Indonesia Terancam Krisis Talenta Digital, Menkomdigi Soroti Peran Anak Perempuan

10.02.2026
Indonesia Terancam Krisis Talenta Digital, Menkomdigi Soroti Peran Anak Perempuan
Indonesia Terancam Krisis Talenta Digital, Menkomdigi Soroti Peran Anak Perempuan

Transformasi digital Indonesia terus melaju cepat, namun di balik kemajuan tersebut tersimpan tantangan besar yang tak bisa diabaikan yaitu kesenjangan akses anak perempuan terhadap teknologi.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa keterlibatan perempuan di sektor teknologi bukan sekadar isu kesetaraan, melainkan faktor krusial bagi masa depan ekonomi digital nasional.

Dalam acara AWS Girls’ Tech Day yang digelar di Bekasi, Menkomdigi mengungkap bahwa Indonesia menghadapi kebutuhan besar terhadap sumber daya manusia digital.

Target ambisius ini tidak akan tercapai jika separuh potensi bangsa belum diberdayakan secara optimal.

“Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi soal akses yang setara bagi anak perempuan untuk terlibat dan tumbuh di dalamnya,” ujar Menkomdigi Meutya Hafid dalam acara AWS Girls’ Tech Day di Bekasi, Sabtu (07/02/2026).

Saat ini, Indonesia masih kekurangan sekitar 3 juta talenta digital, khususnya di bidang teknologi tingkat lanjut seperti kecerdasan artifisial (AI), data, dan engineering. Meutya menekankan bahwa tanpa membuka akses yang lebih luas dan adil bagi anak perempuan, kesenjangan ini akan semakin sulit dijembatani.

Ia juga menyoroti fenomena leaky pipeline, yakni kondisi ketika perempuan sebenarnya sudah mulai masuk ke dunia pelatihan digital, namun tidak berlanjut ke jenjang karier profesional.

Data menunjukkan partisipasi perempuan dalam pelatihan digital mencapai 36 persen, tetapi hanya sekitar 17 persen yang benar-benar berkarier di sektor teknologi.

Kesenjangan tersebut semakin terlihat pada peran teknis mendalam. Menurut Meutya, keterlibatan perempuan dalam bidang AI dan engineering masih sangat terbatas.

“Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15 hingga 18 persen perempuan. Kita harus memastikan akses digital berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata,” tegasnya.

Untuk mengatasi tantangan struktural tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital mengusung visi “Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.”

Terhubung berarti membuka akses pengetahuan teknologi sejak dini, Tumbuh berarti memastikan talenta perempuan berkembang berkelanjutan, sementara Terjaga berarti menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif.

Menurut Meutya, hambatan perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) kerap dipengaruhi oleh stereotip gender, minimnya rasa aman di ruang digital, serta kurangnya role model. Karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga ekosistem digital agar ramah bagi perempuan dan anak-anak.

Kolaborasi dengan industri pun menjadi kunci penting. Program AWS Girls’ Tech Day mendapat apresiasi sebagai contoh sinergi nyata antara pemerintah dan sektor swasta.

Program ini memberikan pengalaman langsung belajar AI, coding, dan robotika kepada 400 siswi dari jenjang SD hingga SMA, membuka wawasan bahwa teknologi bukan sesuatu yang eksklusif atau menakutkan.

Dalam pesannya kepada para peserta, Menkomdigi mendorong keberanian untuk mencoba dan berproses tanpa takut gagal.

“Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian,” pesan Meutya kepada para siswi peserta program.

Dengan akses teknologi yang setara sejak dini, anak perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga inovator yang akan membawa Indonesia menjadi kekuatan utama ekonomi digital global.

Sumber foto: Kemkomdigi

Scr/Mashable




Don't Miss