Di tengah tekanan hidup urban yang makin padat dan paparan informasi digital yang nyaris tanpa jeda, Garmin Indonesia menggelar acara buka puasa bersama media bertajuk “Time to Reset”.
Lewat momentum Ramadan, Garmin mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan menyusun ulang prioritas hidup agar lebih seimbang, baik secara fisik, mental, maupun lingkungan.
Mengusung semangat wellness 2026, kampanye ini lahir dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap kesehatan. Kini, sehat tidak lagi dimaknai sekadar bebas penyakit.
Generasi muda Indonesia mulai memprioritaskan keseimbangan mental, digital wellbeing, aktivitas fisik teratur, nutrisi yang lebih baik, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Ramadan Jadi Momen Ideal untuk Reset Fisik dan Mental
Dalam acara tersebut, Garmin menekankan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menekan tombol “pause”. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan distraksi digital, mengatur ulang screen time, dan memperbaiki kualitas istirahat.
Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia, menyampaikan bahwa tren wellness bukan sekadar angka statistik.
“Ramadan adalah momen terbaik untuk menekan tombol ‘pause’ dan melakukan reset menyeluruh, baik untuk tubuh, pikiran, maupun kebiasaan kita terhadap lingkungan. Kami ingin teknologi membantu pengguna lebih hadir di momen nyata, memantau stres dengan bijak, melakukan detoks digital, dan kembali terhubung dengan alam,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi seharusnya mendukung kualitas hidup, bukan justru membuat seseorang terjebak dalam konektivitas berlebihan.
Peran Wearable dalam Mendukung Digital Wellbeing
Sebagai brand wearable global, Garmin menghadirkan berbagai fitur kesehatan yang dapat membantu pengguna memahami kondisi tubuh secara menyeluruh. Teknologi bukan lagi sekadar pelacak aktivitas, melainkan alat refleksi diri.
Beberapa fitur unggulan yang relevan dengan konsep “Time to Reset” antara lain:
- Advanced Sleep Monitoring, untuk memantau kualitas tidur dan fase istirahat secara detail.
- Body Battery, yang membantu pengguna memahami tingkat energi tubuh sepanjang hari.
- Stress Tracking dan Breathwork, untuk melatih pernapasan dan mengelola tekanan emosional.
Dengan data yang akurat, pengguna dapat mengambil keputusan yang lebih sadar kapan perlu beristirahat, kapan harus bergerak, dan kapan perlu menjauh dari layar.
Konsep ini selaras dengan meningkatnya praktik detoks digital, di mana masyarakat mulai membatasi konsumsi media sosial dan notifikasi demi menjaga stabilitas mental.
Wellness Tourism Jadi Tren Gaya Hidup 2026
Selain detoks digital, Garmin juga menyoroti meningkatnya tren wellness tourism. Liburan kini tidak lagi sekadar perjalanan rekreasi, tetapi menjadi sarana pemulihan diri.
Destinasi dengan konsep yoga retreat, meditasi alam terbuka, spa terapi, hingga eco-living semakin diminati. Masyarakat modern mencari pengalaman yang memberi ketenangan, bukan sekadar hiburan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk “reset” bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan di era modern yang penuh tekanan.
Menariknya, kampanye “Time to Reset” tidak hanya berbicara tentang kesehatan individu, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Garmin mendorong kebiasaan sederhana yang berdampak ganda baik bagi tubuh maupun bumi.
Contohnya seperti berjalan kaki, bersepeda, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, serta memilih aktivitas luar ruangan.
Kesehatan dan kepedulian lingkungan kini berjalan beriringan dalam konsep wellness modern.
Scr/Mashable

















