Mengapa Super League Bisa Bubar?

18.02.2026
Mengapa Super League Bisa Bubar?
Mengapa Super League Bisa Bubar?

Putusan pengadilan yang menguntungkan tidak cukup untuk menyelamatkan proyek yang kurang konsensus, dan Super League akhirnya runtuh karena bertentangan dengan struktur terbuka yang merupakan fondasi sepak bola Eropa.

Super League pernah digadang-gadang sebagai revolusi terbesar dalam sejarah sepak bola klub. Mereka yang berada di baliknya percaya bahwa mereka memiliki sumber daya keuangan, pengaruh, dan dasar hukum untuk menantang UEFA.

Namun pada akhirnya, proyek tersebut berakhir dengan skeptisisme. Hal itu meninggalkan satu kenyataan yang jelas: sepak bola tidak dapat direstrukturisasi hanya dengan kekuasaan dan uang.

Keputusan itu menguntungkan UEFA, tetapi membuat rakyat kehilangan dukungan.

Titik balik hukum datang dari putusan Mahkamah Eropa di Luksemburg. Mahkamah memihak Super League dalam perselisihannya dengan UEFA mengenai monopoli penyelenggaraan turnamen. Menurut putusan tersebut, organisasi berhak untuk mendirikan liga mereka sendiri tanpa memerlukan izin UEFA, dan UEFA tidak diperbolehkan untuk menghukum tim yang berpartisipasi.

Secara hukum, ini adalah kemenangan yang signifikan. Ini mengguncang fondasi kekuasaan yang telah dipertahankan UEFA selama beberapa dekade. Namun, kenyataannya adalah bahwa putusan yang menguntungkan tidak secara otomatis menjamin keberhasilan implementasi.

Super League tidak memiliki konsensus politik dan sosial. Gelombang penentangan dari penggemar, liga domestik, dan bahkan pemerintah beberapa negara telah menciptakan tekanan yang sangat besar. Dalam olahraga yang sangat berakar pada komunitas seperti sepak bola, faktor emosional dan tradisional memiliki bobot yang sama besarnya dengan dokumen hukum apa pun.

Segera setelah proyek itu diumumkan, struktur kekuasaan di sepak bola Eropa terguncang. Andrea Agnelli, yang saat itu menjabat sebagai presiden Juventus dan juga kepala Asosiasi Klub Eropa (ECA), mengundurkan diri.

Posisi ini diberikan kepada Nasser Al Khelaïfi, yang mewakili kelompok klub yang memilih untuk tetap bersama UEFA. Ketika klub-klub Inggris, dan kemudian klub-klub Italia, secara berturut-turut menarik diri, Liga Super menyempit menjadi pertarungan antara Florentino Perez dan Joan Laporta. Perpecahan internal membuat proyek ini semakin genting.

Titik lemah Achilles: Turnamen Tertutup

Aspek paling kontroversial dari Super League adalah model tertutupnya. Awalnya, idenya adalah untuk memiliki liga dengan 20 tim, dengan 15 klub pendiri dijamin mendapatkan tempat tetap setiap musim. Hal ini bertentangan dengan prinsip promosi dan degradasi serta kompetisi berbasis performa yang merupakan inti dari sepak bola Eropa.

Di bawah tekanan yang hebat, Super League terpaksa berubah. Proyek tersebut beralih ke model tiga tingkat: Star League, Gold League, dan Blue League, masing-masing dengan 36 tim. Penempatan didasarkan pada performa liga domestik, mirip dengan sistem Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Konferensi saat ini.

Penyesuaian ini menunjukkan bahwa penyelenggara telah menyadari kesalahan awal mereka. Namun, dengan format baru yang hampir identik dengan sistem UEFA, muncul pertanyaan: apa yang membuat Super League berbeda? Jika modelnya tidak benar-benar inovatif, satu-satunya keunggulan kompetitif yang tersisa hanyalah dari segi finansial.

Salah satu komitmen Super League yang paling menarik perhatian adalah menyiarkan seluruh pertandingan liga secara gratis melalui platform streaming bernama Unify. Meskipun ide ini dipertanyakan kelayakannya, hal ini mencerminkan tren baru di pasar hak siar.

FIFA telah menayangkan Piala Dunia Antarklub melalui DAZN. UEFA juga telah menandatangani perjanjian dengan Amazon di beberapa negara dan sedang mempertimbangkan untuk memperluas model penayangan langsung di pasar-pasar utama.

Secara finansial, sejak awal terdapat laporan bahwa bank investasi JP Morgan siap menyediakan $3,5 miliar untuk memulai proyek tersebut. Ini menunjukkan bahwa Super League tidak kekurangan sumber daya. Bersamaan dengan itu, gelombang investasi dari dana dan miliarder ke dalam sepak bola semakin kuat.

Sebagian besar klub Inggris dimiliki oleh investor Amerika. Atletico de Madrid juga berada di tangan kelompok modal asing. Sepak bola tingkat atas telah menjadi industri global di mana aliran uang memiliki pengaruh yang mendalam.

Namun, komersialisasi yang pesat ini telah menyebabkan Super League dipandang sebagai simbol ambisi pribadi yang menutupi nilai-nilai komunitas. UEFA, meskipun juga beroperasi sesuai dengan logika pasar, telah mempertahankan citranya sebagai perwakilan dari struktur terbuka dan prinsip pencapaian.

Super League gagal bukan karena kekurangan uang atau kurangnya dasar hukum. Super League gagal karena terlalu jauh menyimpang dari fondasi tradisional yang menjadi landasan sepak bola Eropa. Proyek tersebut mungkin telah berakhir, tetapi isu-isu yang diangkatnya—mengenai kekuasaan, keuangan, dan masa depan model kompetisi—tetap sangat relevan.

Scr/Mashable





Don't Miss