LSA - Lampung Street Arts)
LSA - Lampung Street Arts | F.\ instagram lampungstreetart

Bangkit dari Mati Suri, LSA Rintis Kolektif Baru Lewat “Sketch Jamming SWS”

Enggak ada birokrasi. Cuma ada kertas, tembok, dan semangat komunal.
01.09.2026

Setelah sekian lama tak banyak terdengar aktivitasnya, komunitas Lampung Street Art (LSA) kembali menggeliat. Sejumlah pegiat graffiti di kota ini merapatkan barisan untuk memulai lembaran baru, kali ini dengan format yang lebih terbuka: sebuah kolektif tanpa struktur komando, di mana setiap anggota punya posisi setara dalam menentukan arah gerak bersama.

Nama LSA sendiri bukanlah pendatang baru dalam peta seni jalanan Lampung. Sejak pertama kali muncul di pertengahan tahun 2000-an, komunitas ini telah melewati berbagai fase: dari masa-masa awal ketika graffiti masih jadi penanda eksistensi kelompok kecil di sudut kota, hingga periode ketika gaya-gaya lokal mulai berbaur dengan referensi global. Vakumnya aktivitas dalam beberapa waktu terakhir membuat sejumlah pegiat merasa perlu ada pemantik baru agar denyut kreatif itu tidak sepenuhnya padam.

Perjalanan panjang LSA ini bahkan sempat menjadi objek kajian akademis tersendiri. Sebuah disertasi doktoral di Program Studi Pendidikan Seni, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, yang rampung pada akhir 2025, memetakan perkembangan graffiti LSA ke dalam empat fase besar: fase embrional (2006–2010) sebagai penanda eksistensi sosial, fase eksploratif (2011–2015) yang ditandai hibriditas gaya lokal dan global, fase institusionalisasi (2016–2020) yang memperkuat legitimasi sosial, hingga fase ekspresi kritis (2021–2025) yang memosisikan graffiti sebagai ruang artikulasi resistensi.

Sejumlah nama dan momen yang diceritakan para narasumber di atas turut sejalan dengan temuan riset tersebut, mulai dari jejak kelompok Flash Squad pada 2006, hingga kegiatan ekstrakurikuler graffiti di sekolah menengah pada 2010. Riset ini menegaskan bahwa graffiti bukan sekadar aksi vandalisme, melainkan medium ekspresi budaya yang merepresentasikan identitas masyarakat urban.

Berangkat dari keresahan itu, muncul gagasan untuk memulai ulang bukan sebagai organisasi dengan pengurus dan jabatan, melainkan sebagai kolektif. Konsep ini sengaja dipilih karena sifatnya yang cair: tidak ada ketua, tidak ada pemimpin, dan keputusan diambil bersama secara sukarela dalam ranah komunal. Bagi para inisiator, bentuk ini dianggap paling relevan dengan semangat awal graffiti itu sendiri, sebuah praktik yang lahir dari kebebasan berekspresi, bukan dari birokrasi.

Untuk memulai, dipilihlah kegiatan yang paling sederhana dan mudah diakses siapa saja: “sketch jamming“. Aktivitas ini tidak menuntut peralatan besar atau lokasi khusus, sehingga cocok jadi pintu masuk bagi anggota lama maupun wajah-wajah baru yang ingin ikut terlibat tanpa merasa terbebani standar tinggi sejak awal.

Dari titik itu, lahirlah program bertajuk “Sketch Jamming SWS“, yang dirancang berjalan rutin sebulan sekali. Setiap sesi menjadi ruang latihan sekaligus ajang berkumpul, tempat para peserta menuangkan gagasan visual di atas kertas sebelum nantinya diarahkan ke media yang lebih besar. Format bulanan ini dipilih agar ritme berkarya tetap terjaga, tanpa membebani peserta dengan jadwal yang terlalu padat.

Dalam setiap sesi, dua elemen dasar bahasa visual graffiti menjadi fokus utama yang digali bersama: letter dan character. Elemen letter mencakup eksplorasi bentuk huruf, mulai dari tag yang sederhana, throw-up yang lebih cepat dibuat, hingga wildstyle yang rumit dengan garis-garis saling kait dan sulit dibaca orang awam. Lewat sketsa yang diulang-ulang, peserta didorong menemukan karakter huruf mereka sendiri: ketebalan garis, sudut lengkung, hingga cara menyusun komposisi antar-huruf.

Selain huruf, elemen character juga mendapat porsi perhatian yang setara. Character dalam graffiti umumnya hadir sebagai figur pendamping tulisan, bisa berupa sosok menyerupai boneka, tokoh kartun, atau makhluk rekaan dengan wajah dan ekspresi khas. Kehadiran character ini kerap berfungsi menghidupkan komposisi, sekaligus membuka ruang bercerita di luar sekadar bentuk huruf. Bagi banyak pegiat pemula, character menjadi pintu masuk yang lebih personal untuk menemukan identitas visual, karena figur semacam ini biasanya lahir dari selera, humor, atau keresahan masing-masing individu.

Rangkaian sesi bulanan tersebut akan bermuara pada satu titik puncak: graffiti jamming. Jika sketch jamming menjadi ruang uji coba di atas kertas, maka graffiti jamming adalah tempat gagasan-gagasan itu diwujudkan langsung di tembok, sebagai penanda bahwa proses yang dirintis sejak sesi pertama benar-benar sampai pada muaranya.

Yang menarik, motor penggerak dari seluruh rangkaian ini didominasi wajah-wajah muda. Regenerasi menjadi salah satu perhatian utama, mengingat keberlangsungan sebuah gerakan visual sangat bergantung pada ada tidaknya generasi baru yang mau meneruskan sekaligus memperkaya wacananya. Nabil, Azhar Geh, dan kawan-kawan lain adalah anak muda yang kini mencoba menggerakkan roda graffiti di kota Bandar Lampung ini. Harapan mereka dengan adanya kegiatan jamming ini bisa menambah minat menggambar dan yang terpenting dapat mengajak anak muda lain ikut serta berkegiatan, membantu membuat acara serupa.

Soal pentingnya regenerasi ini turut dibenarkan oleh salah satu pegiat senior, Robi, yang akrab disapa Rupa Robi. Ia mulai bersentuhan dengan dunia graffiti sejak 2007, ketika tergabung dalam kelompok bernama Flash Squad. Dari situ, ia berkenalan dengan satu-dua nama dari Lampung Street Art yang kemudian menjadi rekan berkarya secara intens. Menurut Rupa Robi, sekitar tahun 2011 pelaku graffiti di Lampung sebenarnya cukup ramai. Namun seiring waktu, intensitas mereka di skena ini perlahan menurun: sebagian rampung kuliah lalu bekerja, menikah, atau disibukkan berbagai urusan hidup lainnya. Barulah memasuki dekade 2020-an, wajah-wajah baru mulai bermunculan, yang menariknya banyak berasal dari kalangan mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) di sejumlah perguruan tinggi.

Rupa Robi juga menyoroti soal karakter visual pada karya-karya graffiti masa kini. Menurutnya, baik dalam karya digital maupun bombing di tembok, kecenderungan karakter yang dipakai relatif serupa, belum banyak pembeda mencolok antar-satu pegiat dengan lainnya. Ia sendiri mengaku sempat melalui proses pencarian identitas serupa di awal keterlibatannya: mencoba lettering, kemudian throw-up, sebelum akhirnya memantapkan diri pada eksplorasi character.

Proses itu, kata Rupa Robi, tidak lepas dari bimbingan sejumlah nama senior yang ia sebut sebagai “abang-abang”, seperti Wicak Spotch, Dede, dan (alm.) Dewak. Ia bahkan menyebut pertama kali mengenal dunia graffiti lewat kelas ekstrakurikuler semasa SMA, yang saat itu dimentori langsung oleh Wicak Spotch, salah satu anggota dan pendiri Lampung Street Art.

Tujuan besar dari inisiatif ini cukup jelas: memberi arah bagi anak-anak muda yang bergelut di dunia graffiti agar menemukan gaya (style) mereka sendiri. Selama ini, tidak sedikit pegiat pemula yang meraba-raba sendirian tanpa ruang diskusi yang memadai. Lewat kolektif ini, proses pencarian identitas visual diharapkan bisa berlangsung lebih terarah, meski tetap terbuka dan tidak dipaksakan.

Salah satu elemen penting yang disiapkan dalam setiap sesi adalah momen peer review santai, yaitu sesi ngobrol bersama seusai jamming untuk melihat dan membicarakan hasil karya masing-masing. Bukan dalam nuansa kompetitif atau penjurian, melainkan pertukaran cara pandang. “Kami ingin semua orang bisa saling kasih masukan tanpa ada yang merasa dihakimi. Dari situ, obrolan soal style bisa muncul secara alami,” ujar salah satu inisiator kolektif ini.

Sudut pandang lain datang dari Dede Rejeki, anggota LSA dari angkatan yang lebih muda. Selain aktif di skena graffiti, ia juga menjalankan usaha graffiti supply yang menyediakan berbagai kebutuhan seperti cat, alat, dan perlengkapan lain terkait graffiti. Usaha yang dirintis sejak 2016 ini, menurutnya, mengalami pasang surut mengikuti geliat industri yang belum terlalu ramai.

Di tengah permintaan usaha supply yang belum stabil, Dede mengaku bertahan dengan tetap menerima order jasa komisi gambar. Ia kerap mengerjakan job dengan teknik stensil di berbagai media, mulai dari tembok, papan surfing, sofa dan kursi, hingga frame. Teknik stensil, di mana gambar atau print dipotong dan dilubangi dengan cutter di atas kertas lalu disemprot dengan cat spray, menurutnya masih cukup diminati hingga sekarang, dengan konsumen yang ramai datang dari kafe, coffee shop, hotel, bahkan klub malam yang membutuhkan sentuhan tersebut untuk kebutuhan interior mereka.

Meski sempat merasakan pahit-manis usaha dan pernah bekerja sama dengan sejumlah korporat atau brand, Dede menekankan pentingnya gerak kolektif yang komunal bagi skena graffiti dan street art. Baginya, akar dari sebuah skena graffiti terletak pada kolektif yang terus bergerak, membangun jejaring, dan konsisten berjalan, apalagi mengingat seni kontemporer ini kerap memanfaatkan ruang publik, yang tak jarang berbenturan dengan aturan atau stigma sebagai perusak.

Dede pun menyoroti pentingnya kegiatan seperti sketch jamming hari ini (29/08/2026), yang dalam program ini disingkat SWS, kependekan dari “Sketch With Style“. Menurutnya, sketch jamming menjadi jembatan pembuka sekaligus pengenalan seni graffiti, sebelum peserta melangkah ke tahap bombing di tembok jalanan atau media lain. Harapannya sederhana: kegiatan semacam ini harus terus dijalankan secara rutin dan fokus.

Narasumber terakhir dalam liputan ini adalah Wicak Spotch, sosok yang kerap disebut generasi-generasi sesudahnya sebagai salah satu “abang” penting di skena graffiti Lampung. Fokusnya sejak dulu ada pada gerakan komunal yang berkolektif, bahkan jauh sebelum Lampung Street Art (LSA) resmi terbentuk. Kecintaannya pada dunia desain dan menggambar sudah tumbuh sejak lama, dan kemampuannya di ranah gambar digital maupun graffiti masih terus ia jalani hingga sekarang.

Wicak dikenal sebagai sosok yang serba bisa. Ia menguasai hampir semua gaya dalam graffiti, mulai dari wildstyle, throw-up, gambar realis, character, hingga simple piece. Rentang kemampuan yang luas ini membuatnya jadi rujukan banyak pegiat muda yang ingin belajar berbagai teknik, bukan cuma satu gaya tertentu.

Sejak awal 2000-an hingga kini, Wicak sudah malang-melintang berkolektif dan berkomunal di Bandar Lampung. Usianya yang tak lagi muda tidak menyurutkan niatnya untuk terus aktif berkegiatan, bergabung, dan menggambar bersama, termasuk lintas kolektif, mulai dari kolektif musik, sesama perupa, pelukis, hingga lintas generasi.

Yang membuatnya terus bertahan hingga hari ini, menurutnya, adalah kecintaan pada dunia graffiti, gambar, desain, serta suasana tongkrongan yang penuh canda, tempat pertemanan baru bisa tumbuh layaknya saudara atau keluarga. Sosoknya yang besar dan berisi, dengan janggut lebat, tak jarang membuat anak-anak muda segan atau sedikit sungkan mendekat. Namun di balik kesan itu, kemampuan menggambar serta gagasan berkolektifnya sudah tak lagi diragukan di kalangan pegiat graffiti dan street art Lampung.

Dengan format kolektif yang egaliter, ritme bulanan yang konsisten, dan ruang diskusi yang terbuka, langkah LSA kali ini disebut sebagai upaya untuk menghidupkan kembali ekosistem graffiti Lampung dari akar rumput. Para penggeraknya berharap, apa yang dimulai dari sesi sketch jamming sederhana ini kelak dapat tumbuh menjadi wadah yang lebih besar, tempat anak-anak graffiti Lampung tak hanya berkarya, tetapi juga menemukan arah dan identitas visual mereka sendiri.




Don't Miss