Kutukan Harry Kane dan Cerita Mistis yang Selalu Mengiringi Piala Dunia

25.06.2026
Kutukan Harry Kane dan Cerita Mistis yang Selalu Mengiringi Piala Dunia
Kutukan Harry Kane dan Cerita Mistis yang Selalu Mengiringi Piala Dunia

Cerita mistis kembali menyelinap di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 setelah Inggris gagal menembus pertahanan Ghana dalam laga yang berakhir tanpa gol. Sorotan bukan hanya tertuju pada taktik dan peluang terbuang, tetapi juga klaim spiritual yang menyeret nama Harry Kane.

Ghana berhasil menahan Inggris 0-0 di Boston pada Rabu (25/06/2026), hasil yang membuat peluang Black Stars menuju fase gugur semakin terbuka. Bagi Inggris, laga itu menjadi malam yang mengecewakan karena barisan serang mereka tidak mampu mengubah dominasi menjadi kemenangan.

Kapten Inggris, Harry Kane, menjadi salah satu pemain yang paling disorot setelah gagal memanfaatkan peluang emas pada babak kedua. Kegagalan itu kemudian dikaitkan sebagian pihak dengan klaim Nana Kwaku Bonsam, tokoh spiritual kontroversial asal Ghana yang mengaku sedang “bekerja” untuk menghentikan Kane.

Bonsam bukan nama baru dalam cerita mistis sepak bola dunia, terutama ketika Piala Dunia memasuki fase penuh tekanan dan simbol kebanggaan nasional. Ia sebelumnya pernah mengklaim berada di balik gangguan cedera Cristiano Ronaldo menjelang Piala Dunia 2014, saat Portugal berada satu grup dengan Ghana.

Menjelang laga Inggris melawan Ghana, Bonsam menyatakan dirinya sedang mengerjakan sesuatu terhadap Harry Kane. Ia mengaku tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan penyerang Bayern Munich itu, tanpa berharap sang pemain mengalami cedera serius.

Pernyataan itu menjadi bahan pemberitaan internasional karena datang hanya beberapa hari sebelum Ghana menghadapi Inggris dalam laga krusial. Ketika Kane benar-benar tampil kurang tajam dan Inggris tertahan imbang, cerita mistis tersebut semakin mudah mendapat ruang di benak publik.

Bonsam menyebut dirinya terkenal karena berbagai prediksi dan kemampuan spiritual yang ia klaim dimiliki. Ia mengatakan pekerjaannya hanya bertujuan membantu Ghana, bukan untuk mencelakai Kane secara permanen atau merusak karier sang penyerang.

Namun sepak bola modern tetap bergerak di atas data, taktik, stamina, dan eksekusi di lapangan. Ghana menahan Inggris bukan karena semata-mata cerita kutukan, melainkan karena pertahanan disiplin, organisasi tim rapi, dan kemampuan mereka membatasi ruang gerak pemain lawan.

Laga itu sekaligus menambah daftar panjang hasil imbang tanpa gol Inggris di Piala Dunia. Dalam catatan yang dikutip dari artikel sumber, hasil melawan Ghana menjadi hasil 0-0 ke-13 Inggris sepanjang sejarah Piala Dunia.

Ghana tampil sabar dan tidak mudah terpancing keluar dari struktur permainan. Mereka menutup jalur umpan, menjaga area berbahaya, dan membuat Inggris kesulitan menciptakan peluang bersih meski memiliki nama-nama besar di lini depan.

Akan tetapi, sepak bola tidak pernah benar-benar steril dari cerita di luar lapangan. Di panggung sebesar Piala Dunia, rumor, takhayul, kutukan, dan simbol spiritual sering tumbuh berdampingan dengan statistik pertandingan.

Setelah laga, Bonsam kembali memantik perhatian melalui unggahan di Facebook. Ia mengaku akan “melepaskan” Harry Kane agar sang penyerang bisa mencetak gol pada pertandingan berikutnya, sembari menyebut Kane sebagai saudara yang ia cintai.

Cerita semakin unik karena ilusionis Uri Geller ikut merespons klaim kutukan terhadap Kane. Geller menyatakan akan “membatalkan” kutukan tersebut dengan mengirimkan getaran atau energi positif agar Kane bisa tampil baik bersama Inggris.

Geller bahkan menyebut akan menggunakan foto Kane dan foto sang dukun dengan tanda silang sebagai bagian dari caranya menangkal energi negatif. Klaim itu tentu sulit dibuktikan secara ilmiah, tetapi cukup kuat untuk menjadi bahan percakapan publik.

Kisah seperti ini menunjukkan bahwa Piala Dunia tidak hanya hidup dari skor dan klasemen. Turnamen empat tahunan tersebut juga menjadi panggung narasi budaya, kepercayaan, psikologi massa, dan cerita-cerita pinggir lapangan yang kadang lebih cepat menyebar dibanding analisis teknis.

Nana Kwaku Bonsam sendiri dikenal sebagai tokoh spiritual asal Ghana yang mengoperasikan tiga tempat pemujaan di Accra. Ia memperkenalkan diri sebagai “The Great Authentic Man” dan mengklaim pernah tinggal di sejumlah kota internasional seperti New York, Amsterdam, Berlin, dan Italia.

Dalam profil yang dikutip dari situsnya, Bonsam menyebut diri sebagai pendeta tradisional Afrika yang membantu banyak orang memperkuat sisi spiritual. Ia juga mengklaim menggunakan pengetahuan herbal dan kekuatan tradisional Afrika untuk mendukung berbagai kebutuhan hidup.

Namanya mendunia ketika ia mengaku telah memengaruhi kondisi Cristiano Ronaldo menjelang Piala Dunia 2014. Saat itu, Ronaldo mengalami gangguan kebugaran, dan Bonsam mengklaim sejak beberapa bulan sebelumnya telah melakukan ritual untuk menghalangi sang bintang Portugal.

Bonsam menyatakan cedera Ronaldo tidak akan sepenuhnya bisa dijelaskan secara medis. Ia bahkan menyebut menggunakan empat ekor anjing untuk ritual spiritual khusus yang disebut “Kahwiri Kapam”.

Klaim tersebut tentu berada di wilayah keyakinan dan tidak memiliki dasar pembuktian ilmiah yang dapat diverifikasi dalam standar olahraga modern. Namun dalam budaya sepak bola global, cerita semacam itu sering tetap hidup karena menyentuh rasa penasaran dan emosi pendukung.

Piala Dunia memang berulang kali memunculkan kisah mistis dari berbagai negara. Jauh sebelum era media sosial, tim nasional Peru disebut pernah membawa dua dukun lokal bernama Augusto dan Ramon Canales untuk membantu mereka secara spiritual pada Piala Dunia 1982.

Harapan Peru saat itu tidak berjalan sesuai ekspektasi karena mereka justru tersingkir sebagai juru kunci grup. Mereka gagal meraih kemenangan dan bahkan menelan kekalahan telak 1-5 dari Polandia.

Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, cerita mistis juga muncul dari tuan rumah. Seorang dukun disebut pernah merekomendasikan penyembelihan seekor sapi di Stadion Soccer City, Johannesburg, sebagai ritual mengusir nasib buruk dan memberi kekuatan bagi Bafana-Bafana.

Hasil akhirnya tidak memberi akhir bahagia bagi Afrika Selatan. Meski tampil sebagai tuan rumah, mereka tersingkir di fase grup setelah hanya finis di posisi ketiga Grup A.

Brasil 2014 juga menyimpan cerita sejenis melalui Marcia Fernandes, cenayang tuan rumah yang disebut memprediksi Jerman sebagai juara dunia. Prediksi itu kemudian terasa mencolok karena Jerman benar-benar keluar sebagai kampiun setelah mengalahkan Argentina di final.

Tidak semua praktik spiritual dalam cerita Piala Dunia bernada negatif atau bernuansa kutukan. Sejumlah paranormal Peru pernah melakukan ritual dukungan agar bintang-bintang besar seperti Neymar, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi tampil baik selama turnamen.

Mereka disebut membacakan mantra di depan foto para pemain dan mengembuskan asap cerutu di depan boneka yang mengenakan kostum tim nasional. Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana sepak bola kerap menjadi ruang pertemuan antara harapan, budaya, dan kepercayaan lokal.

Bagi sebagian orang, cerita mistis semacam ini hanya hiburan yang tumbuh dari tekanan kompetisi besar. Bagi sebagian lainnya, ia menjadi bagian dari identitas budaya yang dianggap memiliki makna tersendiri.

Dalam konteks Inggris melawan Ghana, yang paling bisa dijelaskan secara rasional tetaplah performa di lapangan. Inggris gagal memaksimalkan peluang, Ghana bertahan dengan disiplin, dan Harry Kane mengalami malam sulit seperti yang bisa dialami penyerang mana pun.

Namun narasi kutukan membuat pertandingan itu terasa lebih dramatis. Piala Dunia selalu menyukai cerita besar, dan kisah Bonsam terhadap Kane memberi bumbu tambahan pada laga yang secara skor sebenarnya berakhir datar.

Ghana mendapat keuntungan psikologis dari hasil imbang tersebut karena mereka semakin dekat dengan fase gugur untuk pertama kalinya dalam 16 tahun. Inggris, sebaliknya, harus segera merapikan efektivitas serangan agar tidak lagi membuang peluang penting.

Kane tetap menjadi tokoh sentral Inggris, terutama setelah sebelumnya mencetak dua gol saat The Three Lions menang 4-2 atas Kroasia. Karena itu, satu laga buruk tidak cukup untuk menilai kualitasnya secara keseluruhan.

Cerita mistis mungkin menarik, tetapi sepak bola tetap menuntut jawaban konkret di pertandingan berikutnya. Kane harus menjawab dengan gol, Inggris harus memperbaiki penyelesaian akhir, dan Ghana perlu menjaga kedisiplinan jika ingin melangkah lebih jauh.

Pada akhirnya, kisah dukun, kutukan, dan ritual spiritual adalah bagian dari warna Piala Dunia yang sulit dihapus. Ia hidup di sela-sela taktik, statistik, dan drama lapangan, sekaligus memperlihatkan bahwa sepak bola selalu lebih luas daripada sekadar permainan 90 menit.

Scr/Mashable





Don't Miss