Demam olahraga kembali meningkat seiring digelarnya Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 yang resmi dimulai pada 6 Februari lalu.
Ajang olahraga dunia ini tak hanya menampilkan aksi atlet elit, tetapi juga memicu semangat jutaan orang untuk hidup lebih sehat.
Mulai dari rutin ke gym, lari pagi, hingga memantau detak jantung dan kualitas tidur lewat smartwatch atau fitness tracker.
Namun di balik tren gaya hidup sehat ini, ada risiko serius yang sering luput dari perhatian: ancaman privasi dan keamanan data dari pelacak kebugaran.
Pelacak Kebugaran dan Risiko Kebocoran Data
Perangkat wearable seperti jam tangan pintar, gelang kebugaran, atau smart ring mampu merekam berbagai data biometrik. Mulai dari jumlah langkah, detak jantung, kadar oksigen darah, pola tidur, hingga data tambahan seperti berat badan, golongan darah, dan konsumsi cairan harian.
Masalah muncul ketika data tersebut terhubung ke aplikasi berbasis cloud dan dibagikan secara online. Banyak pengguna yang tanpa sadar mempublikasikan rute lari atau bersepeda lengkap dengan data GPS di media sosial atau aplikasi komunitas olahraga.
Data lokasi ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Mereka dapat melacak pola aktivitas harian, mengetahui waktu rutin seseorang berolahraga, bahkan memanfaatkannya untuk serangan rekayasa sosial.
Contohnya, penipu bisa mengirim pesan palsu ke kontak korban dengan alasan darurat saat sedang berolahraga.
Inilah sebabnya keamanan data pelacak kebugaran menjadi isu penting di era digital.
Data Bisa Dijual ke Pihak Ketiga
Risiko lain yang tak kalah serius adalah praktik monetisasi data. Beberapa produsen perangkat wearable terutama merek yang kurang dikenal, diduga menjual data pengguna dalam bentuk agregat kepada pengiklan, broker data, atau bahkan perusahaan asuransi.
Data seperti pola detak jantung, siklus tidur, hingga kebiasaan aktivitas fisik memiliki nilai komersial tinggi. Dalam beberapa negara dengan sistem asuransi kesehatan privat, data tersebut bahkan berpotensi memengaruhi premi asuransi.
Artinya, gaya hidup sehat yang Anda bangun justru bisa berdampak finansial jika data tersebut jatuh ke pihak yang salah.
Risiko dari Keamanan Perangkat yang Lemah
Tak hanya soal kebijakan privasi, aspek teknis keamanan juga menjadi perhatian. Perangkat murah sering kali memiliki enkripsi lemah, server cloud yang kurang terlindungi, atau celah keamanan yang tidak diperbarui.
Jika terjadi pelanggaran data, jutaan informasi sensitif pengguna dapat terekspos atau dijual kembali di forum gelap.
Menanggapi lonjakan minat masyarakat terhadap perangkat kebugaran, Anna Larkina, Pakar Analisis Konten Web dan Privasi di Kaspersky, mengingatkan, “Dengan peristiwa sebesar ini yang memotivasi lonjakan antusiasme kebugaran, para pengguna perlu memprioritaskan keamanan data daripada penghematan. Pelacak kebugaran dengan harga terjangkau dapat menjadi pintu masuk untuk eksploitasi”.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keamanan digital harus menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar harga.
Tips Aman Menggunakan Pelacak Kebugaran
Agar tetap aman saat menggunakan smartwatch atau fitness tracker, berikut beberapa rekomendasi dari Kaspersky:
- Pilih merek pelacak kebugaran yang memiliki reputasi dan kebijakan privasi yang jelas.
- Gunakan satu aplikasi tepercaya untuk meminimalkan risiko kebocoran data.
- Atur catatan latihan menjadi privat dan batasi visibilitas publik.
- Unduh aplikasi hanya dari toko resmi seperti Apple App Store dan Google Play.
- Periksa ulasan aplikasi dan gunakan solusi keamanan digital seperti Kaspersky Premium untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Menggunakan perangkat wearable tanpa memperhatikan keamanan sama saja membuka pintu bagi potensi pencurian data, doxing, hingga penipuan digital.
Di era ekonomi data, menjaga privasi sama pentingnya dengan menjaga kebugaran tubuh.
Scr/Mashable

















