Artwork: EP Population - Barpinson
Artwork: EP Population - Barpinson

Barpinson dan ‘Population’: Soundtrack untuk ‘Rush Hour’ Kehidupan di Kepala Tiga

Masuk umur 30 bukan berarti berhenti nge-band. Cuma ganti distorsi jadi suara lipstick pickup yang lebih classy.
25.12.2025

Ada teori menarik dari Dr. Clare Mehta, profesor psikologi dari Emmanuel College, Boston. Dia bilang usia 30-an itu adalah masa “rush hour” kehidupan manusia. Masa di mana karier, hubungan, dan prinsip hidup bertabrakan di persimpangan jalan yang sibuk, memaksa kita mengubah cara pandang terhadap norma-norma lama.

Di tengah kemacetan eksistensial itulah, Barpinson lahir.

Ini adalah moniker solo terbaru dari Prabu Pramayougha. Kalau lo tumbuh besar di gigs Jakarta, lo pasti kenal dia sebagai pentolan unit pop punk legendaris, Saturday Night Karaoke (SNK).

Setelah 18 tahun berkutat dengan distorsi kasar dan tempo cepat ala punk rock, Prabu memutuskan bahwa usia 30-an butuh soundtrack yang berbeda. Barpinson adalah kanal pelarian—atau mungkin justru kanal utama barunya—untuk memproyeksikan kedewasaan musikal yang enggak bisa ditampung di wadah lamanya.

Estetika Lipstick Pickup dan Stiff Records

Debut EP-nya yang bertajuk “Population” berisi empat trek yang secara tegas menarik garis batas dari masa lalu punk-nya.

Lupakan celana melorot atau chorus teriak-teriak. Barpinson menawarkan Power Pop dan Pop Rock yang necis. Bayangkan estetika Elvis Costello atau katalog rilisan Stiff Records era 70-an akhir: kemeja rapi, kacamata bingkai tebal, dan gitar dengan lipstick pickup yang bunyinya twangy tapi renyah.

Musiknya terdengar lebih terukur, melodius, dan punya hook yang catchy tanpa perlu terdengar agresif. Ini adalah jenis musik yang lo putar saat lo mau merasa keren sambil nyetir mobil (yang cicilannya mungkin bikin pusing), bukan saat lo mau moshing di pit.

Barpinson
Barpinson

Fase Baru Penulisan Lagu

Barpinson bukan proyek iseng-iseng berhadiah. Prabu memposisikan unit ini sebagai pusat kreatif penulisan lagunya yang sekarang.

Gelembung-gelembung pikiran seorang pria dewasa yang menghadapi rush hour kehidupan diterjemahkan menjadi lirik-lirik yang mungkin lebih kontemplatif, tapi dibalut musik yang bikin kepala ngangguk. Ada kedewasaan dalam cara dia merangkai nada, sebuah upgrade perspektif dari seseorang yang sudah makan asam garam panggung selama hampir dua dekade.

Jadi, buat lo yang juga merasa terjebak di usia 30-an, atau sekadar rindu dengan sound gitar yang kering dan vokal yang melodius, “Population” adalah teman yang pas.

Barpinson membuktikan satu hal: menua di skena itu enggak menakutkan, asalkan lo tahu cara mengganti distorsi dengan gaya yang lebih elegan.




Don't Miss