Kredibilitas GPT-5.2 Dipertanyakan, OpenAI Diduga Gunakan Grokipedia untuk Topik Sensitif

26.01.2026
Kredibilitas GPT-5.2 Dipertanyakan, OpenAI Diduga Gunakan Grokipedia untuk Topik Sensitif
Kredibilitas GPT-5.2 Dipertanyakan, OpenAI Diduga Gunakan Grokipedia untuk Topik Sensitif

Kehadiran model GPT-5.2 awalnya digadang-gadang oleh OpenAI sebagai puncak inovasi kecerdasan buatan yang didesain khusus untuk menunjang produktivitas profesional tingkat tinggi.

Dengan klaim sebagai model paling mutakhir untuk menangani tugas-tugas rumit, ekspektasi publik tentu sangat besar terhadap akurasi dan etika informasi yang disajikannya.

Namun, sebuah temuan mengejutkan dari investigasi terbaru yang dilakukan oleh The Guardian justru melemparkan keraguan serius terhadap kredibilitas model tersebut.

Bukannya menyajikan fakta yang objektif dari sumber tepercaya, GPT-5.2 kedapatan mengandalkan referensi dari Grokipedia, sebuah ensiklopedia daring yang terafiliasi dengan xAI, saat membahas isu-isu spesifik yang sangat sensitif dan kontroversial.

Mengutip Engadget, Senin (26/1/2026), investigasi tersebut menyoroti bagaimana ChatGPT secara terang-terangan menggunakan Grokipedia sebagai rujukan utama ketika menjawab pertanyaan mengenai keterkaitan pemerintah Iran dengan perusahaan telekomunikasi MTN-Irancell.

Tidak berhenti di situ, AI ini juga merujuk pada sumber yang sama saat menjelaskan keterlibatan sejarawan Inggris, Richard Evans, dalam persidangan pencemaran nama baik melawan penyangkal Holocaust yang terkenal, David Irving. Kejanggalan semakin terlihat ketika ditemukan pola yang tidak konsisten dalam pengambilan data.

The Guardian mencatat bahwa ChatGPT justru menghindari penggunaan Grokipedia saat menjawab topik kontroversial lainnya, seperti isu bias media terhadap Donald Trump, yang menimbulkan tanda tanya besar mengenai algoritma pemilihan sumber yang digunakan OpenAI.

Ironisnya, OpenAI merilis GPT-5.2 pada Desember lalu dengan ambisi besar untuk menguasai pasar korporat, mulai dari pengolahan data spreadsheet hingga penyelesaian proyek kompleks yang membutuhkan presisi tinggi.

Sementara itu, Grokipedia yang menjadi sumber kutipannya justru telah lama didera kontroversi karena terindikasi menyertakan konten dari forum-forum neo-Nazi dalam basis datanya.

Hal ini sejalan dengan hasil studi para peneliti di Amerika Serikat yang memperingatkan bahwa ensiklopedia berbasis AI tersebut sering kali mengutip sumber-sumber yang dicap “meragukan” dan “bermasalah”, sehingga sangat riskan jika digunakan sebagai rujukan fakta sejarah atau politik.

Menanggapi gelombang kritik yang muncul akibat laporan tersebut, OpenAI akhirnya angkat bicara dengan memberikan pembelaan terkait cara kerja model mereka.

Perusahaan menjelaskan bahwa GPT-5.2 secara otomatis melakukan pemindaian di seluruh penjuru web untuk merangkum berbagai sudut pandang yang tersedia secara publik bagi pengguna.

Meskipun mengakui penggunaan sumber-sumber tersebut, OpenAI mengklaim bahwa mereka telah menerapkan filter keamanan ketat yang dirancang khusus untuk meminimalisir risiko munculnya tautan yang mengandung bahaya tingkat tinggi atau konten eksplisit.

Namun, pembelaan tersebut tampaknya belum cukup untuk menenangkan para ahli etika teknologi dan pengguna profesional yang menggantungkan akurasi pada teknologi ini.

Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa secanggih apapun sebuah model bahasa besar, risiko “halusinasi” dan bias informasi masih menjadi celah yang sangat nyata.

Di tengah perlombaan senjata AI yang semakin sengit, integritas data seharusnya menjadi fondasi utama sebelum sebuah produk dilabeli sebagai alat profesional.

Kasus GPT-5.2 ini pun kini menjadi bahan diskusi hangat mengenai seberapa besar kita bisa mempercayai kecerdasan buatan dalam menyajikan kebenaran sejarah yang objektif tanpa campur tangan narasi ekstremis.

Scr/Mashable




Don't Miss