ASEAN Foundation Ungkap Kesiapan AI Masih Timpang di Asia Tenggara

12.02.2026
ASEAN Foundation Ungkap Kesiapan AI Masih Timpang di Asia Tenggara
ASEAN Foundation Ungkap Kesiapan AI Masih Timpang di Asia Tenggara

ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org meluncurkan laporan ASEAN Digital Outlook serta hasil riset AI Ready ASEAN yang mengungkap ketimpangan kesiapan adopsi kecerdasan buatan (AI) di negara-negara Asia Tenggara, meski tingkat penggunaannya terus meningkat.

Peluncuran laporan tersebut berlangsung dalam forum AI Ready ASEAN: 3rd Regional Policy Convening di Manila, Filipina, belum lama ini. Laporan disusun bersama ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM) untuk mendukung penguatan tata kelola digital di kawasan.

Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Dr. Piti Srisangnam menyatakan pemanfaatan AI di ASEAN berkembang lebih cepat dibanding kesiapan institusi dan masyarakat dalam mengelolanya secara bertanggung jawab.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah AI digunakan, tetapi apakah sistem pendidikan, institusi, dan kebijakan kita benar-benar siap,” kata Piti, Kamis (12/02/2026).

Laporan ASEAN Digital Outlook menilai kesiapan kawasan dari sisi infrastruktur digital, tata kelola AI, dan keamanan siber. Studi tersebut mencatat sejumlah negara telah mencatat kemajuan, namun kesenjangan kematangan digital dan kapasitas institusional masih lebar antarnegara ASEAN.

Riset tersebut juga menyoroti rendahnya literasi digital, kepercayaan publik, serta kesiapan keamanan siber sebagai tantangan utama yang memerlukan pendekatan kebijakan lintas negara.

Sementara itu, riset AI Ready ASEAN memfokuskan kajian pada sektor pendidikan dengan melibatkan siswa, pendidik, dan orang tua sebagai aktor utama adopsi AI. Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara tingkat penggunaan AI dan kesiapan literasi serta etika.

Di Indonesia, tingkat penggunaan AI generatif di kalangan siswa tercatat sangat tinggi, mencapai 95,25 persen responden. Namun, tingkat adopsi di kalangan pendidik masih 46,20 persen, sementara orang tua 62,19 persen, menandakan adanya kesenjangan lintas generasi.

Kurang dari separuh pendidik juga menyatakan institusinya telah menyediakan kebijakan AI, pelatihan, maupun dukungan keamanan siber yang memadai.

Kepala Google.org Asia Pasifik Marija Ralic menegaskan bahwa kesiapan AI tidak cukup hanya dengan akses teknologi.

“Literasi AI, pemahaman etika, dan penggunaan yang bertanggung jawab menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar membawa manfaat inklusif,” ujarnya.

ASEAN Foundation menilai temuan ini krusial di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan meningkat dari 300 miliar dolar AS menjadi 1 triliun dolar AS pada 2030.

Melalui ASEAN Digital Outlook dan AI Ready ASEAN, lembaga tersebut berharap hasil riset ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan AI yang inklusif, aman, dan berkelanjutan di kawasan.

Scr/Mashable




Don't Miss