F.I\ Artwork: Gunung Kawi - Matoha Mino
F.I\ Artwork: Gunung Kawi - Matoha Mino

Di Balik Kabut Gunung Kawi, Matoha Mino Merapal Mantra untuk Melawan Setan Bernama Keserakahan

Gunung Kawi bukan tempat cari tuyul. Dengar mantra terbaru Matoha Mino kalau enggak percaya.
05.01.2026

Aroma dupa, kembang setaman, dan bisik-bisik soal kekayaan instan. Selama puluhan tahun, nama Gunung Kawi selalu diselimuti kabut mistis yang tebal. Orang datang bukan untuk menikmati sejuknya udara Malang, tapi dengan mata gelap mencari jalan pintas bernama pesugihan.

Tapi, di penghujung tahun 2025 lalu, tepatnya 31 Desember, seorang “petapa” musik turun gunung untuk meluruskan sejarah yang bengkok.

Dia adalah Matoha Mino. Namanya mungkin asing, tapi suaranya pernah menghantui tidur kalian lewat tembang “Dawuh di film KKN di Desa Penari. Seniman asli Desa Wonosari, lereng Gunung Kawi ini, merilis single bertajuk “Gunung Kawi”.

Bukan, ini bukan lagu pemanggil lelembut. Ini adalah antitesis dari segala klenik murahan yang dipercaya masyarakat.

Melawan Mitos dengan Tembang

“Ide lagu ini sebenarnya sudah mengendap di kepala saya sejak 2005–2008, waktu itu sering banget dengar orang-orang bilang “Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo dan setan”. Ada pula yang bilang “orang yang ke Gunung Kawi pasti cari duit ghaib”. Saya yang lahir dan besar di Gunung Kawi (tepatnya Desa Wonosari), rasanya kesel sekali stereotip itu terus dipelihara film-film horor dan sinetron.” ujar pria berusia 57 tahun ini.

Matoha Mino
Matoha Mino

Matoha Mino gerah. Tanah kelahirannya yang sejatinya adalah tempat peristirahatan terakhir pahlawan perang (Eyang Djoego dan Eyang Soejono, laskar Pangeran Diponegoro) malah dikotori oleh noda pesugihan akibat framing sinetron dan film horor.

Lewat lagu ini, Matoha meruwat anggapan itu. Dia menegaskan bahwa Gunung Kawi adalah tempat berdoa kepada Tuhan, tempat meneladani perjuangan, bukan tempat transaksi jual beli nyawa dengan setan.

Ritual Bunyi: Gamelan Bertemu Sholawat

Nuansa lagu ini tetap magis, tapi magis yang suci. Jika di “Dhat” ia merapal bahasa Sansekerta kuno yang mencekam, di “Gunung Kawi” ia menggunakan Bahasa Indonesia yang lugas agar pesannya sampai ke telinga orang awam.

Secara musikal, Matoha melakukan perkawinan silang yang sakral. Gamelan Jawa yang mistis dikawinkan dengan Terbangan (musik Terbang Jidor atau Sholawatan) yang Islami. Ia menggandeng grup musik Kyai Zakaria untuk mengisi ritme yang transendental ini.

Prosesnya pun melibatkan sang anak, Hanafi Madu W. dan Madukina, turun tangan mengatur aransemen vokal hingga strategi visual. Istrinya, Ibu Dwi Siswa, mengkoordinir paduan suara anak-anak yang suaranya terdengar seperti lonceng di tengah kabut.

PESAN UNTUK PARA PENCARI JALAN PINTAS

Lirik yang ditulis bersama almarhum Bapak Irwan Sumadi ini sederhana namun menohok. Matoha mengajak pendengar untuk kembali ke esensi doa: Berusaha keras, lalu meminta pada Tuhan. Bukan minta pada pohon beringin.

“Gunung Kawi” adalah sebuah statement. Bahwa rezeki itu enggak jatuh dari langit hanya karena lo bakar kemenyan. Lagu ini adalah pengingat bahwa “setan” yang paling mengerikan di Gunung Kawi bukanlah Genderuwo, melainkan keserakahan manusia itu sendiri.

Tembang ini sudah bisa didengarkan di seluruh gerai digital. Dengarkan, resapi, dan biarkan energi positifnya membersihkan pikiran kotor lo.


Cover Art Matoha Mino - Gunung Kawi
Judul Lagu: Gunung Kawi
Artis: Matoha Mino

Kabupaten Malang ada satu tempat
Wisata Ritual Gunung Kawi itu namanya
Banyak orang datang berkunjung kesana
Bersama sahabat juga teman serta keluarga

Reff-1 :
Disanalah ada dua makam
Eyang Djoego dan Eyang Soejono
Keduanya dulu seorang pejuang
Jadi laskar Pangeran Diponegoro

Apakah salah kita mendo’akan
Agar diterima amal baiknya
Apakah salah kita mendo’akan
Agar dimaafkan semua salahnya

Reff-2 :
Gunung Kawi bukan tempat cari pesugihan
Gunung Kawei bukan tempat cari kekayaan
Bermohonlah dirimu pada Tuhan
Hanya kepada-Nya kita meminta

Apakah mungkin kita berdo’a
Tanpa kerja menjadi kaya
Mari berdo’a sambil berusaha
Agar tercapai cita-cita