ASUS Stop Smartphone Baru, Fokus Penuh ke Physical AI dan Komputer Komersial

20.01.2026
ASUS Stop Smartphone Baru, Fokus Penuh ke Physical AI dan Komputer Komersial
ASUS Stop Smartphone Baru, Fokus Penuh ke Physical AI dan Komputer Komersial

ASUS resmi mengambil langkah strategis besar dengan menghentikan pengembangan ponsel pintar baru dan mengalihkan seluruh sumber daya riset dan pengembangan (R&D) ke bidang Physical AI serta komputer komersial.

Keputusan penting ini dikonfirmasi langsung oleh Chairman ASUS, Jonney Shih, dalam acara ASUS 2025 Year-End Gala yang digelar di Taipei Nangang Exhibition Center pada 16 Januari 2026.

Pernyataan Jonney Shih tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa ASUS tengah memasuki babak baru dalam perjalanan bisnisnya, seiring dengan semakin masifnya transformasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor industri.

Era Smartphone ASUS Menuju Akhir?

Dilansir dari inside.com (17/01/26), dalam sesi wawancara dengan media sebelum acara dimulai, Jonney Shih dengan tegas menyatakan bahwa ASUS tidak akan lagi menambahkan model ponsel baru di masa depan. Meski masih berkomitmen untuk mendukung pengguna ponsel ASUS yang sudah ada, pernyataan ini secara luas ditafsirkan sebagai langkah mundur ASUS dari pasar smartphone secara bertahap.

Keputusan ini berpotensi menjadikan Zenfone dan ROG Phone, dua lini ponsel yang selama ini menjadi identitas ASUS di pasar mobile sebagai produk terakhir dalam sejarah smartphone ASUS.

Zenfone dikenal sebagai ponsel ringkas premium, sementara ROG Phone telah lama menjadi ikon ponsel gaming dengan performa ekstrem. Namun, persaingan yang semakin ketat serta biaya pengembangan yang tinggi membuat bisnis ponsel dinilai kurang berkelanjutan.

AI Dorong Kinerja Keuangan ASUS

Langkah besar ini diambil di tengah performa keuangan ASUS yang justru menunjukkan tren positif. Jonney Shih mengungkapkan bahwa ASUS berhasil membukukan pendapatan tahunan sebesar NT$738,91 miliar, tumbuh 26,1 persen secara tahunan, meskipun dunia masih dihadapkan pada tantangan geopolitik dan ketidakpastian rantai pasok global.

Kontribusi terbesar datang dari bisnis AI server, yang mencatatkan pertumbuhan hingga dua kali lipat dan bahkan melampaui target awal. Keberhasilan ini memperkuat keyakinan manajemen bahwa fokus pada AI merupakan langkah yang tepat untuk masa depan perusahaan.

Tema acara Year-End Gala tahun ini pun mengusung tajuk “AI Leading the Future”, mencerminkan visi ASUS dalam mendorong inovasi berbasis AI secara menyeluruh, baik dari sisi produk maupun operasional.

Fokus Baru: Physical AI, Robot, dan Smart Glasses

Alih-alih mempertahankan bisnis smartphone, ASUS memilih mengalihkan investasi dan talenta teknologinya ke bidang Physical AI, konsep AI yang diwujudkan dalam bentuk perangkat fisik yang mampu berinteraksi langsung dengan dunia nyata.

Dua area utama yang menjadi fokus ASUS ke depan adalah AI Robotics dan AI Smart Glasses. Dengan pengalaman panjang dalam pengembangan perangkat berbasis chipset Qualcomm dan integrasi hardware-software, ASUS dinilai memiliki fondasi teknis yang kuat untuk bersaing di sektor ini.

Sejumlah analis juga menilai bahwa keahlian ASUS dalam mengembangkan ponsel berbasis platform Snapdragon dapat dialihkan secara mulus ke pengembangan laptop komersial berbasis Snapdragon X maupun perangkat Physical AI berbasis Dragonwing platform.

Tantangan Rantai Pasok dan Potensi Kenaikan Harga

Selain membahas transformasi bisnis, Jonney Shih juga menyinggung tantangan industri yang tengah dihadapi, terutama terkait kenaikan harga memori dan kelangkaan komponen. Kondisi ini berpotensi memicu penyesuaian harga pada produk non-AI.

Meski demikian, ASUS berkomitmen untuk tetap menghadirkan kombinasi harga dan performa terbaik melalui efisiensi desain serta kolaborasi yang lebih erat dengan mitra rantai pasok.

Shih juga menilai kesepakatan tarif 15 persen antara Taiwan dan Amerika Serikat sebagai langkah positif, meskipun ketahanan rantai pasok tetap menjadi faktor kunci.

Bagi para penggemar Zenfone dan ROG Phone, keputusan ASUS ini tentu terasa mengecewakan. Namun dari sudut pandang bisnis, langkah tersebut dinilai realistis. Pasar smartphone global semakin jenuh, sementara dominasi pemain besar seperti Apple dan Samsung sulit digoyahkan.

Scr/Mashable




Don't Miss