Pelatih tim nasional Brasil, Carlo Ancelotti tidak menampik kemungkinan memanggil kembali bek tengah berusia 41 tahun, Thiago Silva, untuk Piala Dunia 2026.
Silva belum tampil untuk tim nasional Brasil sejak kekalahan mereka dari Kroasia di perempat final Piala Dunia 2022. Namun, dengan Piala Dunia berikutnya yang semakin dekat, Ancelotti telah menunjukkan bahwa ia bersedia memberikan kesempatan kepada pemain berpengalaman jika mereka mempertahankan performa tingkat tinggi mereka.
Berbicara kepada pers, Ancelotti menegaskan: “Saya tidak pernah melihat tanggal lahir di paspor. Semua pemain Brasil bisa bermimpi untuk masuk dalam daftar pemain Piala Dunia. Tidak masalah jika usianya 41 tahun. Jika dia layak berada di turnamen tersebut, Silva akan ada di sana. Lihatlah Paolo Maldini, yang hampir berusia 39 tahun ketika memenangkan Liga Champions, atau Luka Modric, yang sekarang berusia 40 tahun.”
Pelatih Ancelotti tidak hanya menghargai kemampuan teknis Silva, tetapi ia juga percaya bahwa Silva memiliki kecerdasan taktis dan kualitas kepemimpinan untuk menjadi pelatih di masa depan. Bek tengah itu bahkan telah mulai mempersiapkan karier kepelatihannya setelah pensiun.
Jika Silva dipanggil, Brasil akan memiliki pemain tertua dalam sejarah yang berpartisipasi di Piala Dunia. Rekor sebelumnya dipegang oleh Dani Alves (39 tahun dan 210 hari) di Piala Dunia 2022.
Dengan tim nasional Brasil yang sedang menjalani proses peremajaan, kehadiran pemain berpengalaman seperti Silva dapat memberikan nilai tambah yang signifikan dalam hal ketenangan dan stabilitas, terutama dalam pertandingan babak gugur.
Carlo Ancelotti: Main Sepak Bola Indah Belum Tentu Bisa Juara
Carlo Ancelotti percaya bahwa kesuksesan Brasil di Piala Dunia berasal dari fondasi pertahanan yang kuat, bukan dari sepak bola improvisasi seperti yang diyakini banyak orang.
Ancelotti menawarkan perspektif yang bertentangan dengan kepercayaan umum tentang sepak bola Brasil, menekankan bahwa kemenangan “Selecao” di Piala Dunia bukan semata-mata karena teknik atau kemampuan menyerang.
Pelatih asal Italia itu mempertanyakan konsep “Joga Bonito,” filosofi yang diasosiasikan dengan gaya permainan Brasil yang indah dan spontan. Menurutnya, itu hanyalah sebagian dari gambaran keseluruhan; fondasi sebenarnya untuk kejayaan mereka terletak pada organisasi pertahanan mereka.
“Joga Bonito? Apakah Anda ingat bahwa Brasil memenangkan dua Piala Dunia terakhir dengan menggabungkan bakat alami dengan kemampuan bertahan?”, ujar Ancelotti.
Ia menyebutkan dua contoh utama dari kemenangan kejuaraan mereka. Pada tahun 2002, Brasil menggunakan sistem tiga bek tengah, menciptakan kekompakan di belakang pertahanan untuk memberi ruang bagi serangan. Sebelumnya, di Piala Dunia 1994, tim kuning-hijau menggunakan dua lini yang terorganisir rapat dengan empat pemain, sehingga mengoptimalkan peran Romario dalam serangan.
Menurut Ancelotti, keseimbangan inilah faktor penentu. Momen-momen gemilang dapat membuat perbedaan, tetapi untuk memenangkan gelar, sebuah tim membutuhkan struktur yang stabil dan kemampuan untuk mengelola risiko.
“Piala Dunia adalah milik tim yang kebobolan paling sedikit, bukan tim yang mencetak gol terbanyak,” tegasnya.
Sudut pandang Ancelotti juga mencerminkan filosofi sepak bola pragmatis yang telah ia terapkan sepanjang karier kepelatihannya. Meskipun ia tidak ingin dicap sebagai pelatih yang berorientasi defensif, ahli strategi ini menegaskan bahwa hal ini selalu menjadi faktor kunci bagi tim yang bertujuan untuk memenangkan gelar-gelar besar.
Oleh karena itu, pernyataan Ancelotti bukan hanya cerita tentang Brasil, tetapi juga pengingat akan kerasnya sepak bola tingkat atas, di mana keindahan hanya benar-benar bermakna ketika dibangun di atas fondasi yang kokoh.
Scr/Mashable















