Dunia konstruksi dan pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan besar untuk bekerja lebih cepat namun tetap mempertahankan tingkat presisi yang absolut.
Tantangan utama yang sering muncul di lapangan adalah sulitnya melakukan pemetaan pada area yang sangat luas dengan topografi yang ekstrem, mulai dari perbukitan terjal hingga kawasan padat bangunan.
Kebutuhan akan data spasial yang akurat bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama agar proyek tidak meleset dari perencanaan awal yang berisiko membengkaknya biaya operasional akibat kesalahan data di fase awal.
Selama ini, metode konvensional yang mengandalkan pengukuran manual dengan titik kontrol berlapis seringkali menjadi hambatan utama dalam progres proyek. Selain memakan waktu yang sangat panjang, proses pengolahan datanya pun cenderung rumit dan rentan terhadap human error.
Risiko kehilangan detail penting pada area yang sulit dijangkau sering kali menurunkan efisiensi workflow secara keseluruhan, yang pada akhirnya berdampak pada keterlambatan deadline proyek. Di sinilah industri membutuhkan lompatan teknologi yang mampu mengintegrasikan kecepatan perolehan data dengan kualitas visualisasi yang nyata.
Menjawab tantangan tersebut, kehadiran inovasi dari SHARE S20 dan S100 membawa angin segar melalui integrasi teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) serta sistem SLAM (Simultaneous Localization and Mapping) berpresisi tinggi.
Teknologi ini mampu menghasilkan point cloud berwarna dengan tingkat akurasi hingga skala centimeter, memberikan gambaran digital yang sangat identik dengan kondisi asli di lapangan.
Keunggulan utamanya terletak pada kemudahan integrasi data, di mana hasil pemindaian dapat langsung diproses menggunakan perangkat lunak standar industri seperti Terrasolid hingga AutoCAD tanpa perlu melalui birokrasi pengolahan data yang berbelit-belit.
Jika menilik lebih dalam pada spesifikasinya, SHARE S20 dibekali dengan peningkatan sistem IMU (Inertial Measurement Unit) yang membuat pembacaan sensor menjadi jauh lebih stabil meski dalam kondisi pergerakan yang dinamis.
Sementara itu, SHARE S100 tampil sebagai monster performa dengan kemampuan pemindaian hingga 640.000 titik per detik dan jangkauan sensor mencapai 300 meter.
Dukungan sistem PPK (Post-Processing Kinematic) baik berbasis lokal maupun cloud memastikan bahwa setiap data koordinat yang diambil tetap konsisten dan valid, sehingga tim survei tidak perlu lagi melakukan pengambilan data ulang di area yang sama.
Keunggulan ini diamini oleh Halo Robotics, selaku distributor resmi SHARE di Indonesia, yang menekankan bahwa SHARE S100 memungkinkan tim di lapangan memperoleh data spasial yang komprehensif dalam waktu yang sangat singkat, bahkan untuk medan yang paling kompleks sekalipun.
Penggunaan SLAM scanner ini menjamin pengumpulan data tetap stabil di berbagai kondisi pencahayaan, baik di bawah terik matahari maupun di area minim cahaya, sehingga meminimalisir risiko adanya area yang terlewatkan (blank spot). Hal ini secara otomatis memangkas waktu kerja dari fase lapangan hingga menjadi model digital yang siap pakai.
Pada akhirnya, implementasi SHARE S20 dan S100 bukan hanya sekadar pembaruan perangkat, melainkan sebuah transformasi strategis bagi perusahaan konstruksi dan lembaga geospasial di Indonesia.
Di tengah persaingan industri yang kian ketat, penguasaan atas data spasial yang akurat dan cepat adalah kunci utama untuk memenangkan kepercayaan klien dan memastikan setiap pembangunan berjalan di jalur yang tepat.
Scr/Mashable


















