Ambisi umat manusia untuk melindungi Bumi dari ancaman benda luar angkasa baru saja mencatatkan tinta emas.
Berdasarkan penelitian terbaru yang dirilis oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, misi penabrakan pesawat ruang angkasa ke asteroid Dimorphos pada tahun 2022 terbukti tidak hanya mengubah posisi sang asteroid, tetapi juga menggeser jalur orbit sistem asteroid tersebut saat mengelilingi Matahari.
Dikutip dari Engadget, Selasa (10/3/2026), ini adalah momen bersejarah di mana objek buatan manusia secara terukur mampu mengubah dinamika benda langit dalam skala tata surya.
Misi yang dikenal dengan nama Double Asteroid Redirection Test (DART) ini awalnya dirancang sebagai eksperimen “benturan kinetik”. Targetnya adalah Dimorphos, sebuah bulan kecil berdiameter sekitar 170 meter yang mengorbit asteroid induk yang lebih besar, Didymos.
NASA sengaja memilih pasangan asteroid biner ini karena posisi mereka yang tidak mengancam Bumi, sehingga sangat ideal untuk dijadikan laboratorium raksasa guna menguji apakah tabrakan fisik bisa menjadi metode pertahanan planet yang efektif di masa depan.
Hasil analisis lanjutan yang diterbitkan pada tahun 2024 menunjukkan dampak yang jauh lebih signifikan dari perkiraan awal. Tim ilmuwan JPL melaporkan bahwa tabrakan tersebut berhasil memangkas periode orbit Dimorphos terhadap Didymos sebanyak 33 menit.
Perubahan ini terjadi karena jalur orbit Dimorphos bergeser sekitar 37 meter (120 kaki) lebih dekat ke arah Didymos. Namun, temuan paling mengejutkan dalam studi terbaru adalah efek domino yang menimpa seluruh sistem asteroid tersebut secara kolektif.
Secara teknis, sistem biner Didymos dan Dimorphos membutuhkan waktu sekitar 770 hari untuk menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi Matahari. Pasca tabrakan DART, kecepatan orbit seluruh sistem ini berubah sekitar 11,7 mikron per detik.
Penulis utama penelitian ini, Rahil Makadia, menjelaskan bahwa pergeseran tersebut setara dengan 4,3 sentimeter (1,7 inci) per jam. Meski angka ini terdengar sangat kecil bagi ukuran benda langit, dampaknya dalam jangka panjang sangatlah krusial bagi keselamatan Bumi.
“Seiring berjalannya waktu, perubahan sekecil apa pun dalam pergerakan asteroid dapat menjadi penentu antara objek berbahaya yang menabrak planet kita atau justru meleset jauh,” ungkap Makadia dalam siaran pers resminya.
Akumulasi dari pergeseran sekecil beberapa sentimeter per jam ini, jika diproyeksikan dalam waktu bertahun-tahun sebelum potensi benturan terjadi, dapat menggeser posisi asteroid ribuan kilometer dari jalur tabrakan aslinya dengan Bumi.
Keberhasilan misi DART ini memberikan optimisme baru bagi komunitas ilmiah global. Hal ini membuktikan bahwa teknologi manusia saat ini sudah mampu memitigasi risiko bencana alam dari luar angkasa yang selama ini hanya dianggap sebagai skenario film fiksi ilmiah.
Dengan data presisi yang didapat dari JPL NASA, para ahli kini memiliki cetak biru yang lebih matang dalam merancang strategi pertahanan planet jika suatu saat ditemukan asteroid yang benar-benar mengarah ke Bumi.
Scr/Mashable

















