Artwork Dimabuk Cahaya - Float
Artwork Dimabuk Cahaya - Float

Float: Menolak Tua, Menolak Tenggelam, dan Mabuk Cahaya

Enggak perlu lari kencang atau menyelam dalam, Float cuma perlu mengapung untuk tetap relevan.
11.12.2025

Dua dekade lebih satu tahun. Itu durasi yang cukup buat sebuah band untuk bongkar pasang personil, bubar, reuni, atau hilang ditelan bumi. Tapi Float memilih jalan lain: mereka tetap ada.

Setelah 21 tahun mewarnai lanskap musik Indonesia dengan lagu-lagu yang sering jadi soundtrack perjalanan liburan anak muda, unit yang dimotori Hotma “Meng” Roni Simamora ini kembali bersuara. Single terbaru bertajuk ‘Dimabuk Cahaya’ resmi dilepas.

Penting dicatat: ini bukan comeback. Jangan sebut ini kembalinya sang legenda atau istilah bombastis lainnya. Bagi Meng (vokal/gitar), Timur Segara (drum), David Qlintang (gitar), dan Binsar Tobing (bass), ini cuma lanjutan napas.

“Kami cuma meneruskan napas yang sama, tapi mungkin warnanya beda, lebih segar,” kata Meng santai.

Mengapung di Era FYP

Di zaman di mana musisi dipaksa “ngemis” atensi lewat konten pendek biar viral, Float justru asyik dengan filosofi nama mereka sendiri: mengapung.

Posisi mengapung itu unik. Enggak perlu terbang ketinggian sampai lupa daratan, tapi juga menolak tenggelam. Stabil. Filosofi ini jadi antitesis dari kegaduhan industri hari ini. Binsar menegaskan kalau mereka enggak butuh ribut-ribut cuma buat kelihatan relevan.

“Yang penting jujur dengan karya kami sendiri,” ujar Binsar. ‘Dimabuk Cahaya’ adalah perlawanan halus mereka terhadap dikte algoritma yang melelahkan.

Property of Float
Property of Float

Nuansa James Bond dan Kebenaran yang Menyilaukan

Kalau kamu dengerin lagunya, ada aroma vintage 70-an yang kental. Hangat, organik, dan sedikit sinematik. Meng mengaku kalau inspirasinya datang dari salah satu theme song James Bond klasik, You Only Live Twice.

Kalau kamu harap liriknya tuh manis manja. Salah, broh!

Judul ‘Dimabuk Cahaya’ ini mungkin terdengar romantis, tapi isinya justru tajam. Cahaya di sini bukan lampu tidur yang lembut dan bikin tenang, tapi justru sorot lampu interogasi yang “menelanjangi”. Ia membuka hal-hal yang selama ini kita sembunyikan.

Bagi Float, cahaya adalah simbol pengetahuan dan iman. Sesuatu yang kadang bikin mata sakit saking terangnya, tapi di ujungnya membebaskan.

“Lewat lagu ini kami merasa lebih hidup!” tambah David.

Lagu ini cocok banget diputar pas kamu lagi nyetir sendirian tengah malam, atau pas lagi duduk bengong mikirin hidup yang gini-gini amat. Float enggak lagi ngejar tren. Mereka cuma mastiin kalau api (atau cahaya) yang mereka pegang sejak 2004 dulu masih menyala terang.




Don't Miss