Usulan untuk memberikan sanksi kepada pemain yang sengaja menutup mulut mereka saat mengucapkan pernyataan yang menyinggung sedang dibahas menyusul tuduhan rasisme di Liga Champions.
Gol tunggal Vinicius Jr. mengamankan kemenangan Real Madrid atas Benfica di leg pertama babak play-off Liga Champions pada 18 Februari. Namun, fokus pertandingan terletak pada momen yang berbeda.
Segera setelah mencetak gol, striker Brasil itu merayakan golnya dan kemudian berlari ke arah wasit untuk memprotes pernyataan Gianluca Prestianni. Protokol anti-rasisme segera diaktifkan, dan pertandingan dihentikan selama sekitar 10 menit.
Kylian Mbappe mengatakan dia mendengar Prestianni, yang menutupi mulutnya dengan bajunya saat berbicara, mengucapkan kata “monyet” sebagai saran untuk menskorsnya di leg kedua.
UEFA telah mengkonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki “tuduhan perilaku diskriminatif”. Menurut Sky Sports , proses tersebut bisa memakan waktu tiga minggu. Ini berarti Prestoni masih berpotensi bermain di leg kedua di Bernabeu.
Benfica membantah tuduhan tersebut di media sosial, mengklaim bahwa pemain Real Madrid itu “tidak mungkin mendengar apa yang mereka katakan telah mereka dengar.” Klub tersebut kemudian mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa Prestianni adalah korban dari “kampanye fitnah.” Pemain Argentina itu membantah melakukan perilaku rasis apa pun dan telah menonaktifkan komentar di akun Instagram pribadinya.
Menurut Pasal 14 peraturan disiplin UEFA, perilaku rasis dapat mengakibatkan skorsing 10 pertandingan jika terbukti bersalah.
Hukuman serupa sebelumnya pernah dijatuhkan kepada Ondrej Kudela dari Slavia Prague dalam insiden yang melibatkan Glen Kamara di Liga Europa.
Insiden ini juga membuka jalan baru. Mikael Silvestre, mantan bek Manchester United dan Arsenal dan sekarang anggota Panel Suara Pemain FIFA, mengungkapkan bahwa diskusi sedang berlangsung mengenai sanksi terhadap pemain yang sengaja menutup mulut mereka saat berbicara di lapangan.
“Grup WhatsApp kami banyak membahas tentang bagaimana menangani perilaku berbicara sambil menutup mulut,” kata Silvestre kepada Sky Sports.
Ia berpendapat bahwa bertukar taktik adalah hal yang normal, tetapi ketika ada tanda-tanda permusuhan yang jelas, tindakan yang lebih tegas diperlukan.
FIFA belum membuat keputusan resmi. Namun, jika “aturan Prestian” diterapkan, sepak bola dapat memasuki fase kontrol yang lebih ketat terhadap perilaku yang terjadi di lapangan.
Kasus Rasisme Vinicius Jr Menyebar ke Seluruh Dunia
Tuduhan rasisme yang ditujukan kepada Vinicius setelah golnya di Da Luz memicu perhatian luas media internasional, menutupi hasil pertandingan tersebut.
Insiden itu terjadi setelah Vinicius mencetak gol pembuka untuk Real Madrid melawan Benfica di leg pertama babak play-off Liga Champions pada, Rabu 18 Februari 2026 dini hari WIB.
Menurut laporan, pemain Prestoni dituduh membuat pernyataan rasis dan ofensif. Pertandingan kemudian ditangguhkan sementara untuk mengaktifkan prosedur anti-rasisme.
Di Argentina, Ole menyebutnya sebagai “escándalo,” yang berarti skandal. Surat kabar tersebut melaporkan bahwa striker Real Madrid itu menuduh lawannya meneriakkan “monyet” setelah Benfica kebobolan gol. TyC Sports juga menggunakan kata “skandal,” menekankan bahwa VAR tidak dapat memverifikasi isi pernyataan tersebut, dan wasit hanya memberikan peringatan.
Di Brasil, Globo Esporte memulai pemberitaannya dengan melaporkan reaksi Vinicius. Surat kabar itu menulis bahwa saat pertandingan hendak dilanjutkan, pemain Brasil itu menjadi marah dan secara resmi mengadu kepada wasit. Mereka menggambarkan situasi tersebut sebagai “kekacauan lain yang terjadi.”
Media Inggris meliput insiden tersebut dari berbagai sudut pandang. Sky Sports melaporkan secara detail bahwa Prestonni menarik bajunya menutupi mulutnya sebelum mengatakan sesuatu kepada Vinicius. BBC mengutip Trent Alexander-Arnold yang mengatakan: “Ini memalukan bagi sepak bola.”
Di Prancis, L’Équipe menggambarkan Vinicius sebagai “pemain penentu pertandingan, yang dikritik dan dihina.” Di Portugal, A Bola menggunakan frasa “neraka meletus” setelah gol pemain Brasil itu. Record berbicara tentang “kekacauan besar” selama dan setelah benturan tersebut.
The Guardian (Inggris) berpendapat bahwa tuduhan rasisme tersebut menutupi kemenangan Real Madrid. Bild (Jerman) menampilkan insiden itu di halaman depan, menyoroti tindakan Prestianni yang menutup mulutnya. La Gazzetta dello Sport (Italia) juga lebih fokus pada kontroversi daripada skor pertandingan.
Dari Amerika Selatan hingga Eropa, reaksi media menunjukkan bahwa insiden tersebut bukan lagi sekadar masalah internal di lapangan. Insiden itu telah menjadi titik panas global, di mana sepak bola sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan tentang batasan antara kompetisi dan tanggung jawab.
Scr/Mashable















