Artwork: New Chains, Same Shackles - Skaeta
Artwork: New Chains, Same Shackles - Skaeta

Skaeta Merayakan Kekacauan Isi Kepala Lewat ‘New Chains, Same Shackles’

Banjarbaru boleh jadi ibu kota baru yang mentereng, tapi musik Skaeta terdengar seperti ‘glitch’ yang sekarat.
20.12.2025

Ada masa ketika hidup rasanya kayak ruang tunggu: lampunya terlalu terang, bikin sakit mata, tapi pintunya enggak pernah kebuka. Lo cuma diem, isi kepala makin berisik, sementara dunia di luar sana mengecil.

Bagi Skaeta, musisi elektronik asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, fase itu terjadi cukup lama—terutama saat pandemi menghajar mental kita semua. Di tengah status kotanya yang berubah jadi ibu kota baru, Skaeta justru sibuk merakit kekacauan di kamarnya.

Hasilnya adalah sebuah album bertajuk “New Chains, Same Shackles” yang dirilis 18 Desember 2025 via label elektronik ugal-ugalan asal Surabaya, Anti.Trust Records.

Soundtrack Kehancuran: Dari Sewerslvt sampai Goreshit

Skaeta enggak malu mengakui dari mana dia memungut puing-puing inspirasinya. Saat dunia berhenti bergerak karena Covid-19, dia menenggelamkan diri dalam sub-genre depressed breakcore dan melancholic breakcore.

Nama-nama sakit seperti Sewerslvt, Machine Girl, Death’s Dynamic Shroud, Weatherday, Alice Gas, Goreshit, DJ Kuroneko, TOKYOPILL, NANORAY, sampai Strawberry Hospital bukan cuma jadi referensi musikal. Mereka adalah teman seperjalanan yang validasi kondisi mentalnya saat itu: chaotic tapi jujur.

Pengaruh itu diterjemahkan Skaeta menjadi suara yang pecah, sampel yang dipotong agresif, dan ritme yang meledak tanpa permisi. Kekacauan di sini bukan gaya, melainkan kondisi.

Skaeta
Skaeta

Bukan Cuma Kumpulan Lagu

Judulnya sendiri udah sinis: New Chains, Same Shackles. Rantai baru, belenggu yang sama.

Album ini disusun sebagai catatan personal alias diary bising dari periode 2020-2022. Fase di mana overthinking jadi makanan sehari-hari dan arah hidup makin kabur.

“Proyek album ini lahir dari campuran kegelisahan, anxious nights, dan kebutuhan buat ngelepas semua yang udah lama ngendap. Semacam cara buat ngejelasin ulang versi aku tentang ‘rantai’ dan ‘kebebasan’,” jelas Skaeta.

Maka jangan harap ada solusi di album ini. Tiga kata kuncinya: Intens, Rapuh, Meledak.

Visual Perlawanan

Skaeta mengerjakan album ini sendirian—mulai dari nulis, sampling, aransemen, sampai mixing. Dia menjaga kontrol penuh biar emosi gelapnya enggak terdistorsi tangan orang lain.

Tapi untuk urusan visual, dia menyerahkannya pada Bagussatya, seniman perlawanan asal Pati, Jawa Tengah. Bagus bukan nama sembarangan; dia pernah menggarap poster pameran seniman legendaris Bob Sick (“CUEX IS THE BEST”) dan terlibat proyek bareng Kelas Pagi Indonesia.

Kolaborasi ini bikin rilisan fisik dan digitalnya di Bandcamp punya aura kultus yang kuat.

Catatan Kaki

Di luar album ini, Skaeta sebenarnya musisi yang cukup cair. Dia punya proyek house music, main DJ set, dan nongol di Voices Radio. Tapi lewat album ini, dia menanggalkan semua filter itu.

“Album ini hanya ingin jujur pada satu hal: apa yang menumpuk di kepala, lalu dilepaskan pelan-pelan lewat suara. Kalau ada yang merasa nyambung, itu sudah cukup,” tutupnya.

Oh, dan satu pesan terakhir yang bikin album bising ini terasa manusiawi: “Rest in Peace, Moon.” (Buat kucing kesayangannya).

Dengerin New Chains, Same Shackles di Bandcamp sekarang. Anggap aja terapi kejut buat telinga lo.

Album: New Chains, Same Shackles | Artis: Skaeta | Rekaman: Skaeta Home Studio | Sound Engineer: Skaeta | Mixing: Skaeta | Mastering: Bezita (@benn.irwansyah) | Artwork: Bagus Satya | Fotografi: Vhajia Syakieb