Pukul 16.45 bagi sebagian orang mungkin cuma angka di jam tangan yang nandain waktu pulang kantor. Tapi bagi Jeima Aleyya Haudy, jam itu adalah sebuah perasaan.
Penyanyi sekaligus pianis muda ini baru saja memperkenalkan diri ke industri lewat karya perdananya yang diberi judul “16.45”. Dirilis pada 12 Desember 2025 kemarin, lagu ini seolah jadi undangan buat siapa saja yang pengen ngerasain hangatnya momen golden hour lewat nada.
Bukan Soal Orang, Tapi Soal Rasa
Sering kali, lagu romantis itu identik sama satu nama atau satu cerita cinta yang spesifik. Menariknya, Jeima enggak mau terjebak di sana.
“16.45” lahir dari proses imajinasi dan visualisasi. Jeima merangkum berbagai pengalaman dan nuansa yang muncul saat matahari mulai turun: lembut, hangat, dan penuh kenyamanan. Judul itu dipilih karena menurut dia, jam segitu vibe-nya lagi romantis-romantisnya.
“Aku pengen orang ngerasain itu juga saat dengerin lagu ini,” ungkap Jeima. Dia pengen membagikan kehangatan yang dia rasain ke dalam telinga pendengarnya.
Identitas Jazz dan Sentuhan Klasik
Sebagai musisi yang megang kendali penuh, Jeima turun langsung buat nulis lirik, nyanyi, sampai mainin piano buat single debutnya ini. Dia banyak bereksperimen di studio buat nemuin ramuan yang pas antara warna Jazz dan Classical-infusion. Dua gaya inilah yang sekarang jadi identitas musiknya.

Proses produksi “16.45” juga dibantu oleh tangan-tangan yang paham betul soal estetika bunyi. Ada Esmond di kursi produser dan Aldo Zulham Ertanto sebagai co-produser. Urusan kemasan suaranya dipercayakan ke Agi Anggadarma yang menangani mixing serta mastering.
Jazz yang Hidup, Bukan Sekadar Latar
Selama ini, mungkin banyak yang nganggep jazz itu musik yang cuma cocok jadi background di kafe-kafe mahal. Jeima pengen ngebongkar persepsi itu. Lewat “16.45”, dia pengen jazz terasa lebih hidup, bisa dinikmati siapa saja, dan bikin orang tersenyum pas dengerinnya.
“Jazz itu bukan cuma background music semata,” tegasnya. Dia punya misi buat bikin genre ini lebih dihargai dengan cara yang lebih berani dan menyenangkan.
Setelah debut yang hangat ini, Jeima kabarnya sudah punya ancang-ancang buat karya berikutnya. Masih tetap di koridor Classical-infusion Jazz, tapi bakal terasa lebih personal dan orisinal karena terinspirasi dari perjalanan hidupnya sendiri.
Buat kamu yang lagi butuh teman buat menikmati sore yang tenang, “16.45” sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Duduk santai, dengerin piano Jeima, dan biarkan kehangatannya masuk pelan-pelan.



![I.\ Artwork: Pulang - PUTICS \ [by Hibatullah Sukma]](https://hellokepsir.com/storage/2026/01/CopyofARTWORKPULANGbyHibatullahSukm-1-1024x1024.jpeg)





![I.\ Artwork Bumi Menangis - Man Sinner [unplugged version]](https://hellokepsir.com/storage/2026/01/ArtworkBumiMenangisManSinner-1024x1024.jpg)





