5 Alasan Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026 usai Dikalahkan Bosnia

01.04.2026
5 Alasan Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026 usai Dikalahkan Bosnia
5 Alasan Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026 usai Dikalahkan Bosnia

Tim nasional Italia sekali lagi gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Kekalahan mereka melawan Bosnia mengungkap banyak masalah dalam gaya bermain skuad Gennaro Gattuso.

1 – Kartu merah yang berakibat fatal bagi Bastoni

Titik balik terbesar adalah kartu merah Alessandro Bastoni pada menit ke-41. Dalam situasi di mana pertahanan Italia terlalu maju ke depan, mereka meninggalkan celah fatal yang memungkinkan Amar Memic menerobos dan berhadapan satu lawan satu dengan kiper.

Alih-alih dengan tenang membiarkan Donnarumma menguasai bola, Bastoni malah melakukan tekel berisiko dari belakang.

Keputusan wasit Clement Turpin untuk memberikan kartu merah langsung benar-benar tepat. Harus bermain dengan sepuluh pemain untuk sisa pertandingan benar-benar menghancurkan rencana manajer Gattuso.

Dari posisi berinisiatif, Italia terpaksa mundur ke formasi bertahan yang rapat dan menahan tekanan yang mencekik dengan total 30 tembakan ke gawang dari Bosnia .

2 – Menyia-nyiakan kesempatan

Meskipun mencetak gol pembuka pada menit ke-15 dan mencetak rekor mencetak gol dalam enam pertandingan berturut-turut untuk Azzurri, Moise Kean tetap memikul sebagian besar tanggung jawab.

Pada menit ke-60, dengan skor 1-0, Kean memiliki peluang emas untuk menggandakan keunggulan ketika ia berhadapan satu lawan satu dengan kiper Vasilj.

Seandainya Kean menyelesaikan peluang dengan lebih akurat alih-alih mengirim bola melebar dari tiang gawang, keunggulan dua gol mungkin akan mengakhiri harapan Bosnia, meskipun Italia bermain dengan sepuluh pemain.

Dalam sepak bola level atas, terutama dalam pertandingan-pertandingan penting, melewatkan peluang emas untuk mengalahkan lawan seringkali berujung pada hasil yang tragis.

3 – Gameplay yang stagnan dan tidak kreatif di bawah kepemimpinan Gattuso

Sebelum kartu merah, tim Italia tersebut menunjukkan masalah mendasar dalam permainan mereka. Meskipun menguasai bola selama 59% babak pertama, tim asuhan Gattuso kesulitan mendekati gawang lawan.

Statistik menunjukkan bahwa Italia hanya melakukan 4 sentuhan bola di dalam area penalti Bosnia selama 45 menit pertama.

Gelandang seperti Tonali, Barella, dan Locatelli tidak mampu memberikan umpan-umpan terobosan. Italia memainkan gaya sepak bola yang menuntut fisik dan kompetitif, tetapi kurang memiliki kecerdikan dan kreativitas yang diperlukan untuk mengatasi lawan yang disiplin seperti Bosnia.

Terlalu mengandalkan “semangat juang,” seperti yang dikatakan Gattuso setelah pertandingan , tidak cukup untuk menutupi kekurangan taktis.

4 – Tekanan psikologis yang luar biasa dan kutukan yang berulang

Saat pertandingan memasuki adu penalti, perbedaan psikologis antara kedua tim menjadi sangat jelas. Bosnia mengeksekusi keempat penalti dengan sempurna dan penuh percaya diri. Sebaliknya, kaki-kaki tim Italia yang perkasa gemetar di ambang sejarah.

Tendangan Francesco Pio Esposito melambung di atas mistar gawang, sementara Bryan Cristante, seorang pemain yang sangat berpengalaman, justru membentur mistar gawang.

Kekalahan adu penalti bukanlah soal keberuntungan, melainkan bukti runtuhnya mental tim yang sudah kelelahan setelah berjuang selama 120 menit. Sejarah sekali lagi mencatatkan Italia dalam daftar tim yang paling takut dengan adu penalti.

5 – Kebangkitan Bosnia yang dahsyat

Tak dapat disangkal keunggulan Bosnia & Herzegovina. Mereka memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan dukungan antusias yang mereka terima di Zenica sebaik-baiknya.

Pemain veteran Edin Dzeko bermain seperti seorang pejuang sejati. Dzeko lah yang mengalahkan Mancini dalam duel udara untuk menciptakan peluang gol peny equalizer Tabakovic pada menit ke-79.

Nilai expected goals ( xG ) Bosnia sebesar 1,81 dibandingkan dengan Italia yang hanya 0,86 sudah menjelaskan semuanya. Kombinasi pengalaman para veteran seperti Dzeko dan pemain muda seperti Alajbegovic dan Bajraktarevic telah menciptakan tim yang solid, siap menghukum setiap kesalahan lawan.

Kekalahan melawan Bosnia adalah puncak dari krisis menyeluruh bagi sepak bola Italia. Dengan klub-klub Serie A yang sepenuhnya tersingkir dari Liga Champions dan tim nasional gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, rakyat Italia membutuhkan revolusi sejati dari akarnya, bukan sekadar menyalahkan takdir.

Scr/Mashable





Don't Miss