Artwork EP Harness Your Sucks [by Boy Adi Nugroho]
Artwork EP Harness Your Sucks [by Boy Adi Nugroho]

‘Harness Your Sucks’: Ketika Bandar Lampung Merayakan Kualitas Audio ‘Busuk’ dan Estetika Kepepet

Ketika band-band lain sibuk memoles sound biar masuk playlist Spotify, anak-anak Lampung ini malah bongkar brankas artwork lama dan merekam demo pakai alat seadanya. Hasilnya? Jujur dan berisik.
31.12.2025

Tahun 2026 sudah di depan mata, tapi segerombolan anak muda di Bandar Lampung justru melakukan manuver yang terdengar primitive. Di saat orang-orang sibuk bikin konten 15 detik buat TikTok, mereka malah mengumpulkan 6 band—The Dominan Circus, Dovglas, Zzea, Radiofriendly, Dizer, dan The Muka Melas—untuk desak-desakan di satu EP.

File pres rilis itu mendarat di surel kami (padahal kirim wa) dengan artwork warna pink mencolok yang bikin sakit mata. Judulnya provokatif sekaligus menyedihkan: Harness Your Sucks.

Gue memutuskan untuk menginterogasi para dalangnya—Risky Novaldi dan Erry Arya Purnama—plus sang ilustrator Boy Adi Nugroho dalam sebuah WAG atawa group chat yang intens. Gue datang dengan skeptis, mereka menjawab dengan pasrah.


HK: Jujur, di tahun yang mau ke 2026 ini, bikin album kompilasi itu kedengarannya kayak ide yang… primitive. Orang-orang sekarang maunya dengerin single 15 detik di TikTok, tapi lo orang malah ngumpulin 6 band Bandar Lampung buat desak-desakan di satu EP.

Terus judulnya: “Harness Your Sucks”. Apakah judul ini bentuk defense mechanism lo orang? Seolah-olah mau bilang, “Iya, band kami emang payah/sucks, jadi kalau nggak laku ya wajar,” atau ini justru sindiran sarkas buat skena lokal yang isinya orang-orang “jago” tapi nggak pernah gerak?

Erry: Buat gue pribadi sih, sebenernya nama atau artwork di situ gue enggak terlalu mentingin. Kalo nama itu Risky yang buat. Gue perlu jelasin juga, awalnya kebentuk kompilasi ini karena ajakan Risky mau buat acara musik. Cuma kan enggak halal kalo buat acara musik tapi enggak ada yang dibawa (karyanya). Artinya enggak ada apa-apaan, buat apa? Nah, idenya ya buat kompilasi ini.

Rizki: Pertama, kalo dari judul besar sebenernya enggak ada tujuan untuk nyindir atau sarkas ke siapapun. Lebih ke teknis sih, Bang. Maksudnya berusaha untuk ngajak teman-teman untuk terus produktif aja. Memanfaatkan alat yang ada, mulai dari take sampe mastering.


HK: Oke, nangkep. Jadi “Sucks” di sini bukan soal skill, tapi soal gear? Tapi riskan banget, Bang. Ada batas tipis antara Lo-Fi estetik sama audio busuk yang bikin sakit kuping.

Yakin kualitas produksi 2 minggu dengan alat seadanya ini aman buat telinga pendengar umum? Atau emang target pasarnya cuma sesama anak punk yang udah kebal noise?

Erry: Target sih untuk semua lah. Tapi untuk yang suka kualitas begitu tentunya. Enggak mungkin untuk cewek dandan dan cowok-cowok nge-gym.


HK: Okeh. Jadi jelas ya, ini bukan musik buat konten Get Ready With Me atau playlist cardio. Udah ada DJ Butterfly buat itu.

Tapi di rilis kalian bilang benang merah album ini adalah “Spirit Punk”. Pertanyaan gue: Apa label “Punk” di sini murni soal sikap, atau cuma alibi biar pendengar maklum sama kualitas audio yang hancur karena keterbatasan budget dan alat tadi?

Terus, dari 6 band yang rekamannya dikebut cuma 2 minggu ini, mana trek yang prosesnya paling bencana atau chaos, tapi hasilnya justru jadi favorit lo berdua?

Rizki: Hasil final mastering emang sesuai kebutuhan band masing-masing sih, Bang. Kalo dari gue, band gue sendiri sih, Dovglas. Karena emang bener-bener bisa berkali-kali take sampe dapet serek-nya (serak/kasar). Trek yang paling bencana ya proses take-nya itu sendiri.

Erry: Iya dong, kan udah ada Poris mungkin buat nge-gym, haha. Ya simpel aja sih, kenapa terjadinya kompilasi ini juga emang sat-set, nggak harus lama nyiapin apa-apa. Buat aja, enggak mikir jadi/hasil/kualitasnya kayak gimana, sikat aja udah. Balik lagi ke kuping masing-masing mau dikata kayak apa. Label “Punk” di sini karena gotong royong dan proses rekaman yang terlalu cepat itu. Menurut kita itu punk. Udah cukup lah, enggak perlu buat nyerang pihak lain.


HK: Oke, “Sikat aja” adalah mantra terbaik buat menutupi kekurangan budget. Kepsir!

Tapi gue lihat tracklist-nya agak bipolar nih. Ada The Muka Melas bawa judul berat “Feodalis Ala Eropa”, tapi di sisi lain ada The Dominan Circus dengan judul “Sejengkal Dari Wajahmu” yang kedengarannya menye-menye banget buat ukuran album punk.

Definisi “Punk” yang kalian jual di sini sebenarnya apa? Apakah label “Punk” itu cuma tempelan buat attitude “rilis karya modal nekat”, atau sebenarnya ada musuh bersama yang lagi kalian lawan lewat lagu-lagu ini?

Rizki: Tracklist emang kita bebasin sih, Bang. Karena poinnya emang pengen ngajak temen-temen rilis, agar terlihat produktif.

Erry: Denger sendiri aja kali ya tracklist-nya…


HK: “Agar terlihat produktif.” Setdah, itu jawaban jujur. Di saat band lain sibuk bikin gimmick misterius, kalian cuma pengen bilang, “Kami masih hidup, woy.” Kepsir!.

Tapi gue mau nyerempet ke info di rilis yang bilang kalo kalian bakalan rilis format Kaset Pita. Bulan depan udah tahun 2026. Siapa yang masih punya tape deck selain kolektor barang antik?

Apakah rilis fisik ini murni merchandise biar kelihatan “skena banget”, atau emang kalian percaya lagu-lagu kualitas 2 minggu ini layak diabadikan secara analog? Dan duit buat cetak kaset itu dari mana? Ada Sugar Daddy skena? Jujur aja, transparansi itu punk.

Rizki: Nyatanya emang itu, Bang. Murni emang rencana satu sama lain kepengen dijadiin artefak juga. Rencananya metodenya begini: buka PO (Pre-Order) T-shirt, keuntungan T-shirt kemudian kita lariin ke kaset & showcase. Syukur-syukur ada lebih buat ongkos makan band.

Erry: Iya, rencananya yang lain katanya pengen bikin rilisan fisiknya dalam bentuk kaset pita. Untuk showcase itu nanti belum fix, tapi ada dua plan. Plan A nyodorin ke sponsor udud (rokok), syukur kalo tembus. Plan B, kita bikin seadanya. Pihak Naked Wave juga udah nyodorin alat-alat dan bersedia operatorin mixer. Intinya silaturahmi, bonusnya ngeband.


HK: Subsidi silang dari kaos buat biayain ego ngeband. Classic move. Sekarang gue mau bahas orang gila di ruangan ini: Artwork-nya.

Di rilis lo nulis warna Pink dipilih karena identik sama hal “erotis dan seksi”. Bullshit apa lagi ini? Gue liat gambarnya si Boy: Orang lari, mata melotot, bawa ampli, colokan copot (kewer-kewer). Di mana letak seksinya? Itu lebih mirip muka panik orang yang baru nyolong ampli mushola terus dikejar warga.

Jujur aja, colokan yang enggak nancep di gambar itu simbol apa? Simbol kalau kalian sebenernya putus koneksi dari industri yang mapan, atau emang murni lupa digambar colokannya karena keburu deadline?

(Boy Adi Nugroho, sang ilustrator, bergabung ke dalam percakapan)

Boy: Oke gue jawab ya, Mas. Sebenernya kemaren tuh Mas Risky nge-deadline artwork-nya mepet banget. Terus gue dipercaya disuruh garap, tapi karena singkat jadi gue inisiatif ngasih alternatif: “Gimana kalo gue ngebongkar brankas artwork-artwork lama gue?”

Terus temen-temen pada mengiyakan. Yaudah gue kasih 2 alternatif arsip lama dan terpilihnya yang itu.

Sebenernya artwork itu simpelnya estetika kebebasan artistik musik aja sih, Mas. Di mana kita di daerah masing-masing jangan sampai terganggu enggak bikin karya cuma karena piranti seadanya. Jadi istilahnya dengan modal alat yang kita punya, yaudah kita jujur aja, kita berkarya aja. Kata kasarnya kita “asik sendiri” aja dengan segala keterbatasan.


HK: Beuhhh, bongkar brankas. Jadi intinya ini artwork hasil daur ulang karena kepepet? Jawaban lo itu justru bikin semuanya makin masuk akal. Enggak ada yang lebih Punk daripada make apa yang ada—termasuk file lama di harddisk—biar kerjaan kelar.

Satu pertanyaan terakhir buat nutup sesi ini. Singkat aja. Misal nih, worst case scenario: Kaset numpuk di lemari enggak laku, showcase sepi, yang download di Bandcamp gak ada, yang denger di Spotify cuma lo orang doang plus pacar masing-masing.

Proyek kolektif ini bakalan tetep lanjut ke Vol. 2, atau kalian bakal balik kandang, bubar jalan, dan pura-pura proyek ini enggak pernah kejadian? Seberapa tebal muka lo orang buat terus “Sucks”?

Erry: Kayaknya produksinya sedikit aja lah, minimal 50 pcs kaset. Vol. 2, Vol. 3 tai lah haha, enggak ada. Kalo nanti mau buat lagi ya bikin nama baru. Seberapa tebal? Setebal niat terus buat karya entah sampe kapan. Buat aja tanpa harus tau mau dibawa ke mana.

Rizki: Apapun yang terjadi ke depannya nanti yang jelas kita tetap akan mengadakan showcase rilisan kompilasi nya, Bang (pasti ada jalan). Next hmmm, mungkin perlu didiskusikan kembali sama teman-teman yang laen hehe.

Boy: Spontanitas, Bikin, Rilis, Repeat.


HK: “Spontanitas, Bikin, Rilis, Repeat.” Singkat, padat, dan agak ugal-ugalan. Eug suka.

Oke, karena kalian udah mutusin buat enggak peduli sama mau dibawa ke mana, kita bungkus sesi ini dengan satu pertanyaan pamungkas.

Di luar sana, banyak banget musisi kamar yang insecure. Mereka nimbun lagu di harddisk bertahun-tahun karena takut mixing-nya belum sekelas major label atau takut dibilang cringe. Kalian udah membuktikan kalo “Sucks” itu bisa jadi senjata, bukan aib.

Apa kalimat terakhir lo orang buat mereka—para perfeksionis yang penakut itu—biar mereka berhenti kebanyakan mikir dan mulai bikin kekacauan kayak kalian sekarang juga? Mic is yours.

Erry: Udah jangan kebanyakan cak-cik-cuk. Kualitas bagus atau enggak, enggak ada pelajaran khusus atau patokan yang bagus itu apa. Kalo pikiran awal lu udah begitu, selamanya karya lu cuma jadi beras yang dimakan rayap; enggak dimasak apa lagi disajiin. Yang lu bilang bagus belum tentu buat gue bagus, yang lu bilang jelek belum tentu buat gue jelek.

Rizki: Kalo aku sih Bang, sesuai di deskripsi di Bandcamp ya: Manfaatin aja kekurangan lo (sikat aje). Kadang kesempurnaan karya seni sering ditemukan dalam ketidaksempurnaan, kesalahan teknis, & kejujuran yang tulus!

Boy: Buat sejujur mungkin, output-nya gimana itu cuma bonus. Jangan stop enggak bikin apa-apa walaupun cuma demo yang direkam di studio murah 1 jam 35 ribu atau pakai voice note HP iP7. Rilis. Jangan malu jadi RAW di antara yang kinclong ini.


Pernyataan Boy barusan adalah penutup paling brutal sekaligus manis buat obrolan kacau ini.

Buat kalian yang merasa hidupnya lagi buffering, EP Kompilasi “Harness Your Sucks” rilis resmi tanggal 03 Januari 2026 di bawah bendera Freakscene Records & Lantai Dua Music. Beli dan dengerin di Bandcamp atau di manapun, sebelum kaset pitanya jadi sarang debu di lemari mereka.

Cover Art HARNESS YOUR SUCKS
Judul EP: HARNESS YOUR SUCKS | Artis: Various Artists | Label: Freakscene Records, Lantai Dua Music Records | Tahun Rilis: 2026 | Artwork & Layout: Boy Adi Nugroho |
Tracklist:
1. The Dominan Circus – Sejengkal Dari Wajahmu (01:49)
2. Dovglas – Merangkap Pagi (02:40)
3. Zzea – Arang (02:51)
4. RADIOFRIENDLY – Samar (04:22)
5. Dizer – Melekat (04:12)
6. The Muka Melas – Feodalis Ala Eropa (02:34)



Don't Miss