Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa Dinilai Lebih Berbahaya dari Dugaan

02.03.2026
Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa Dinilai Lebih Berbahaya dari Dugaan
Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa Dinilai Lebih Berbahaya dari Dugaan

Gagasan memindahkan pusat data raksasa ke luar angkasa yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi krisis energi industri kecerdasan buatan (AI) kembali menuai kritik tajam. Sejumlah pakar menilai konsep tersebut bukan hanya mahal dan sulit diwujudkan, tetapi juga berpotensi membawa dampak lingkungan yang lebih buruk dibanding pusat data di Bumi.

Ide pusat data orbital sempat kembali mencuat setelah Elon Musk dan sejumlah tokoh AI menyebut luar angkasa sebagai jalan keluar dari tingginya konsumsi listrik pusat data AI. Bahkan, akhir Februari lalu, SpaceX, yang kini terafiliasi dengan perusahaan AI xAI, tercatat mengajukan dokumen paten ke Federal Communications Commission (FCC) terkait rencana konstelasi pusat data di orbit Bumi.

Dokumen tersebut mengusulkan hingga satu juta satelit pusat data yang mengorbit pada ketinggian 500 hingga 1.900 kilometer dengan orbit sinkron Matahari, guna memaksimalkan penyerapan energi surya. Namun, proposal itu belum menjelaskan detail teknis maupun kesiapan implementasi.

Skeptisisme datang dari kalangan akademisi dan mantan pejabat antariksa. Rebekah Reed, mantan wakil direktur NASA yang kini mengajar di Harvard University, menyebut gagasan tersebut sebagai solusi yang “prematur dan berisiko tinggi”.

Dalam tulisannya di Financial Times, Reed menilai asumsi bahwa orbit dapat menjadi jawaban cepat atas kebutuhan energi AI adalah keliru. Menurutnya, pusat data luar angkasa masih membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum layak dioperasikan.

“Biaya peluncuran harus turun di bawah 200 dolar AS per kilogram agar proyek ini masuk akal secara ekonomi. Saat ini, angka itu masih tujuh kali lipat lebih mahal,” tulis Reed.

Selain biaya, tantangan terbesar lainnya adalah perawatan sistem. Jika terjadi kerusakan chip atau perangkat keras, pusat data di Bumi dapat diperbaiki dengan cepat. Sebaliknya, pusat data orbital memerlukan misi servis antariksa yang kompleks atau harus menerima penurunan performa seiring waktu.

Risiko lingkungan juga menjadi sorotan. Satelit yang memasuki kembali atmosfer berpotensi melepaskan logam berat dan polutan ke lapisan atmosfer atas, dampak yang hingga kini masih diteliti secara intensif.

Penelitian terbaru dari Saarland University bahkan menunjukkan bahwa jejak karbon pusat data luar angkasa bisa melampaui pusat data di Bumi jika seluruh siklus hidup—mulai dari manufaktur, peluncuran, hingga pembuangan—diperhitungkan.

“Bahkan dalam skenario paling optimistis, biaya karbon sistem orbital dapat satu tingkat lebih tinggi dibanding pusat data darat, terutama akibat emisi dari peluncuran dan masuk kembali ke atmosfer,” tulis para peneliti dalam makalah pra-tinjau mereka.

Pandangan para pemimpin industri teknologi juga belum sepenuhnya sejalan. CEO Google, Sundar Pichai, memperkirakan pusat data orbital baru mungkin terealisasi dalam satu dekade ke depan. Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, secara terbuka meragukan kesiapan teknologi saat ini untuk mewujudkan konsep tersebut.

Reed menegaskan, skala konstelasi pusat data di orbit justru berpotensi memperparah kemacetan antariksa, meningkatkan risiko tabrakan, serta mengancam layanan vital seperti komunikasi, navigasi, dan pemantauan cuaca.

“Jika pusat data terus dipindahkan ke orbit demi memenuhi kebutuhan di Bumi, kualitas langit malam akan menurun dan risiko puing antariksa meningkat drastis,” simpulnya.

Scr/Mashable




Don't Miss