Ada adegan klasik yang sering berulang di tongkrongan, kafe third-wave atau party tengah malam: Ada seseorang yang megang kendali aux cord, lalu memainkan lagu dangdut koplo atau melayu era 2000-an. Dalam selaksa detik, suasana ruangan terbelah. Ada yang tertawa karena nganggepnya itu lucu, ada yang joget tapi pake gengsi dan ada aja satu si paling kurator yang mengernyitin dahi seolah-olah telinganya baru saja tercemar sama limbah B3.
Si paling kurator ini biasanya bakalan tersenyum kalo lagu berganti jadi unit post-punk asal Inggris yang pendengarnya cuma tiga digit di Spotify atau lagu hyperpop eksperimental yang struktur bunyinya mirip sama besi seng yang lagi ngadu sama mesin cuci yang rusak.
Di titik itu, timbul sebuah pertanyaan purba yang kembali menyeruak: Standar ukurnya apa-sih? Apakah selera musik emang punya hierarki. Ada yang tinggi, adiluhung dan juga elegan. Sementara yang lain itu rendah, murahan, norak, kampungan?
Secara akustik dan mungkin frekuensi audio mah enggak ada. Tapi secara sosiologis dan politik kelas, mungkin: Ya, dan itu dibuat dengan sengaja.
Mitos Pikiran Jernih dan Fetisisme Njelimet
Selama kehidupan, tukang-tukang snob musik ini ngebungkus keangkuhan mereka tapi dengan argumen estetika. Musik tinggi, entah itu musik klasik, jazz progresif, math-rock, apa ambient-glitch, selalu disucikan lewat narasi njelimetnya struktur, eksplorasi harmoni atau lirik-lirik puitis yang pusingnya ngalah-ngalahin skripsi.
Sebaliknya, musik yang dikategorikan rendah, seperti dangdut jalanan, musik pop Melayu, atau breakbeat kotakan kayak Morena itu dicap murahan karena dianggap repetitif, formulatis, dan dijual untuk konsumsi massal yang males berpikir.
Akh! Itu cuma omong kosong akademis yang usang.
Memang butuh keahlian teknis tinggi untuk bisa maenin tangga nada yang rumit ala-ala progressive metal. Tapi ngukur kualitas seni cuma dari tingkat keribetannya itu adalah pemikiran paling pemalas. Kalo kriteria musik bagus adalah kerumitan atau ribet, maka suara mesin jet tempur yang ngalamin error mekanis harusnya bisa dinobatkan sebagai mahakarya musik eksperimental paling terbaik di abad ini.
Musik rendah-an sering kali dihujat bukan karena kualitas bunyinya yang buruk, melainkan karena itu gampang diakses. Dan dalam dunia kultur pop yang toksik ini, apapun yang gampang diakses sama kelas pekerja itu otomatis bakal kehilangan aura eksklusivitasnya.
Kapital Budaya dan Ketakutan Menjadi Pasaran
Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, puluhan tahun lalu udah ngulitin fenomena ini lewat konsep cultural capital (kapital budaya). Pak Bourdieu ngejelasin kalo selera seni bukanlah murni insting personal yang tumbuh dari ruang hampa. Selera adalah penanda kelas sosial.
Ketika seseorang mengklaim dirinya cuma ngedengerin unit shoegaze era 90-an yang rilisan fisiknya cuma dicetak 50 keping dalam bentuk kaset pita, dia sebenernya enggak cuma lagi nikmatin audio. Dia lagi nyiar-in pesan implisit ke dunia:
“Gue punya waktu, akses, duit dan latar belakang sosial yang cukup buat nyari barang langka ini. Gue beda nih sama lo lo yang cuma ngedengerin apa yang diputer di radio atau FYP TikTok.”
Selera musik dijadikan benteng pertahanan status sosial. Orang-orang itu bakal panik kalo selera mereka disamain sama massa. Makanya, begitu sebuah subkultur atau genre underground diadopsi oleh khalayak luas, para purist ini bakalan langsung pergi meninggalkannya dan mencari genre baru yang makin obskur demi ngejaga jurang pemisah tersebut.
Di Indonesia sendiri, fenomena ini makin absurd. Duluu, dangdut itu dianggep musik kelas bawah atau orang kampungan. Tapi pas begitu anak-anak muda yang pake baju thrifting di festival indie mulai joget koplo di bawah naungan narasi ironic listening atau perayaan kebudayaan rakyat, dangdut mendadak jadi keren dan diizinkan masuk ke dalam selera orang-orang berkulit bersih.
Artinya… Kualitas musiknya itu enggak pernah berubah dari dulu. Yang berubah itu adalah siapa yang memberikan validasi kalo musik itu baru dianggap layak setelah disucikan oleh stempel selera kelas menengah urban.
Skena,Gatekeeping dan Dosa Ekosistem Lokal
Lihat gimana industri dan publik lokal kita memperlakukan genre musik. Musisi pop melayu-mendayu-bersendusendu atau dangdut ketuplaktungtung sering kali dipandang sebelah mata sama media-media musik. Baik yang mapan apalagi homeless, dianggep enggak punya artistic value cuma karena lirik mereka berbicara jujur soal sakit hati, khayalan, kesulitan ekonomi, dan desakan hidup sehari-hari tanpa diselimuti oleh metafora senja-gerimis-hujan.
Sementara itu, band indie rock yang liriknya cuma ngulang tiga kata bahasa Inggris berantakan bisa dipuja-puja setinggi langit cuma karena mereka pake efek gitar fuzz.
Gatekeeping ini ngelahirin generasi pendengar yang menderita inferiority complex. Banyak orang yang takut untuk ngakuin kalo mereka nikmatin lagu-lagu pop melayu di bilik kamar mandi atau pas lagi nyetir sendirian, terus buru-buru masang playlist post-rock di profil Spotify biar mereka terlihat pintar dan punya kedalaman spiritual.
Kita ini hidup di zaman di mana orang-orang enggak lagi ngedengerin musik pake telinga, tapi pake gengsi.
Enggak Ada Musik Tinggi, yang Ada Cuma Batas Toleransi Kelas
Pada akhirnya, ngebagi musik ke dalam tingkatan tinggi dan rendah itu adalah usaha yang sia-sia dari manusia yang ketakutan kehilangan identitas.
Secara ilmiah, musik itu cuma getaran frekuensi di udara yang memicu reaksi kimia di otak. Saat lagu koplo bisa buat seorang supir truk tetap terjaga di jalan tol di malam hari yang bisa nyelametin nyawanya, sementara lagu ambient pilihan lo-itu ngebuat seorang mahasiswa ngorok pas kuliah, instrumen mana yang sebenarnya berfungsi lebih efektif?
Enggak ada selera yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada cuma ruang-ruang sosial yang ngebatesin sama siapa lo bergaul, ada berapa saldo di rekening lo dan seberapa besar ketakutan lo buat dianggap biasa-biasa aja sama sirkel lo.
Kalo lo masih ngerasa selera musik lo itu bisa membuat derajat lo lebih tinggi tiga meter dari orang lain di dalam ruangan, selamat: Lo dah jadi korban pemasaran dan politik kelas yang sedang menyamar jadi music director.





















![Poster 2025 STAYC TOUR [STAY TUNED] yang akan digelar di Istora Senayan pada bulan Juni mendatang (Foto: Tangkap layar Instagram @dyandraglobal)](https://hellokepsir.com/storage/2025/03/etbh03pwe93rykt-1024x768.jpeg)