AI Digunakan dalam Operasi Militer ke Iran, Keputusan Perang Disebut Lebih Cepat dari Reaksi Manusia

04.03.2026
AI Digunakan dalam Operasi Militer ke Iran, Keputusan Perang Disebut Lebih Cepat dari Reaksi Manusia
AI Digunakan dalam Operasi Militer ke Iran, Keputusan Perang Disebut Lebih Cepat dari Reaksi Manusia

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam serangan militer terhadap Iran menandai eskalasi baru dalam peperangan modern. Para pakar menilai teknologi AI telah mempercepat proses penentuan dan eksekusi target hingga melampaui kecepatan pengambilan keputusan manusia.

Laporan The Guardian menyebutkan model AI Claude buatan Anthropic digunakan oleh militer Amerika Serikat dalam rangkaian serangan udara ke Iran. Teknologi tersebut berperan dalam mempercepat kill chain, yakni proses dari identifikasi target, analisis intelijen, evaluasi hukum, hingga peluncuran serangan.

Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan hampir 900 serangan udara ke target Iran dalam 12 jam pertama konflik. Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan rudal Israel.

AI militer mampu memproses data dalam skala besar secara simultan, mulai dari citra drone, intersepsi komunikasi, hingga intelijen manusia. Sistem ini kemudian menghasilkan rekomendasi target dan jenis persenjataan secara otomatis.

Teknologi tersebut terintegrasi dalam sistem analisis yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi pertahanan Palantir bersama Pentagon untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi pengambilan keputusan militer.

Akademisi menyebut fenomena ini sebagai decision compression, yakni penyusutan waktu perencanaan serangan dari hitungan hari atau minggu menjadi menit bahkan detik.

Craig Jones, dosen senior geografi politik Universitas Newcastle, menyatakan AI kini mampu merekomendasikan target dengan kecepatan yang sulit disaingi manusia.

“Rekomendasi target kini dihasilkan mesin dengan sangat cepat. Skala dan kecepatannya memungkinkan serangan presisi dilakukan secara serentak,” ujarnya.

Sementara itu, David Leslie, profesor etika teknologi dari Queen Mary University of London, memperingatkan risiko berkurangnya peran manusia dalam keputusan militer.

Ia menilai ketergantungan pada AI berpotensi membuat pengambil keputusan hanya mengesahkan rekomendasi mesin tanpa evaluasi mendalam.

Namun yang jadi sorotan adalah jatuhnya korban sipil. Di tengah eskalasi konflik, serangan rudal dilaporkan menghantam sebuah sekolah di wilayah selatan Iran dan menewaskan sedikitnya 165 orang, termasuk anak-anak. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional.

Militer Amerika Serikat menyatakan tengah melakukan penelusuran terhadap laporan tersebut.

Persaingan AI Militer

Iran mengklaim telah mengadopsi AI dalam sistem penargetan misil sejak 2025. Namun, kemampuan AI militernya dinilai tertinggal akibat sanksi internasional dan keterbatasan akses teknologi.

Di sisi lain, meski sempat menyatakan akan menghentikan kerja sama dengan Anthropic karena pembatasan penggunaan AI untuk senjata otonom penuh, pemerintah AS masih memanfaatkan teknologi tersebut hingga masa transisi berakhir.

Sementara itu, perusahaan AI pesaingnya, OpenAI, dilaporkan telah menandatangani kerja sama baru dengan Pentagon untuk penggunaan model AI dalam sektor pertahanan.

Peneliti dari Royal United Services Institute menilai pemanfaatan AI di militer global akan terus meluas, mencakup logistik, pelatihan, hingga sistem persenjataan.

Namun, penggunaan AI dalam operasi tempur dinilai membuka babak baru peperangan yang menimbulkan tantangan serius bagi akuntabilitas hukum dan kemanusiaan.

Scr/Mashable




Don't Miss