. Selama 10 tahun ke depan, grup asal Prancis ini, yang memiliki TAG Heuer dan Moët & Chandon, akan terlibat di seluruh seri balap, mulai dari jam tangan dan sampanye hingga citra merek.

Survei F1 yang dilakukan pada tahun yang sama menunjukkan bahwa pemirsa cenderung lebih menyukai produk sponsor 33% lebih sering daripada merek non-sponsor. Persentase ini meningkat menjadi 40% di kalangan Generasi Z dan 50% di kawasan Asia-Pasifik, memperkuat posisi F1 sebagai kekuatan pemasaran global.

Arena Permainan Ini Bukan Hanya untuk Pria

Sebelumnya, Formula 1 dikaitkan dengan dominasi laki-laki, tetapi sekarang perempuan sedang membentuk kembali lanskap komersial dan budaya olahraga ini.

“Ketika Anda menarik penggemar wanita, pada dasarnya Anda mendapatkan sebuah komunitas, karena wanita cenderung terhubung, mengajak teman, dan menyebarkan minat mereka kepada orang lain,” kata Toni Cowan-Brown, seorang pakar teknologi dan komentator F1 di San Francisco, yang berpendapat bahwa pertumbuhan penggemar wanita mengubah seluruh ekosistem.

Menurut survei F1, 75% penggemar baru adalah perempuan, sebagian besar masih muda dan berasal dari pasar yang berkembang seperti AS, India, dan Asia Tenggara.

Esme Buxton, pendiri The Paddock Journal, mengamati bahwa pergeseran ini bukan hanya bersifat demografis tetapi juga mencerminkan gaya hidup baru. Dengan perempuan mengendalikan hingga 80% keputusan pembelian, mereka mengubah Formula 1 menjadi “panggung komersial” yang memikat.

Merek-merek yang didirikan oleh perempuan, seperti Charlotte Tilbury dan Elemis, telah mulai berinvestasi besar-besaran di dunia balap. Akademi F1 khusus perempuan juga memperluas peluang bagi para pembalap perempuan.

“Bukannya perempuan tidak tertarik pada F1 sebelumnya, hanya saja sekarang mereka lebih mudah saling menemukan,” kata Buxton.

Mode Menjadi ‘Mesin’ F1

Persepsi publik terhadap perempuan di F1 juga berubah. Sebelumnya, mereka sering dilabeli sebagai “WAGs,” istri atau pacar para pembalap, disertai stereotip gender dan perhatian yang tidak diinginkan. Kini, citra tersebut digantikan oleh perempuan dengan kepribadian dan identitas mereka sendiri.

Tokoh-tokoh seperti Susie Wolff, CEO F1 Academy, membuktikan bahwa gaya dan kemampuan dapat berjalan beriringan.

“Siapa bilang Anda tidak bisa menjadi atlet hebat dan tetap berpakaian bagus?” tanya Buxton.

Formula 1 kini dianggap sebagai “panggung peragaan busana.” Sepertiga dari penonton global percaya bahwa mode adalah alasan mereka menyukai olahraga ini. Persentase ini meningkat menjadi 58% di kalangan Generasi Z dan perempuan.

Nama-nama seperti Alexandra Saint-Mleux dan Francisca Cerqueira Gomes telah menjadi ikon gaya di “paddock,” diikuti oleh jutaan orang. Saint-Mleux bahkan berkolaborasi dengan merek Meshki untuk meluncurkan koleksi kapsul 2025, sementara pegolf Tiongkok Muni “Lily” He memukau dengan gaya sporty-nya yang elegan.

Pada Grand Prix China 2025, Saint-Mleux mengenakan desain dari merek Hong Kong, Sau Lee, yang membangkitkan semangat Asia Timur dan menciptakan dampak yang kuat. Di Asia saja, terdapat lebih dari 221 juta penggemar F1.

Pada Grand Prix China 2025, Saint-Mleux mengenakan pakaian dari merek Hong Kong, Sau Lee, sebagai penghormatan kepada budaya Asia Timur, sekaligus menciptakan dampak yang kuat pada 221 juta penggemar mereka di Tiongkok.

Menurut pakar Moqian Sun, pendiri perusahaan konsultan The Harvest, inilah kunci daya tarik F1 di Asia.

“Generasi Z Tiongkok mempercayai para influencer yang memahami budaya lokal dan tahu bagaimana menceritakan kisah di balik desain mereka,” kata Moqian Sun.

Merek lokal juga memanfaatkan hal ini melalui kampanye kemitraan eksklusif, kode diskon yang dipersonalisasi, dan siaran langsung belanja, yang membantu menerjemahkan pengaruh menjadi pendapatan nyata.

Scr/Mashable





Don't Miss