AI Jadi Ancaman Baru? Simak Realita Burnout dan Keamanan Kerja di Sektor Teknologi

05.02.2026
AI Jadi Ancaman Baru? Simak Realita Burnout dan Keamanan Kerja di Sektor Teknologi
AI Jadi Ancaman Baru? Simak Realita Burnout dan Keamanan Kerja di Sektor Teknologi

Meskipun Indonesia dinobatkan sebagai pemimpin indeks kebahagiaan kerja di Asia Pasifik, terdapat sebuah paradoks menarik yang mengintai di balik senyum para pekerjanya.

Di balik optimisme yang terpancar, perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau AI mulai memicu kecemasan kolektif terkait stabilitas karier masa depan.

Tercatat sebanyak 42% pekerja merasa kehadiran AI merupakan ancaman nyata terhadap keamanan pekerjaan mereka. Sentimen ini terasa jauh lebih tajam bagi mereka yang berkecimpung langsung di sektor teknologi, di mana otomatisasi berkembang dengan kecepatan yang terkadang melampaui kemampuan adaptasi manusia.

Kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi tersebut kian diperparah dengan kondisi kesehatan mental yang cukup mengkhawatirkan di lingkungan profesional. Faktanya, sebanyak 43% pekerja di Indonesia mengaku tengah berada di titik kelelahan mental atau burnout yang cukup serius.

Sebuah temuan ironis juga terungkap dalam laporan ini, di mana 40% individu yang sebelumnya mengaku “bahagia” ternyata menyimpan kelelahan emosional yang mendalam di bawah permukaan.

Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan di tempat kerja sering kali hanyalah sebuah tampilan luar (masking), sementara tekanan beban kerja yang tinggi terus menggerus energi para talenta terbaik dari dalam.

Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, menegaskan bahwa pencapaian Indonesia dalam hal optimisme budaya kerja merupakan modal besar yang tidak boleh disia-siakan.

Namun, ia juga memberikan peringatan keras bahwa perusahaan tidak boleh terlena dengan angka-angka positif di atas kertas. Tingginya angka burnout dan ketakutan terhadap dominasi AI harus dianggap sebagai sinyal peringatan atau “alarm” bagi para pemberi kerja untuk segera mengambil tindakan proaktif.

Kebahagiaan yang hakiki dan berkelanjutan dalam sebuah perusahaan hanya bisa terwujud jika manajemen mampu menyinergikan ambisi target bisnis dengan perlindungan terhadap kesejahteraan mental karyawannya secara konsisten.

Menghadapi tantangan kompleks ini, Jobstreet by SEEK mendorong setiap perusahaan untuk segera mengadopsi strategi transformasi budaya kerja yang lebih manusiawi.

Langkah pertama yang harus diambil adalah membangun kembali makna kerja atau purpose di setiap level organisasi, agar karyawan tidak merasa hanya sebagai sekrup kecil dalam mesin besar, melainkan bagian penting dari visi yang bermakna.

Selain itu, pemberian fleksibilitas kerja menjadi harga mati untuk mendukung batasan antara kehidupan profesional dan ruang pribadi. Perusahaan yang menghargai waktu istirahat karyawannya terbukti memiliki tingkat loyalitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menerapkan budaya kerja lembur tanpa batas.

Lebih jauh lagi, jajaran manajemen dituntut untuk lebih peka dalam mendengarkan kebutuhan spesifik yang berbeda antar-generasi, mulai dari Baby Boomers hingga Gen Z.

Dengan meruntuhkan sekat-sekat komunikasi yang selama ini menghambat transparansi, pemimpin perusahaan dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan suportif.

Pada akhirnya, di tengah gempuran teknologi AI yang semakin tak terbendung, sentuhan kemanusiaan dan empati dari pihak manajemen tetap menjadi faktor penentu utama.

Hanya perusahaan yang mampu menciptakan rasa aman secara mental dan emosional yang akan berhasil mempertahankan serta mengembangkan talenta terbaiknya di masa depan.

Scr/Mashable




Don't Miss