Biang Kerok di Balik Harga RAM yang Ogah Turun: Konsumen Dikorbankan demi AI?

25.06.2026
Biang Kerok di Balik Harga RAM yang Ogah Turun: Konsumen Dikorbankan demi AI?
Biang Kerok di Balik Harga RAM yang Ogah Turun: Konsumen Dikorbankan demi AI?

Bagi Anda yang berencana merakit PC atau membeli gadget baru dalam waktu dekat, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam. Tren kenaikan harga perangkat teknologi konsumen terus meroket, dan biang kerok utamanya adalah kelangkaan cip memori global.

Sayangnya, mencari solusi jangka pendek untuk masalah ini tampaknya menjadi hal yang mustahil.

Hal terakhir yang diinginkan oleh Presiden Donald Trump saat ini adalah hantaman baru pada dompet konsumen. Namun, para pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) memiliki alat yang sangat terbatas untuk menyelesaikan krisis kelangkaan cip memori secara cepat.

Krisis inilah yang menjadi alasan mendasar di balik keputusan Apple menaikkan harga jual produk-produk terbaru mereka baru-baru ini.

Saat ini, pasar memori dikuasai oleh segelintir perusahaan saja, sementara membangun pabrik baru membutuhkan waktu bertahun-tahun. Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology adalah tiga raksasa yang mendominasi pasar cip memori DRAM.

Masalahnya, ketiga raksasa ini sedang jor-joran mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka untuk melayani industri kecerdasan buatan (AI). Langkah ini otomatis mencekik pasokan memori untuk perusahaan teknologi ramah konsumen.

Bayang-Bayang Trauma Krisis Masa Lalu

Para anggota parlemen AS sebenarnya telah mengesahkan dana bantuan dan kredit pajak senilai puluhan miliar dolar untuk memperluas kapasitas produksi semikonduktor di dalam negeri. Salah satu contohnya adalah megaproyek pabrik cip memori yang sedang dikejar oleh Micron di Boise (Idaho) dan Clay (New York).

Ironisnya, fasilitas pertama di Idaho baru bisa beroperasi pada pertengahan tahun 2027, sedangkan pabrik di New York tidak akan bisa memulai jalur produksinya hingga tahun 2030.

“Anda sedang menyaksikan pergeseran teknologi dengan kecepatan kilat, tetapi pergerakan itu tertahan oleh sistem fisik yang lambat seperti pembangunan pabrik,” ungkap Kathryn Mitchell, penasihat kebijakan teknologi di firma hukum DLA Piper yang bekerja sama dengan Departemen Perdagangan AS.

Selain kendala teknis, para produsen cip memori besar juga bersikap sangat hati-hati karena takut menciptakan gelombang kelebihan pasokan (oversupply) baru.Faktanya, pasar cip memori selalu melewati siklus “booming lalu hancur” (boom and bust).

Baru pada tahun 2023 lalu, SK Hynix asal Korea Selatan—yang kini bernilai lebih dari Rp1.000 triliun dan setara dengan Samsung serta Micron—mengalami kerugian miliaran dolar dan terpaksa memangkas produksi akibat kelesuan industri global. Pada tahun yang sama, Micron juga harus memecat 15% karyawannya.Kondisi berbalik total saat demam AI meledak.

Permintaan terhadap lini cip memori khusus untuk sistem server pelatihan dan pemrosesan model AI melonjak luar biasa. Di tengah tren ini, pusat data (data center) AI juga melahap cip memori tradisional dalam jumlah yang sangat masif.

“Perusahaan AI adalah pemain dengan ‘kantong paling tebal’ di perekonomian saat ini, dan mereka berani membayar harga tertinggi untuk memborong cip memori. Kita semua, sebagai konsumen biasa, mau tidak mau harus menerima kenyataan untuk menanggung beban biaya tersebut,” kata Jim Secreto, konsultan yang pernah bekerja di Departemen Perdagangan AS pada era pemerintahan Biden.

Pemerintah AS di bawah Trump bisa saja menginstruksikan produsen untuk mengalokasikan persentase produksi cip memori tertentu untuk produk teknologi konsumen. Namun, menurut para eksekutif dan analis industri, pengaturan seperti itu akan sangat sulit diterapkan dan justru berisiko memicu gangguan pasokan yang lebih parah di segmen pasar lainnya.

“Kartu As” China dan Tembok Tebal Keamanan Nasional

Di atas kertas, China sebenarnya menjadi solusi tercepat untuk mengatasi kelangkaan cip ini, meski sifatnya hanya sementara. Saat ini, dua produsen cip asal Negeri Tirai Bambu, yaitu CXMT (produsen DRAM terkemuka di China) dan Yangtze Memory Technologies atau YMTC (spesialis cip penyimpanan NAND), sedang berkembang pesat dan sangat agresif memperluas pasar global mereka.

Laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa YMTC tengah membangun tiga pabrik baru di China, yang diproyeksikan bakal melipatgandakan kapasitas produksi mereka saat ini pada akhir tahun 2027. Sementara itu, CXMT juga gencar membangun pabrik dan berupaya mengumpulkan dana segar sebesar USD 4 miliar melalui aksi IPO di bursa Saham Shanghai.

Pendapatan kuartal pertama CXMT bahkan melonjak lebih dari 700% dibanding periode yang sama tahun lalu, meskipun perusahaan mengakui teknologi produknya masih tertinggal di belakang Samsung, SK Hynix, dan Micron.

Namun, batu sandungan terbesarnya adalah regulasi keamanan nasional AS. Aturan ketat Washington membuat korporasi teknologi AS mustahil untuk bekerja sama dengan produsen cip asal China. Fokus utama Washington adalah melindungi rahasia teknologi inti, sekaligus menjaga posisi pasar bagi Micron serta pemasok sekutu dari Korea Selatan dan Jepang.

“Mana ancaman yang lebih besar: kelangkaan komponen atau mendukung China memproduksi memori canggih?” ujar Kevin Wolf, pengacara di firma hukum Akin Gump, menyoroti dilema pelik yang dihadapi para pembuat kebijakan.

Dari sudut pandang Wolf, memberi ruang bagi teknologi China dinilai sebagai langkah buruk bagi keamanan nasional.

Kendati demikian, kelangkaan cip memori ini sudah berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan. Beberapa raksasa teknologi konsumen bahkan dilaporkan sempat meminta pemerintah AS untuk melonggarkan aturan pembatasan kerja sama dengan Beijing.

Mereka juga mendesak Washington agar mempermudah Samsung dan SK Hynix dalam meningkatkan volume produksi di pabrik-pabrik mereka yang berada di daratan China.

Kasus dilematis ini bukan hal baru. Pada tahun 2022, Apple sebenarnya sempat menjalin kesepakatan dengan YMTC untuk menjadikan produsen China tersebut sebagai salah satu pemasok memori flash pada perangkatnya.

Namun, sang raksasa Cupertino akhirnya terpaksa membatalkan rencana tersebut akibat tekanan dan protes keras dari para anggota parlemen AS.

Selama perang dingin teknologi dan demam AI ini terus berlanjut, konsumen tampaknya harus menerima kenyataan bahwa harga komponen memori seperti RAM akan tetap bertahan di posisi tinggi.

Scr/Mashable




Don't Miss