Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) mengawali pekan ini dengan nada pesimis. Pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi sesi Asia, logam mulia terpantau melandai di kisaran $5.075.
Meski sempat pamer kekuatan di akhir pekan lalu, dominasi Dolar AS dan bayang-bayang inflasi global kini kembali menjepit posisi sang aset safe haven.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, mencatat bahwa secara teknikal emas sedang berada dalam fase “kedinginan” alias bearish.
Berdasarkan pantauan pada timeframe H1, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tekanan jual yang masih sangat dominan.
Jika tidak ada sentimen positif yang cukup kuat untuk “membakar” semangat pasar, emas diprediksi masih akan betah berada di jalur koreksi.
Sisi fundamental pun memberikan tantangan serupa. Melambungnya harga minyak mentah dunia memicu kekhawatiran baru akan lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam.
Situasi ini membuat pasar berspekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Secara teori, emas memang kurang diuntungkan dalam kondisi suku bunga tinggi karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Namun, tidak semua data memojokkan emas. Sebenarnya ada “angin segar” dari sektor tenaga kerja AS. Data Nonfarm Payrolls (NFP) Februari mencatat penurunan lapangan kerja sebanyak 92.000, dengan tingkat pengangguran merangkak naik ke level 4,4%.
Meski data ini sempat memberi ruang napas bagi emas untuk menguat tipis karena Dolar yang melemah sesaat, nyatanya daya tarik obligasi pemerintah AS yang menawarkan return menarik masih jauh lebih menggoda bagi para investor.
Kini, radar pelaku pasar tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan meluncur pertengahan pekan ini. Data ini akan menjadi kunci penentu kebijakan moneter The Fed pada pertemuan 17-18 Maret mendatang.
Sebagian besar ekonom memprediksi bunga acuan belum akan turun dalam waktu dekat, kemungkinan paling cepat baru terjadi pada Juni atau Juli 2026.
Proyeksi Harga: Support & Resistance Secara teknikal, Andy Nugraha memproyeksikan target penurunan emas selanjutnya berada di area support psikologis $4.960.
Jika tekanan jual terus menekan, level tersebut menjadi gerbang utama koreksi lebih dalam. Sebaliknya, jika terjadi rebound atau koreksi naik, emas berpotensi menguji level resistance terdekat di angka $5.139.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor teknikal dan fundamental yang memengaruhi pasar saat ini, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek dengan kecenderungan melemah.
Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta dinamika geopolitik global yang dapat memicu perubahan sentimen di pasar keuangan dan komoditas, khususnya emas.
Scr/Mashable




















