NASA Tak Lagi Berencana Mendarat di Bulan Dalam Misi Artemis Berikutnya

01.03.2026
NASA Tak Lagi Berencana Mendarat di Bulan Dalam Misi Artemis Berikutnya
NASA Tak Lagi Berencana Mendarat di Bulan Dalam Misi Artemis Berikutnya

NASA akan menukar misi Artemis yang sebelumnya direncanakan untuk mendaratkan astronaut di bulan dengan rencana baru yang bertujuan meningkatkan frekuensi peluncuran roket raksasa milik badan antariksa tersebut.

Dalam konferensi pers pada Jumat, Administrator NASA Jared Isaacman memaparkan perombakan besar terhadap program perjalanan bulan-ke-Mars.

Perubahan ini membatalkan pendaratan bulan Artemis III dan menggantinya menjadi penerbangan di orbit rendah Bumi bagi kru untuk berlatih bertemu dengan wahana pendarat bulan yang dibuat oleh SpaceX atau Blue Origin — atau mungkin keduanya.

Langkah tersebut juga berdampak pada jadwal misi Artemis selanjutnya. Penerbangan Artemis III yang telah direvisi dimajukan ke pertengahan 2027, yang berpotensi membuka jalan bagi Artemis IV dan Artemis V pada awal dan akhir 2028. Dalam arahan baru ini, Artemis IV akan menjadi misi pertama yang kembali menempatkan sepatu astronaut di permukaan bulan.

Revisi besar program ini diumumkan bersamaan dengan pembaruan mengenai perbaikan roket Space Launch System (SLS) yang akan meluncurkan Artemis II, misi terbang lintas bulan selama 10 hari dengan awak, paling cepat pada April.

“Harus ada cara yang lebih baik yang sejalan dengan sejarah kita,” kata Isaacman. “Kita tidak langsung melompat ke Apollo 11. Kita melewatinya lewat Mercury, Gemini, dan banyak misi Apollo, dengan frekuensi peluncuran setiap tiga bulan. Kita tidak seharusnya nyaman dengan ritme saat ini. Kita harus kembali ke dasar dan melakukan apa yang kita tahu berhasil.”

Para pemimpin NASA menyatakan perombakan ini ditujukan untuk mengatasi masalah mendasar yang lebih besar: badan antariksa AS tersebut terlalu jarang menerbangkan roket terkuatnya dan terus mengulang sejumlah persoalan teknis dari satu misi ke misi berikutnya.

Isaacman menunjuk kebocoran hidrogen pada Artemis I serta masalah aliran helium pada Artemis II sebagai tanda bahwa jeda tiga tahun antar peluncuran tidak berkelanjutan. Ketika tim hanya terbang setiap beberapa tahun, katanya, mereka kehilangan “memori otot” — pengalaman rutin dan praktik langsung yang dibutuhkan untuk menangani roket kompleks secara aman dan efisien.

Untuk mengatasinya, NASA mendefinisikan ulang kampanye Artemis sebagai program uji bertahap. Lembaga itu kini menargetkan peluncuran kira-kira setiap 10 bulan, menstandarkan konfigurasi roket, dan membangun kembali keahlian internal yang selama ini menyusut.

Salah satu perubahan besar adalah keputusan menjadikan Artemis III sebagai misi latihan di orbit Bumi, bukan upaya pendaratan. Misi tersebut akan memungkinkan astronaut dan insinyur menguji bagaimana pesawat Orion dan wahana pendarat saling menemukan, terbang bersama, dan kemungkinan melakukan docking. Kru juga dapat mulai memeriksa sistem pendukung kehidupan serta perangkat keras lain di dalam wahana pendarat sebelum benar-benar dikirim ke permukaan bulan. Pejabat NASA bahkan menyebut kemungkinan uji terbatas pakaian baru untuk berjalan di bulan dalam kondisi tanpa gravitasi, jika jadwal memungkinkan.

Pimpinan NASA berargumen bahwa lebih masuk akal menemukan masalah dan berlatih operasi di dekat rumah, yakni di orbit Bumi, daripada baru mengetahuinya saat pertama kali mencoba mendarat di bulan. Jika tempo peluncuran yang lebih cepat dapat dipertahankan, Artemis IV dan Artemis V berpotensi memberi NASA dua peluang pada 2028. Namun mereka menekankan bahwa jadwal tetap bergantung pada kesiapan perangkat keras dan tinjauan keselamatan.

Pengerjaan Gateway, stasiun luar angkasa kecil yang akan mengorbit bulan dan menjadi titik persinggahan untuk misi masa depan, tetap dilanjutkan. Namun prioritas utama saat ini adalah meningkatkan frekuensi penerbangan Artemis sebelum membangun pos bulan tersebut lebih jauh.

Di sisi lain, NASA menyadari bahwa China juga berupaya mendaratkan awaknya sendiri di bulan sebelum 2030 dan mungkin bisa tiba lebih dulu dibandingkan Amerika Serikat. NASA belum mengirim manusia ke permukaan bulan sejak Apollo 17 pada 1972.

“Pada 1960-an, jika dilihat ke belakang, kita memiliki kelonggaran jadwal yang hampir tak terbatas,” ujar Isaacman. “Hari ini jelas tidak demikian. Dari sisi waktu, ini sangat, sangat ketat.”

Sementara itu, para insinyur tengah menangani persoalan pada Artemis II. Setelah uji hitung mundur penuh yang mengisi roket dengan bahan bakar superdingin, tim menemukan helium tidak mengalir dengan benar ke mesin tahap atas roket. Helium digunakan untuk memberi tekanan pada tangki dan membantu mendorong bahan bakar ke mesin. Tanpa aliran yang tepat, roket tidak dapat terbang dengan aman.

Karena tahap atas sulit dijangkau di landasan peluncuran, NASA memindahkan roket kembali ke Vehicle Assembly Building untuk inspeksi. Teknisi akan melepas dan memeriksa komponen sistem helium yang dicurigai, memperbarui perangkat keras yang bermasalah, serta melakukan pekerjaan lain seperti mengganti baterai sistem penghentian penerbangan darurat, menukar segel pada jalur oksigen cair, menyegarkan perlengkapan di dalam Orion, dan memberi kru latihan tambahan dalam menyegel kapsul.

NASA berharap dapat merampingkan pekerjaan tersebut demi menjaga peluang peluncuran Artemis II pada 1 April, 3 hingga 6 April, atau 30 April. Namun hingga kini belum ada tanggal alternatif di luar April yang diumumkan.

Ke depan, Isaacman mengatakan NASA akan menstandarkan konfigurasi roket bulan saat ini alih-alih terus mengubah desain setelah beberapa kali penerbangan seperti rencana awal. Tujuannya adalah menghindari setiap roket menjadi proyek khusus yang berbeda-beda, dan beralih ke versi yang lebih sederhana serta dapat diulang dengan lebih cepat oleh industri.

Ia juga menyoroti upaya membangun kembali tenaga kerja NASA dengan memindahkan sejumlah peran penting dari kontraktor — yang kini mencakup sekitar 75 persen tenaga teknis lembaga tersebut — ke keahlian internal. Menurut pimpinan NASA, langkah ini akan memberi kendali lebih besar atas persiapan peluncuran, seperti pada era Apollo dan pesawat ulang-alik.

“Iklimnya berbeda dibanding 1960-an. Saluran televisi bukan hanya tiga, jadi menarik perhatian publik kadang menjadi tantangan,” kata Isaacman. “Saya tidak ragu ketika Artemis II lepas landas, dunia akan memperhatikannya.”

Scr/Mashable




Don't Miss