Jepang resmi melangkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah bermain imbang 1-1 melawan Swedia di Stadion Dallas, Jumat (26/06/2026). Hasil ini memastikan Samurai Biru finis sebagai runner-up Grup F dengan raihan lima poin dari satu kemenangan dan dua hasil imbang.
Namun di balik kegembiraan lolos, tantangan terberat justru telah menanti di depan mata: Brasil, juara Grup C, yang akan menjadi lawan di babak 32 besar. Laga panas ini dijadwalkan berlangsung di Houston pada Senin, 29 Juni 2026 atau Selasa dini hari WIB.
Jepang sejatinya berpeluang menjadi juara grup andai mampu mengalahkan Swedia, namun keunggulan lewat gol Daizen Maeda di menit ke-56 harus sirna enam menit berselang. Anthony Elanga mencetak gol spektakuler yang membuat skor imbang bertahan hingga akhir pertandingan.
Berbarengan di laga lain, Belanda berhasil mengalahkan Tunisia 3-1 dan merebut puncak klasemen Grup F dengan tujuh poin. Dengan demikian, Jepang harus puas di posisi kedua dan menerima konsekuensi berat menghadapi raksasa Amerika Selatan tersebut.
Ini bukan pertama kalinya Jepang berhadapan dengan Brasil di pentas Piala Dunia, karena pada edisi 2006 silam mereka takluk dengan skor telak 1-4. Namun kini cerita berbeda, mengingat dalam laga uji coba 14 Oktober 2026 lalu, Jepang berhasil membalikkan keadaan dengan kemenangan 3-2 di Tokyo.
Kemenangan bersejarah itu menjadi modal kepercayaan diri besar bagi skuat asuhan Hajime Moriyasu, yang optimistis mampu mengulangi performa serupa di atas panggung sesungguhnya.
Perjalanan Jepang sejauh ini sebenarnya cukup meyakinkan meski tidak sepenuhnya sempurna.
Mereka mengoleksi satu kemenangan, dua hasil imbang, lima poin, serta tetap mempertahankan status tidak terkalahkan sepanjang fase grup yang menjadi modal penting menghadapi tekanan di babak gugur.
Yang menarik, Jepang tidak sekadar lolos dengan bertahan dan mengandalkan keberuntungan seperti beberapa tim kuda hitam pada masa lalu.
Mereka menunjukkan identitas permainan yang jelas melalui kombinasi umpan cepat, penguasaan bola agresif, serta keberanian menyerang yang selama bertahun-tahun menjadi hasil evolusi sepak bola modern Jepang.
Gol Daizen Maeda ke gawang Swedia menjadi contoh paling nyata bagaimana Jepang berkembang menjadi tim elite.
Proses gol tersebut diawali kombinasi cerdas antara Ritsu Doan dan Ayase Ueda sebelum umpan terukur Doan menemui pergerakan Maeda yang menyelesaikan peluang dengan tenang dan efektif.
Dalam banyak aspek, gaya bermain Jepang saat ini bahkan memiliki sentuhan yang mengingatkan publik pada Brasil era keemasan.
Mereka bermain dengan tempo tinggi, teknik individu yang baik, serta keberanian mengambil risiko di area sepertiga akhir lapangan yang selama ini menjadi ciri khas sepak bola Amerika Selatan.
Namun jalan menuju final tidak mungkin dilewati tanpa ujian yang sangat berat. Hadiah dari posisi runner-up grup adalah pertemuan dengan Brasil, negara pemilik lima gelar Piala Dunia yang masih menjadi simbol kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola internasional.
Jika Jepang benar-benar ingin dianggap sebagai kandidat juara dunia yang serius, maka Brasil adalah lawan yang harus mereka taklukkan.
Tidak ada panggung yang lebih tepat untuk membuktikan kualitas selain menghadapi tim yang selama puluhan tahun menjadi tolok ukur tertinggi sepak bola dunia.
Brasil datang dengan status juara Grup C setelah mengumpulkan tujuh poin dari tiga pertandingan. Tim asuhan Carlo Ancelotti juga menunjukkan efektivitas luar biasa melalui kemenangan telak atas Skotlandia dan Haiti serta hasil imbang melawan Maroko yang tampil mengejutkan.
Ancaman terbesar Brasil tentu berada pada Vinicius Junior yang telah mencetak empat gol sepanjang turnamen.
Kecepatan, kemampuan menggiring bola, serta naluri mencetak gol penyerang Real Madrid tersebut menjadi tantangan besar bagi lini pertahanan Jepang yang dipimpin kiper tangguh Jepang Zion Suzuki.
Meski demikian, Jepang memiliki alasan untuk percaya diri menghadapi raksasa Amerika Selatan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir mereka berhasil mengalahkan Inggris dan Brasil pada laga persahabatan, sebuah pencapaian yang menunjukkan kesenjangan kualitas kini tidak sebesar dua dekade lalu.
Pelatih Hajime Moriyasu juga menolak menganggap timnya sebagai underdog mutlak. Baginya, perkembangan sepak bola Jepang sudah berada pada titik di mana Brasil tidak lagi bisa memandang Samurai Biru sebagai lawan yang dapat dikalahkan dengan mudah.
Pernyataan Moriyasu bukan sekadar retorika yang bertujuan meningkatkan moral pemain. Jepang memang memiliki pondasi yang sangat kuat karena sebagian besar skuadnya bermain di liga-liga elit Eropa seperti Premier League, Bundesliga, Serie A, La Liga, dan Ligue 1.
Jika melihat komposisi pemain, kualitas individu Jepang saat ini merupakan yang terbaik sepanjang sejarah mereka.
Kehadiran nama-nama seperti, Takefusa Kubo, Ritsu Doan, Daichi Kamada, dan Daizen Maeda membuat mereka memiliki keseimbangan antara pengalaman, kreativitas, serta produktivitas.
Untuk memahami peluang Jepang menuju final, simulasi jalur turnamen menjadi menarik untuk dianalisis. Skenario pertama mengharuskan mereka mengalahkan Brasil di babak 32 besar yang akan menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah sepak bola Jepang di ajang Piala Dunia.
Apabila mampu menyingkirkan Brasil, kepercayaan diri Jepang akan melonjak drastis dan membuka peluang menghadapi lawan yang secara psikologis lebih mudah ditaklukkan. Dalam turnamen besar, kemenangan atas favorit utama sering kali menciptakan momentum yang mampu membawa sebuah tim melampaui ekspektasi.
Sejarah Piala Dunia memberikan banyak contoh mengenai fenomena tersebut. Kroasia berhasil mencapai final pada 2018, Maroko menembus semifinal pada 2022, sementara Korea Selatan mengejutkan dunia dengan melaju hingga empat besar pada 2002 meski tidak masuk kategori unggulan.
Jepang memiliki sejumlah kesamaan dengan tim-tim kejutan tersebut yakni organisasi permainan yang solid dan disiplin kolektif yang sangat tinggi. Perbedaannya, kualitas teknis Jepang saat ini bahkan dianggap lebih matang dibanding banyak tim kuda hitam yang pernah menciptakan sejarah sebelumnya.
Faktor terbesar yang bisa menentukan nasib Jepang justru datang dari dalam diri mereka sendiri. Selama bertahun-tahun, Moriyasu sering mendapat kritik karena terlalu berhati-hati ketika menghadapi pertandingan penting dan terkadang gagal memaksimalkan potensi menyerang yang dimiliki skuadnya.
Pada Piala Dunia 2022 misalnya, Jepang sukses mengalahkan Jerman dan Spanyol tetapi justru kalah dari Kosta Rika ketika dianggap lebih unggul. Kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama Jepang bukan kemampuan teknis, melainkan keberanian mempertahankan identitas bermain dalam berbagai situasi.
Piala Dunia 2026 menawarkan kesempatan untuk menghapus keraguan tersebut. Jika Jepang berani tampil menyerang, menguasai bola, dan memainkan sepak bola proaktif melawan Brasil maupun lawan-lawan berikutnya, mereka bisa menciptakan kejutan yang selama ini selalu dinanti pendukungnya.
Di balik semua ambisi itu, ada sebuah proyek besar yang menjadi fondasi perjalanan Jepang. Sejak awal 1990-an, federasi sepak bola Jepang meluncurkan visi jangka panjang untuk menjadikan negara tersebut juara dunia pada 2050.
Saat ini Jepang sudah tampil dalam delapan Piala Dunia beruntun sejak debut mereka pada 1998. Mereka juga konsisten berada di jajaran 20 besar ranking dunia dan mampu mengirim hampir seluruh pemain terbaiknya ke kompetisi elite Eropa.
Semua indikator menunjukkan Jepang sedang bergerak ke arah yang benar. Infrastruktur sepak bola, pembinaan usia muda, kualitas liga domestik, hingga ekspor pemain ke Eropa berkembang jauh lebih cepat dibanding sebagian besar negara Asia lainnya.
Karena itu, target mencapai final Piala Dunia 2026 mungkin terdengar ambisius tetapi tidak lagi mustahil. Jika mampu mengatasi Brasil dan menjaga keberanian bermain sepanjang fase gugur, Samurai Biru berpotensi menulis babak paling bersejarah dalam perjalanan sepak bola Jepang.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Jepang di Amerika Serikat bukan hanya soal mengangkat trofi.
Menembus perempat final untuk pertama kalinya saja sudah menjadi lompatan besar, sementara mencapai semifinal atau final akan menjadi bukti bahwa mimpi menjadi juara dunia pada 2050 bukan sekadar slogan.
Pertandingan melawan Brasil kini menjadi gerbang yang memisahkan mimpi dan kenyataan.
Bila Jepang mampu melewati ujian terbesar tersebut, dunia mungkin akan mulai percaya bahwa proyek sepak bola yang mereka bangun selama lebih dari tiga dekade benar-benar menuju puncak kejayaan.
Scr/Mashable
















