AI dan Data Satelit Jadi Kunci Mitigasi Atasi Banjir Jakarta

09.02.2026
AI dan Data Satelit Jadi Kunci Mitigasi Atasi Banjir Jakarta
AI dan Data Satelit Jadi Kunci Mitigasi Atasi Banjir Jakarta

Banjir yang kerap melanda Jakarta dan sekitarnya ternyata tidak hanya dipicu curah hujan tinggi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap, banjir merupakan dampak dari kombinasi penurunan muka tanah, perubahan iklim, serta sistem drainase yang belum optimal.

Hal itu disampaikan dalam forum Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset, Rabu (04/02/2026). Peneliti BRIN menyebut penanganan banjir perlu pendekatan berbasis riset, teknologi, dan data.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, menjelaskan bahwa banjir Jakarta dipicu oleh setidaknya tiga faktor utama yang saling berkaitan.

“Pertama adalah penurunan permukaan tanah atau land subsidence yang terjadi dengan laju antara 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Kedua, curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas sistem drainase. Ketiga, kondisi sungai dan saluran air yang tidak optimal akibat pendangkalan dan tumpukan sampah,” ujar Budi.

Menurutnya, banyak sungai dan kanal di Jakarta telah kehilangan daya tampung karena sedimentasi dari wilayah hulu. Akibatnya, aliran air yang seharusnya masih aman justru meluap ke permukiman saat hujan deras terjadi.

BRIN menilai penanganan banjir Jakarta tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan strategi terpadu jangka pendek dan jangka panjang berbasis data dan riset ilmiah.

Untuk jangka pendek, Budi menyebut beberapa langkah prioritas, mulai dari penerapan sistem polder di kawasan rawan banjir, penguatan sistem peringatan dini terintegrasi berbasis kecerdasan buatan, hingga pembangunan infrastruktur penahan debit air di wilayah hulu.

Sementara itu, riset jangka panjang mencakup pemanfaatan teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) dan InSAR multi-track untuk memetakan penurunan tanah serta risiko banjir secara dua dan tiga dimensi. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kondisi wilayah secara presisi dan berkelanjutan.

Selain itu, BRIN juga mengembangkan model AI berbasis data satelit untuk memprediksi kenaikan muka air di Bendungan Katulampa. Dengan sistem ini, waktu peringatan dini bagi warga Jakarta dapat diperpanjang, sehingga proses evakuasi bisa dilakukan lebih cepat dan terencana.

Dari sisi iklim, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan menegaskan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat di Jakarta.

Ia mencontohkan peristiwa hujan ekstrem pada 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020, ketika curah hujan harian di Stasiun Halim Perdanakusuma mencapai 377 milimeter, melumpuhkan sebagian besar wilayah Jabodetabek.

“Memprediksi hujan ekstrem bukan hal mudah karena data curah hujan bersifat tidak stasioner. Namun kini kami mulai beralih dari metode konvensional seperti ARIMA ke pendekatan machine learning, deep learning, dan AI,” jelas Eddy.

Salah satu metode yang dikembangkan BRIN adalah Hybrid ARIMA-LSTM, yang dinilai mampu memberikan akurasi lebih baik sekaligus jangkauan prediksi yang lebih panjang.

BRIN menekankan pentingnya membangun sistem peringatan dini yang presisi, terlokalisasi, dan berbasis multi-data, mulai dari data satelit, reanalisis global, hingga data in-situ dari BMKG. Kehadiran data radar cuaca juga dinilai krusial, mengingat hujan ekstrem umumnya dipicu oleh awan raksasa seperti Cumulonimbus (Cb) yang menjulang hingga 15–16 kilometer.

Terkait musim hujan 2026, Eddy memprediksi periode tersebut akan berakhir akhir Februari hingga awal Maret 2026, seiring mulai normalnya pengaruh Monsun Asia dan Indian Ocean Dipole (IOD).

“BRIN berkomitmen mengembangkan sistem peringatan dini yang utuh, terpadu, dan berbasis analisis mendalam. Tujuannya sederhana, yakni memberikan saving time agar dampak hujan ekstrem bisa ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya.

Scr/Mashable




Don't Miss