Hacker Ikutan Perang, Aplikasi Pengingat Salat Warga Iran Diretas

04.03.2026
Hacker Ikutan Perang, Aplikasi Pengingat Salat Warga Iran Diretas
Hacker Ikutan Perang, Aplikasi Pengingat Salat Warga Iran Diretas

Aplikasi kalender dan pengingat waktu salat yang digunakan jutaan warga Iran dilaporkan diretas dan dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan bernuansa propaganda di tengah eskalasi konflik militer.

Aplikasi tersebut, BadeSaba Calendar, yang digunakan lebih dari lima juta pengguna di Iran, mulai mengirimkan notifikasi tidak biasa pada Sabtu pagi waktu setempat, bertepatan dengan serangan militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah lokasi strategis di Iran.

Sekitar pukul 09.52 waktu Tehran, BadeSaba menghentikan pengiriman pengingat keagamaan rutinnya. Sebagai gantinya, aplikasi tersebut membanjiri ponsel pengguna dengan notifikasi bertajuk “Help Is on the Way” selama kurang lebih 30 menit, demikian dilansir dari Hackread.com, Selasa (03/03/2026) .

Sejumlah laporan media menyebutkan pesan-pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum, tetapi secara spesifik menyasar personel militer Iran. Notifikasi itu berisi ajakan agar prajurit meletakkan senjata dan bergabung dengan apa yang disebut sebagai gerakan pembebasan.

Beberapa pesan yang beredar antara lain menyerukan “hari penghakiman telah tiba” serta menjanjikan amnesti bagi aparat yang menghentikan perlawanan. Pesan lanjutan bahkan memperingatkan bahwa menyerah disebut sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri.

Investigasi awal menunjukkan peretasan tidak hanya menyasar satu aplikasi. Sejumlah situs media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, termasuk kantor berita IRNA dan ISNA, juga sempat tidak dapat diakses atau menampilkan konten bernada anti-pemerintah.

IRNA dilaporkan berhasil kembali online dalam waktu relatif singkat, sementara beberapa situs lain mengalami gangguan lebih lama.

Di tengah penyebaran pesan melalui aplikasi dan situs media, konektivitas internet Iran dilaporkan anjlok drastis. Lembaga pemantau lalu lintas internet global NetBlocks mencatat akses internet nasional turun hingga sekitar 4 persen dari kondisi normal.

Kondisi tersebut membuat layanan data seluler dan internet rumah nyaris tidak dapat digunakan, menyulitkan warga untuk mengakses informasi maupun berkomunikasi dengan keluarga.

Laporan media internasional, termasuk The Wall Street Journal, menyebut Israel sebagai pihak yang diduga berada di balik peretasan aplikasi BadeSaba. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait.

Insiden ini kembali menyoroti meningkatnya penggunaan perang siber sebagai alat dalam konflik modern. Sistem peringatan publik, aplikasi populer, hingga layar informasi kini menjadi sasaran strategis untuk menyebarkan pesan psikologis dan propaganda.

Pada 2023, aplikasi peringatan serangan roket di Israel juga pernah diretas untuk mengirimkan notifikasi palsu. Sementara itu, kasus peretasan layar publik pernah terjadi di Iran pada 2018 dan di Lebanon pada 2024, ketika layar bandara menampilkan pesan politik menggantikan informasi resmi.

Scr/Mashable




Don't Miss