Tangkapan layar Twitnya @KuntoAjiW \ @hollameliyaw
Tangkapan layar Twitnya @KuntoAjiW \ @hollameliyaw

Sate Taichan vs Sate Madura: Investigasi (sotoy) Kenapa Kita Mau Bayar Mahal untuk Ayam yang Telanjang

Bumbu minimalis, harga kapitalis. Kita coba bedah kenapa sate telanjang ini harganya sering enggak ngotak.
30.12.2025

Semua berawal dari cuitan Mas Kun—pawang kesehatan mental anak muda sekaligus duta kuliner merakyat—di Twitter (sekarang X).

Mas Kunto Aji pamer makan di angkringan berdua cuma abis Rp20 ribu. Angka yang buat warga Jakarta Selatan terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Murah banget. Tapi, keramaian sebenernya pecah pas ada satu warganet, @hollameliyaw, yang melempar pertanyaan eksistensial yang mungkin selama ini kita pendam:

“Kenapa sate taican mahal padahal bumbunya simpel banget gak seribet sate madura/padang”.

Mas Kun pun setuju. Dia bilang, modal mahal sate ayam itu ada di bumbu kacangnya. Jadi secara logika ekonomi, Taichan harusnya murah.

Tapi realitanya? Lo makan Taichan di Senayan atau kedai franchise kekinian, harganya bisa bikin dompet lo bergetar (buat yang minim duit sih). Padahal tampilannya cuma daging ayam pucat, dikasih jeruk nipis, sama sambal yang pedasnya setan.

Jadi, apakah kita dikadalin? Apakah ini konspirasi ilusionis kuliner? Mari kita coba bedah pakai logika ugal-ugalan.

1. Mitos “Full Daging” (The Fillet Defense) Argumen utama para pedagang Taichan biasanya satu: “Kita pakai daging dada fillet murni, Kak. Tanpa kulit, tanpa lemak.”

Oke, ini ada benarnya. Sate Madura pinggir jalan adalah seni menyembunyikan “aib”. Di antara satu potong daging, sering diselipin kulit ayam yang kenyal atau lemak jenuh, lalu ditutup rapat sama bumbu kacang yang kental dan kecap manis. Lo enggak sadar lo makan apa, yang penting enak.

Sementara Taichan itu transparan. Dia itu “telanjang”. Kalau dagingnya jelek, lo langsung tau. Karena pakai daging fillet murni (biasanya dada), Cost of Goods Sold (HPP) dagingnya emang sedikit lebih mahal dibanding sate campur-campur. Tapi, apakah selisih harga daging fillet bisa menjustifikasi harga jual yang kadang dua kali lipat sate gerobakan? Kami meragukannya.

2. Pajak “Gaya Hidup Sehat” dan Estetika Taichan membranding dirinya sebagai sate yang bersih. Putih, enggak berminyak, enggak gosong kena arang, dan pedas. Ini masuk banget ke alam bawah sadar anak muda yang takut kolesterol atau lagi diet tapi pengen jajan malam.

Di era di mana label Healthy bisa bikin harga air putih jadi seharga kopi Starbucks, Taichan memungut pajak dari persepsi sehat itu. Padahal ya, itu tetep aja sate dikasih micin jamur, Bos.

3. Bumbu Kacang itu Ribet, Taichan itu “Lifestyle” Bener kata Mase Kunto Aji, bikin bumbu kacang itu PR banget. Kacang harus digoreng, diulek/diblender, dimasak lagi pakai minyak sampai keluar minyaknya, dikasih gula merah, daun jeruk, dsb. Itu proses berjam-jam.

Taichan? Bakar, kasih garem/penyedap, peras jeruk. Sambelnya cuma cabe rebus ulek. Secara effort, Taichan itu sate paling males sedunia.

Tapi kenapa mahal? Mungkin karena Taichan lahir dan besar di lingkungan “mewah”: Senayan. Dia bukan makanan orang lapar yang butuh nasi sebakul. Dia adalah post-party food. Makanan anak-anak muda abis nongkrong atau clubbing.

Lo enggak bayar buat bumbunya. Lo bayar buat sensasi makan pedas di jam 2 pagi sambil liatin mobil-mobil modifikasi lewat. Itu namanya Experience Tax.

4. Kesimpulan: Kita Emang Suka Dibohongi Pada akhirnya, harga sebuah produk bukan ditentukan dari berapa modalnya, tapi dari berapa harga yang rela lo bayar. Selama lo masih rela antre panjang buat beli sate ayam pucat seharga Rp30 ribu seporsi cuma demi update Instastory, ya harganya enggak bakal turun.

Sate Madura jual rasa dan usaha. Sate Taichan jual gaya. Pilih mana? Kalau kata twitnya Mas Kun sih, mending angkringan 20 ribu dapet berdua. Kenyang, hati senang, dompet tenang (ini-mah menurut gue). :))




Don't Miss