Setelah sukses memantik atensi lewat “Aksarindu”, solois yang berbasis di kota hujan, Arom Dywarna, kembali membuka babak baru dalam diskografinya. Tepat pada 9/12 lalu, ia melepas “Larisa”, sebuah nomor anyar yang terdengar seperti surat cinta yang terlambat sampai ke alamat tujuan.
Jika Anda mengira ini hanyalah lagu patah hati generik tentang putus cinta, Anda perlu mendengarkan lebih jeli.
Bagi Arom—nama panggung dari Agung Prabowo—tajuk “Larisa” menyimpan ambiguitas yang kelam. Ini tak merujuk pada sosok wanita semata, melainkan sebuah akrostik dari tiga elemen emosi yang destruktif: Lara, Rindu, dan doSa. Tiga variabel ini dirajut menjadi narasi tentang sepasang kekasih yang berada di ambang perdamaian pasca-konflik, namun takdir berkata lain. Salah satu dari mereka dipanggil semesta sebelum kata maaf sempat terucap tuntas.
Yang tertinggal bagi mereka yang masih bernapas hanyalah rasa bersalah—sebuah dosa personal karena gagal menghargai waktu.
“Kadang kehilangan datang di waktu yang paling salah. Dan yang tersisa cuma kenangan yang gak bisa disembuhin,” ujar Arom.

Trek ini (Larisa) berfungsi sebagai jembatan menuju trilogi perasaan yang tengah dibangun Arom.
Arom mengajak pendengar untuk masuk ke ruang kontemplasi sunyi; menengok spion masa lalu bukan untuk meratapi nasib, melainkan memahami bobot kehadiran seseorang sebelum mereka tiada. Perjalanan yang dimulai dari fase Lara, lalu bergerak ke Rindu, dan bermuara pada Dosa.
Dapur Rekaman
Proses kreatif “Larisa” ini memakan waktu sekitar 3 bulan, dimulai pada pertengahan Juni lalu dan rampung total di meja mixing pada Agustus.
Dalam penggarapannya untuk menerjemahkan visinya, Arom tidak sendirian. Lirik dan komposisi digarap bersama Randa Kresna Putra Pangestu. Di departemen suara, vokal utama Arom dipertebal oleh lapisan backing vocal dari Randa dan Nindi Cahya Sahputra.
Untuk aransemen musik dibangun dengan pondasi gitar akustik oleh Randa, yang kemudian diperkaya melodi gitar elektrik dari Pradhita Wahyu Alfarezy serta sentuhan atmosferik keyboard Benny K Wijaya. Pradhita dan Randa juga duduk di kursi produser, dengan Benny mengambil peran sebagai music director. Seluruh proses ini dieksekusi di Rama Project Studio, dengan sentuhan akhir mixing dan mastering oleh Rama Satria Mahriadi.
Tak berhenti di audio, visualisasi “Larisa” juga digarap serius lewat tangan Nindi Cahya Sahputra dan Kuy Studio untuk artwork serta fotografi.
Langkah Selanjutnya
Arom menegaskan bahwa “Larisa” adalah pemantik untuk rencana yang lebih besar.
“Rencananya, setelah rilis ‘Larisa’, aku akan ada langkah promosi digital sambil menyiapkan beberapa konsep mini album atau album,” papar Arom.
“Larisa” beserta video lirik resminya sudah bisa dinikmati di berbagai gerai musik digital.








![I.\ Artwork: Pulang - PUTICS \ [by Hibatullah Sukma]](https://hellokepsir.com/storage/2026/01/CopyofARTWORKPULANGbyHibatullahSukm-1-1024x1024.jpeg)





![I.\ Artwork Bumi Menangis - Man Sinner [unplugged version]](https://hellokepsir.com/storage/2026/01/ArtworkBumiMenangisManSinner-1024x1024.jpg)




